
Selamat membaca karyaku, semoga kalian menikmati setiap katanya, juga tidak bosan mendengarkan ceritanya.
Karya ditulis oleh satinih, dan dibacakan oleh dubber.
__________________________________
Dari sejak Anaya pingsan sampai koma beberapa hari, Janson lah yang paling banyak menangis karena Anaya tak kunjung tersadar dalam 3 hari terakhir dan ia diinfus selama itu, Setelah menghubungi Fariz majikannya Mulyo sinsupir kembali dan menawarkan Janson makanan berupa nasi goreng keju.
Tapi yang bergerak malah Aliza sepupunya, Mulyo memberinya nasi goreng juga karena ia meminta.
"Den, makannlah sedikit dari kemarin den Janson hanya makan sedikit nanti sakit lho," Mulyo menyedok nasi goreng itu dengan sendok plastik namun Janson melengos tidak mau makan dan menyenggol lengan Mulyo, membuat nasi itu tumpah ke lantai rumah sakit.
Seseorang Suster tengah mendorong pintu dari luar dan menemukan kekacawan di lantai berupa nasi yang berserakan.
"Ada apa ini, dilarang mengotori ruang rawat pak, harap bersihkan kekacauan ini. Rumah sakit ini sangat elit dalam kebersihan! anda tau? Cepat bereskan," Perawat itu memutari area serakan nasi goreng dan mulai memeriksa Anaya.
"Kaedaannya tidak koma lagi, bagaimana bisa 2 hari lalu kondisinya koma sekarang denyut jantungnya mulai normal.. " Perawat yang memeriksa melihat denyut jantungnya yang biasa kini ada kenaikan drastis dalam beberapa menit.
Janson yang mendengar kabar itu ikut melihat layar monitor, benar saja garis garis hijau merah dan biru itu mulai naik dalam wa ktu beberapa menit.
Jari Anaya mulai bergerak dan kini matanya yang tadi diam kini perlahan membuka..
"Anaya!! " Wajah Janson menjadi riang melihat Anaya yang bangun dari koma.
"Syukurlah pasien sudah pulih, sekarang hanya pemeriksaan inti oleh dokter, dan pak mohon ini dibersihkan sebelum lantainya lengket karena nasi ya.. "
Nasib Mulyo sangat tidak beruntung, ia hanya bisa mengangguk. Aliza tampak tidak terlalu memperhatikan karena masih fokus dengan nasi gorengnya.
...*****...
"Kondisinya baik dan ia sudah bisa pulang besok." Dokter melangkah keluar usai pemeriksaan.
Setelah Dokter keluar dari ruangan yang masuk selanjutnya adalah Mulyo yang akan membelikan makanan lain untuk Anaya.
"Anaya kau baik baik saja. Kan?" Janson menggenggam jemarinya sambil bertanya.
"Iya, aku baik baik saja.." Anaya melirik hal lain dan bergumam di benaknya.
'Sebaiknya aku tak menceritakan ini pada Janson, dan aku harus ke rumah Janson lagi membaca kisah nenek laras untuk Kak Xin, tapi apa yang harus ku lakukan untuk kembali ke rumah Janson dan membaca bagian itu?'
Janson mendengar ada troli yang datang dari lorong koridor.
"Pasien Anaya saatnya makan. Karena kami tidak memperbolehkan pasien makan makanan dari luar dulu, karena kondisi tertentu jadi silakan makanannya." Penyaji makanan itu sudah meletakkan makanan di meja dekat ranjang Anaya.
"Eh, pak mulyo tadi beli nasi goreng keju lho mau gak?" Tanya Janson.
"Sebaiknya aku makan yang dibawakan bibi tadi saja-"
"Tidak bisa!! " Sergah Janson.
"Tapi itukan memang peraturannya Janson." Anaya menggeleng.
"Hmm.. Ya sudah begini saja, kalau pak mulyo datang kita tukar makanan ya? Setuju." Janson mengulurkan jari kelingking.
"Apa boleh, Tidak akan ketahuan kah?"
"Kamu janji dulu Anaya."
"Baiklah, jangan salahkan aku ya nanti.. " Anaya menghembuskan nafas berat.
Dan begitulah yang terjadi selanjutnya, mulyo datang dengan membawa nasi goreng biasa yang dimasak khusus tanpa minyak tanpa bumbu untuk Anaya, ia telah tau sejak lama peraturan rumah sakit dan makanan yang mereka sajikan. Jadi itu adalah nasi yang digoreng dengan telur saja.
"Nah dek Anaya, paman belikan nasi goreng untuk Nak Anaya. Silakan dimakan." Mulyo menyodorkan nasi goreng itu pada Anaya.
Janson ikut mengangguk.
Anaya menerimanya, "Semoga tidak ada rasanya.. Biar sama seperti makanan yang disajikan rumah sakit ini.. " Gumamnya.
Anaya mulai memakan dan melahap nasi goreng pemberian mulyo sedikit sedikit, karena ia sedikit sesulitan mengunyah.
"K kenapa rasanya hambar begini sih?" Janson melirik ke arah mulyo dan Anaya.
"Kan sudah ku katakan, tak perlu ditukar dengan makanan pak mulyo, lagi pula nasi goreng bawaan pak mulyo juga sama tidak ada rasanya sih, jadi tak ada bedanya.. "
"Ueeekk aku mau muntah sebentar" Janson beranjak ke kamar mandi rumah sakit dan memuntahkan makanannya di toilet.
Mulyo dan Anaya yang melihat tingkah Janson tertawa bersamaan di belakangnya.
"Inilah tingkah Den Janson kala ceroboh seperti ini.. Benar benar lucu."
"Apa Janson seceroboh itu paman?" Tanya Anaya.
"Kalau dibilang Den Jamson lebih ceroboh dari ini, dia pernah memakan kue kering basi di rumahnya, dia tidak tau dan diare parah. Hingga dokter dibawakan ke rumah karena Den Janson yang sedang diare."
Anaya mengangguk mendengar penjelasan Pak Mulyo, waktu itu juga Janson pernah memakan kue basi di rumahnya juga. Tiba tiba Anaya punya ide bagus untuk itu.
'Aku bisa meminta Janson mengambil bukunya, tapi apa itu tidak berlebihan.. Ahh memotret halamannya.. Ya, aku akan meminta Janson memotret halaman halamannya.' Anaya menemukan cara yang bagus untuk bisa membaca buku itu secara tak langsung.
Mulyo beranjak berdiri dan meninggalkan Anaya di sana, sedangkan Aliza tampak ketiduran setelah kenyang oleh nasi goreng.
Anaya melanjutkan makannya.
Di kamar mandi.
"Kenapa aku harus bertukar makanan sih, ini tidak enak sekali.. Dan sekarang aku lapar."
Janson keluar dari kamar mandi dengan langkah tak bertenaga, Anaya terlihat menyapanya di kejauhan.
Janson mendekati kat dan duduk di sana, Anaya meraih plastik yang berisi nasi goreng untuk Janson.
"Ini makanlah, Pak Mulyo sudah membelikanmu nasi goreng baru, katanya ini untukmu saja. Aku tidak mengerti lalu mengiyakannya."
'Pak mulyo barusan bilang itu miliknya tapi karena Janson yang pasti kelaparan maka untuknya saja, sebenarnya Janson makan tidak sih selama aku pingsan? Kasihan pak mulyo dia harus keluar membeli naso goreng lagi, untuknya sendiri... Seusai sampai rumah aku akan mengganti makanannya.' Seru Anaya di batinnya.
Malam itu mereka berdua menikmati nasi goreng bersama sama, dan sesekali Janson melirik ke arah Anaya yang cantik dimatanya. Meskipun wajahnya masih pucat karena baru sadar, tapi Janson merasa lega melihatnya bangun.
"Ada apa? "
Sadar diperhatikan sejak tadi Anaya bertanya padanya.
Janson menggeleng lalu melanjutkan memakan nasi goreng.
.
.
.
*****
oke sampai di sini dulu ceritanya, Author akan memberikan biodata peran perannya, dari mulai Tokoh utama, Antagonis, sampai peran pembantu.
Nama : Anaya Prisila
Tanggal lahir : 12 September
Hobi : Menyanyi, nonton kartun dan baca komik.
Tinggi badan : 115 cm
Makanan kesukaan : Nasi goreng, kue kering coklat dan makanan manis.
Minuman kesukaan : Susu coklat.
Masa lalu : Tidak diketahui.