TO THE DEAD

TO THE DEAD
Jemputan Shi ya



Shi ya sudah menghabiskan beberapa teh hijau di teko yang berwarna putih, Wanita cantik dan anggun itu kini tampak kesal sudah setengah jam ia menunggu kedua anak-anak itu. Mereka tak kunjung datang untuk mendengarkan cerita tentang asal muasal Anaya yang menjadi siluman. Entahlah Apakah mereka remaja yang sedang dimabuk cinta atau mereka sedang asik-asikan ngobrol saja membiarkan Shi ya meminum teh seorang diri.


" Anak-anak kecil itu mereka yang benar - benar membuatku kesal sekali! Kapan mereka akan ke sini. Aku sudah setengah jam menunggu mereka hanya duduk diam sambil menghabiskan 8 sampai 10 teh hijau di atas meja mereka tapi kedua anak ana itu tak kunjung datang juga. Mau mereka apa sih aku menjadi patung di sini huh!" Shi ya kali ini benar-benar tidak sabar menghadapi Anaya dan Janson.


Sementara mereka berdua di ruangan bawah tersebut tengah kebingungan, Janson tidak mau menaiki ratusan tangga itu lagi ia memilih tetap berada di dekat ruangan bawah penjara dibanding harus menaiki ratusan tangga.


Shi ya bangkit dari duduknya kemudian bertepuk tangan sebanyak dua kali, tanda itu cukup untuk membuat beberapa prajuritnya berdatangan.


Prajurit itu memasuki ruangan dan menghadap Shi ya yang menjadi pemimpin kerajaan atau ratu di wilayah itu. Mereka bertekuk lutut di hadapan Shi ya sambil berkata.


"Kami menghadap Ratu." Prajurit Prajurit itu juga berpakaian serba putih sama seperti pakaian Shi ya bsdanya kulit mereka coklat bukan kuning mengkilat, hanya kulit kuning mengkilat yang bisa dikategorikan keturunan bangsawan di dunia siluman.


Shi ya memerintahkan prajuritnya untuk menjemput Anaya dan Janson.


"Jemput mereka berdua, bawa mereka ke hadapanku sekarang juga." Perintah Shi ya kepada para prajurit itu.


prajurit-prajurit itu seketika mengangguk mendengar perintah dari majikannya mereka segera balik kanan dan melangkah meninggalkan ruangan itu.


"Bisa-bisanya mereka enak enakan di sana mereka pikir aku sedang apa karnaval? Aku ingin menceritakan hal yang sebenarnya kepada mereka mereka malah asyik-asyik di ruangan penjara Padahal tempat itu bukan tempat rekreasi. Hermawan sudah memberikan ke pesan agar mereka diberikan penjelasan sedikit tapi anak itu. Hah bikin pusing saja aku tidak tahu harus berkomentar apa!" Shi ya melangkah meninggalkan ruangan itu dan ia memutuskan berjalan-jalan di luar untuk meredakan rasa kesalnya.


...*****...


Anaya da Janson masih bercakap-cakap di sana untuk mengusir rasa takut akibat raungan raungan dari ruangan penjara tersebut.


"Janson kita menaiki tangga saja ya" ucap Anaya.


"Tidak aku lelah, aku tidak mau menaiki tangga." Janson masih tidak mau menaiki tangga itu.


"Ya sudah kalau kau tidak mau aku akan menaiki anak tangga ini sendirian." Anaya memalingkan wajahnya dan mulai melangkah namun Janson tidak ikut melangkah bersamanya.


" kau tau Janson aku juga malah menaiki anak tangga ini tapi kita tidak punya pilihan lain kita harus mendengarkan cerita dari Shi ya dulu." Anaya berhenti sejenak dan memalingkan wajahnya lagi manatap Janson.


Johnson tetap tidak bergerak dari sana. Janson bahkan tidak mendengar kalimat Anaya.


15 menit membujuk Janson, para prajurit yang ditugaskan oleh Shi ya telah datang ke hadapan mereka berdua.


tetapi Janson seketika menggeleng kencang atas sambutan mereka berdua yang ramah.


"Kenapa Janson Ada Apa Denganmu?" Anaya bertanya kepada Janson.


"Aku bilang aku tidak mau menaiki anak tangga Lagi Anaya." anak lelaki itu menjelaskan alasannya dan sembari menggeleng atas tawaran kedua prajurit itu. Anaya yang menepuk dahi.


" Baiklah kalau begitu, apa yang harus aku lakukan apakah harus menggendong kalian berdua? Kita harus segera menghadap Ratu Shi ya sekarang juga." Prajurit itu Berkata sambil membungkukkan badannya karena menghormati Anaya dan Janson.


" Ya tentu, aku akan kesana tapi kau harus gendong Anaya juga menggendong ku!" Janson berkata ketus sembari bersedekap.


Anaya menyikut lengan Janson dengan Sedikit keras, Anaya berbisik memberitahunya.


"Janson kau tidak boleh begitu kita disuruh Shi ya untuk kembali keatas mengobrolkan sesuatu hal tentang diriku." Ungkapan Anaya sama sekali tidak digubris oleh Janson karena dia sedang memikirkan sesuatu.


" Ayolah, Ayo Janson." Anaya mencoba membujuk Janson sekali lagi.


Anaya mulai memegang lengannya Janson, Anaya terus membujuknya. Namun tidak ada reaksi atas apa yang Anaya lakukan. sementara Prajurit itu hanya memperhatikan mereka berdua yang tengah berdebat kecil. sesekali mereka tersenyum kecil.


Melihat betapa mengelikannya kedua anak usia 9 tahun dan 12 tahun ini. Salah satunya merajuk dan salah satunya membujuk.


Beberapa waktu lagi berlalu akhirnya Janson berbicara sepatah kata.


"Baik, baiklah Anaya kita keatas sekarang." Janson mulai melangkah ke arah Prajurit yang sudah berjongkok untuk mempersilahkan Janson ada di punggungnya.


Sementara Anaya melangkah pelan dan bertanya terlebih dahulu kepada Prajurit itu.


" Apakah kami merepotkan kan?" Tanya Anaya kepadanya, Prajurit itu menggelengkan kepala merasa tidak keberatan atau direpotkan oleh keduanya.


Anaya yang mengangguk mendengar jawabannya. Sekarang Gadis itu sudah sempurna digendong oleh kedua Prajurit itu tepatnya Janson dan Anaya yang digendong.


Prajurit itu sedikit keberatan mengangkat Anaya dan Janson. Sangat tidak terduga berat mereka lebih dari yang mereka bayangkan.


" Oh aku salah! Kukira berat mereka 20 kg sampai 30 kg. Tapi ini berat sekali seperti menggendong beras yang beratnya mencapai 100 kg" Benak kedua prajurit itu berpikiran hal yang sama.