
Krompyang...
Semua benda benda yang berada di luasnya kamar indah berlapis kain putih yang tertata rapih, kini telah berhamburan entah kemana.
Ratu Shayana kini membuat rusuh di kamarnya sendiri, memecahkan semua kaca atau benda yang terbuat dari sejenisnya. Lalu menghancurkan benda benda tersebut secara bergiliran, padahal benda benda itu tidak mempunyai kesalahan apapun padanya, harganya pun tidak sedikit bagi kalangan rakyat biasa.
Namun Shayana tidak peduli seberharga apapun benda benda yang telah ia hancurkan, sepanjang ia bisa melampiaskan seluruh kekesalannya.
Di sisi lain Aula dalam istana tempat yang sudah jadi bekas acara penting penobatan sekarang hanya diisi oleh Shi ya, Raja dan Pangeran Kezi.
Keduanya terus menerus menenangkan Ayahnya, sembari berkata sepatah dua patah kata. Sisanya hanya gerakan tangan yang menenangkan dari kedua Anaknya.
Setelah Raja Vezi terlihat cukup tenang, Shi ya pamit kepada Kakaknya dan Ayahnya.
"Ayah, Kakak. Aku akan pergi dulu ya." Shi ya bertekuk lutut di depan Ayahnya, Raja Vezi hanya melihat selintas dan mengangguk. Sedangkan Kezi hanya berkata pelan.
"Pergilah-" Suaranya hanya keluar lirih, tatapannya juga tidak memandang Shi ya melaindan terus menatap kepada wajah Ayahnya yang masih sedih suram.
Shi ya mulai melangkah meninggalkan ruang Aula dalam istana, pakaian putih panjangnya terlihat berkibar seiring langkah kakinya.
Rambut panjangnya tersanggul rapih, penampilan yang sangat anggun. Saat melawati pelataran luar istana Shi ya di berikan sambutan hormat oleh prajurut yang sesekali melintas atau yang sedang berjaga jaga.
Bahunya memang tidak tertutup kain, terbuka memperlihatkan kulit putih bercampur kuning pudar namun mengkilap di timpa cahaya mentari dari sisi kanannya.
Shi ya tidak memakai baju gaun, namun celana abu abu yang terbuat dari kain wol halus, dengan sabuk hijau melilit di pinggang kecilnya. Kontras sekali kedua warna tersebut, tentu saja keluarga kerajaan sangat mewah, di sudut sudut pakaian yang Gadis belia itu memakai pakaian yang ada benang emas yang merangkai pakaian tersebut. Dan beberapa hiasan di pakaian yang di letakan emas juga.
Shi ya berbelok ke lorong istana, sekarang tengah menaiki tangga satu bersatu dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang wajar.
Krompyang, prangkk..
Suara itu masih terdengar jelas dari arah luar, Shi ya masih mendengar kata kata Ibunya yang berupa ancaman sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam melihat keadaan Ibunya.
"Lihat saja Vezi, Aku akan merebut tahta yang kau berikan kepada Kezi Putra kesayanganmu itu. Dan Aku tidak peduli walau harus membunuh Anak itu!!" Shayana berkata lantang di dalam kamarnya sambil melemparkan lagi vas yang bunga besar ke bawah menurutnya kamar itu sunyi, dia tidak menyadari Shi ya tidak sengaja mendengar ucapan tersebut.
Shi ya yang ingin membuka pintu sejak tadi mendadak menghentikangerakan tangannya lalu terdiam seketika di sana. Ia membiarkan amarah Ibunya berlangsung di depannya.
"Ya, aku juga harus menghasut Shi ya, agar melakukan ini untuku, tapi dia terlalu membela Kezi tentunya. Aku punya cara agar dia mau melakukan ini secara suka rela... Haha, ini adalah pembalasan untuk tamparanmu padaku Vezi, lihat saja nanti." Shayana masih membeberkan rencananya di dalam kamarnya, mata Shi ya benar benar terbelalak sedarang. Ia mundur perlahan lahan dari depan pintu berbalik. Saat berbalik vas bunga tersenggol dan pecah.
Shi ya dengan secepat mungkin menuruni anak tangga, kembali ke lantai bawah. Shayana akhirnya menoleh ke arah pintu.
"Ada yang mendengar apa yang aku ucapkan, huh aku harus melihatnya.."
Kebetulan dari lorong lain setelah Shi ya pergi, ada dayang Shayana yang hendak naik tangga. Dia menyapa ramah Shi ya.
"Putri, apakah yang terjadi?" Tanya Dayang itu.
"Tidak ada, aku akan ke ruangan Pangeran Kezi sekarang." Shi ya hanya berkata datar, dia meneruskan langkahnya yang terburu buru.
"Astaga, kok Vas cantik ini pecah? Kenapa ya?" Dayang itu bergumam pelan, bersamaan dengan itu Shayana keluar dari kamarnya.
"Dayang!" Shayana memanggil Dayang itu.
Dayang itu segera berbalik mendengar panggilan dari Shayana.
"Iya Ratu, ada perlu apa?" Dayang itu bertanya.
Sementara Shayana mengerahkan kemampuan Fikirannya, Dayang itu tengah berfikir juga.
'Apa sih yang terjadi, sampai vas ini pecah, padahal harganya kan tidak murah. 2000 keping uang, kalau saja aku memilikinya, aku bisa membeli pakaian baru untuk putriku. Kalau saja Ratu mau memberinya suka rela, tapi itu kan mustahil bukan?' Benak Dayang itu berkata panjang di batinnya.
Shayana berekspresi datar, percuma membaca isi hati itu yang hanya berfikir Vas saja dan lagi Dayang itu memikirkan Putrinya.
'Bukan dia yang mendengar aku bicara, batinnya tidak berkata seperti apa yang aku fikirkan. Jadi siapa yang mendengarnya?' Batin Shayana yang heran.
"Dayang, siapa yang kau lihat di anak tangga sebelum naik?!" Tanya Shayana.
"Hah?" Dayang terkejut dengan pertanyaan aneh itu.
"Jawab saja!" Shayana memaksa.
Dayang hanya bisa patuh pada perintah Shayana, karna sejak awal dia yang mengangkat Dayang itu bekerja khusus untuknya.
Dayang itu tidak bisa berbohong, dia tau akan bernasib seperti apa jika berbohong kepada Ratu yang satu ini.
"Saya melihat Putri anda yang mulia Ratu. Saya tidak tau kenapa Putri terburu buru.. Saya juga tidak tau kenapa Vas yang mahal ini bisa pecah. Kalau vas vas pecah ini untuk saya saja bagaimana?" Dayang itu bertanya datar dan lirih.
"Boleh, ambilah sebanyak mungkin di dalam. Kau tak boleh mengambil perhiasan tapi benda benda yang pecah saja." Jawab Shayana juga datar.
Dayang bersorak gembira. ' Tidak apalah walau pecah, aku bisa menjualnya ke penjual barang bekas. Harganya juga masih mahal 20 Keping uang, kalau di ada 1 Kilo. Kalau berkilo kilo akan dapat banyak juga.' Fikir Dayang itu.
Sementara Dayang itu membersihkan vas yang pecah, Shayana tengah berkutat dengan Fikirannya sendiri.
"Artinya aku tak bisa memanfaatkannya, aku tidak tega jika harus membunuh putriku sendiri. Tapi dia tidak berani melaporkanku bukan? Aku harus memastikannya." Sebelum Shayana benar benar pergi.
"Ratu, boleh saya ambil kalau ada vas yang belum pecah?" Dayang itu berkata lagi pada Shayana.
"Iya," Shayana tidak peduli kalau Dayang itu matre, yang penting iyakan saja.
Dayang seperti inilah yang sangat bermanfaat baginya. Ia bisa memiliki setiap emas yang ada di seluruh negri hanya dengan memanfaatkan informasi.
Dayang itu bergembira saat melihat kedalam ruangan kamar, "astagaa.. Banyak sekali yang pecah, eh" Matanya menangkap vas bunga cantik di ujung ruangan yang masih utuh.
"Akhirnya aku bisa membeli baju baru. Anakku juga bisa ku selolahkan di sekolah yang baik. Ohh ini keberuntungan." Gumqmnya, segera memasukan semua pecahan vas dan membungkus vas utuh dengan kain alas tempat tidur Shayana. Lantas ia membereskan kekacauan kamar. Setelah selesai ia pergi untuk membawanya keluar diam diam.