
Mobil yang berjalan cepat di jalan raya mendadak sedikit oleng lalu berputar tanpa kendali hingga berhenti persis saat Galih menghentikan putaran kemudi.
Bekas ban terlihat di beberapa meter ke belakang karena gesekan ban dan aspal.
Dengan nafas yang menderu cepat dan jantung yang hampir saja mencelus Galih menoleh ke belakang dari kursi kemudi.
"Apa yang kau lakukan heh, Janson!! Mau membuat kita celaka?" Teriak Galih pada Adiknya yang bisa bisanya berteriak sampai mengagetkan Galih yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.
Janson juga wajahnya sama pucatnya saat mobil mereka berputar tak terkendali seperti itu, kepala Janson terasa ikut berputar mengikuti arus putaran tadi.
"Maaf kak, aku hanya senang melihat kakak yang sudah sadar, apakah luka kakak masih terasa sakit kak?" Jawab Janson sambil menatap ke depan, tatapannya belum menjadi normal kerena kepalanya masih terasa sekali berputar putar.
"Begitulah, lukanya sudah membaik." Kalimat Galih barusan terlalu datar. Sejak awal perjalanan ini dimulai ia memang tidak suka dengan semua ini. Apalagi Galih tidak pernah bilang sebelumnya pada orang tua mereka akan melakukan perjalanan ke luar kota.
Galih mengacak acak rambutnya yang kusut di pagi ini, tanpa acara mandi di pagi hari dengan menggunakan Jas dan kemeja, ia pemuda yang terlihat sama seperti rakyat biasa. Hanya dengan mengendarai mobil mewah itu tak cukup untuknya.
"Kau tau Janson, kakak sebenarnya tak terlalu suka bekerja. Ini hanya kewajiban saja." Galih memulai percakapan.
Janson tampak memperhatikan kalimat kakaknya, selama ini Janson hanya sedikit saka bercakap cakap dengan Galih. Tidak leluasa bercanda dan mengobrol.
Selama ini Janson selalu berada di titik terluar dari kehidupan Galih, tak pernah sekalipun waktu membiarkan perasaan Janson berubah yang ada semakin buruk dan penuh prasangka.
Hari ini dengan memulainya percakapan dan meluapnya fikiran Galih membuat Janson ingin tau rasanya dipuji puji oleh setiap orang.
Janson selama ini merasa terasingkan dan tidak leluasa berada di luar zona nyamannya.
"Apa yang kakak fikirkan, kakak selalu dipuji oleh semua orang termasuk Ayah kan? Sedangkan aku, aku hanya menjadi sebuah ledekan bagi orang orang." Celetuk Janson.
"Jadi itu yang kau lihat dari kakak?" Tanya Galih padanya.
"Yup, aku selalu tak bisa terima itu, aku juga ingin mendapatkan pujian. Dan tidak dibanding bandingkan terus menerus." Jawab Janson sembari mengepalkan tangannya.
"Kalau itu jalani saja kehidupan biasamu, jadi dirimu sendiri Janson. Jangan pernah berfikir untuk jadi orang yang kau saingi." Balas Galih sembari menoleh dari kursi depan.
"Apa kau tidak menyadari jika Ayah menyayangimu lebih daripada Aku, dia sampai meluangkan semua waktunya untuk memarahimu dan juga menengokmu saat sakit, yang tak pernah Ayah lakukan saat aku seusiamu. Dulu Ayah selalu bekerja lembur dan tidak pernah memperhatikanku, dia selalu punya jawaban atas apa yang ia lakukan, alasan yang sangat banyak. Akupun sangat tau, kalau Ayah kita hanya mencintai satu orang saja di dunia ini, Yaitu Ibumu Janson." Jawab Galih.
"Kakak tak pernah bercerita hal ini. Sejak kapan?" Janson tak menyangka akan mendengar cerita yang seperti ini dari Kakaknya, padahal ia sangat dipuji puji banyak orang di kota bansar, namun sepertinya Janson keliru jika ia Fikir Fariz hanya menyayangi Galih.
Fariz justru menyayangi Janson dibanding Galih.
"Dari mana kakak tau hal ini?" Tanya Janson.
"Kakak melihatnya sendiri, Ayah kita selalu bersedih saat menatap Foto Ibumu. Sejak kau lahir ke dunia dan beberapa saat setelah itu Ibumu meninggal, Ayah selalu bersusah payah merawatmu, dan menjagamu hingga tak membiarkan kau jauh dari pandangannya. Hingga membuatmu merasa terkekang bukan?" Galih tersenyum mengejek, lalu menghembuskan nafasnya.
"Ibumu juga adalah bagian yang paling penting untuk Ayah kita, ia yang pertama kali Ayah cintai." Jelas Galih.
"Kakak tidak tau namanya, usia kakak dulu masih kecil." Galih menggeleng.
Yang Janson tau adalah wajah Ibunya saja, dan ia tak tau nama Ibunya, di dalam perputaran memory juga sama, ia hanya ingin tau siapa nama Ibunya.
Janson memunduk menatap lantai mobil, sejak seminggu lalu mengetahui bahwa Wajah ibunya seperti itu dan tinggal entah di bagian mana ia mengerti bahwa harapan untuk mengetahui nama dari Ibunya akan berjalan sulit untuknya.
"Janson."
"Ya."
Galih menatap adiknya yang Asyik menatap telapak tangannya.
"Mata Ibumu dan matamu sama sama berwarna biru kemilau, sangat cantik."
Galih yang masih muda waktu itu saat usianya masih seusia Janson mengingatnya sangat jelas kalau Ibu Janaon memang cantik. Ia juga terpesona oleh Mata milik Ibunya Janson.
Sejak Ibu Galih juga ikut bekerja di luar kota bersama Ayahnya, hanya Ibu tirinya yang ada dirumah yang memperhatikannya dan merawatnya dengan baik, terkadang Galih selalu bercanda tawa dengan Ibunya Janson dibandingkan dengan teman temannya.
Tetapi hubungan itu kandas kala Ibunya Janson harus meninggal tepat di depan mata Galih dan Fariz, mereka ada di rumah sakit yang sama kala Ibu Tiri Galih melahirkan Janson, itu adalah kali pertamanya yang sangat tak terlupakan.
Sedikit yang diketahui oleh Galih yang tak pernah ia ceritakan, yaitu umur Ibunya Janson.
Galih kecil pernah iseng mananyai umurnya Ibu Janson, tak pernah sekalipun mendapatkan jawaban. Ia hanya bilang lebih muda dari Ibunya Galih tentunya, namun Galih tak bisa mengetahui berapa persisnya, hanya tebakannya saja.
"Apakah Ibuku memang secantik itu Kak?"
"Ya, Kakak saja sampai menganggapnya Ibu kandung dulu, karena Ibuku juga mulai seperti Ayah. Selalu pulang dan pergi, tak memperhatikanku sama sekali."
"Kakak pastu kesepian kan?" Tanya Janson.
"Tidak selalu, ada pekerjaan yang selalu Kakak Fikirkan. Lagi pula ada kenangan buruk yang Kakak alami setelah kematian Ibumu, dan Kakak tak mau membicarakannya sekarang. Kakak hanya ingin meluruskan permasalahan di antara kita saja Janson,"
"Hanya Itu?" Janson menatap Galih yang sekarang berbalik menatap jalanan sembari menyetir lagi kendaraan mereka.
"Ya, hanya itu." Jawab Galih cepat.
Mobil merah yang sudah tergores oleh binatang binatang di area hutan berkabut kini melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda beberapa menit, angin membuat dedaunan beterbangan dan dedaunan jalan tampak tersingkir oleh laju kendaraan milik Galih.
Anaya dan Xin masih tertidur pulas setelah semalaman tak dapat tidur karena suara terus berdatangan dari luar mobil mereka.
Tinggal beberapa puluh kilo lagi mereka akan tiba di pintu gerbang hutan, yang telah membatasi hutan dan pedesaan selama puluhan tahun.
Sinar mentari pagi sangat membuat Galih terhibur, di sepanjang jalan ia telah merasa lega hingga tersenyum senyum sendiri.