TO THE DEAD

TO THE DEAD
Kunci yang hilang



Anaya mengingat sesuatu. Sebelum ia pingsan selama 3 hari lalu, satu set kunci di rumahnya tergeletak di depan garasi yang terkunci.


Sekarang gerbang rumah itu tampak terkunci lagi dan garasi rumahnya tampak terbuka begitu saja, pemilik rumah sedang tidak ada di tempatnya, dan lagi seluruh satu set kunci itu ada padanya.


"Karena Hermawan yang menuntut banyak, aku rugi besar dan namaku tercemar karenanya, aku harus mencari ruang itu di rumahnya.." selama dua hari ia tidak menemukan barang berharga apapun, kini tersisa satu hari baginya. Istingnya berbicara karena mungkin Anaya akan datang dengan beberapa orang ke rumahnya.


Pria itu kini memeriksa bagian akhir yang berada di balik tangga lantai satu, disana ada pintu besi dan beberapa tombol serta lekukan cap jari di lekukannya.


"Sandi, aku harus membukanya sebelum Anaya sampai di sini, tapi apa kira kira sandinya, apakah.." Pria itu menekan angka 19 - 9#.


"Sandi salah mohon atur ulang, atau konfirmasi melalui sidik jari.. "


Suara komputer tiba tiba muncul di sana menahan langkah pria itu membuka pintu besi.


"Yang benar saja, jelas aku akan ditolak dan pintu ini mungkin akan menyerangku. Hermawan itu walaupun sudah tiada tapi masih saja membuatku kesal!" Gerutunya lalu melemparkan satu set kunci itu ke tanah dan meninggalkan area itu, setelah keluarpun ia berhasil membawa kunci gerbang milik Anaya supaya bisa kembali ks sana.


Dari balik tangga tempat pria tadi meninggalkannya, pintu besi tampak kembali seperti semula dan tidak ada pengaman apapun di sana.


"Dasar pak Hans, apa lupa aku masih ada di sini melindungi rumahku!! " Xin bersedekap.


Xin kembali ke dalam kediamannya ruang harta dan ia beberapa kali berkeliling di area rumah itu, karena segel yang ada di rumah masih terpasang ia belum bisa melangkah keluar rumah sama sekali, ia hanya bisa melindungi Anaya di area sekitar rumah saja. Selebihnya adalah terserah pada takdir.


Xin sering melatih kemampuannya dengan berkali kali menyayat dirinya dengan darah Adiknya secara tak langsung, jadi Anaya takkan terkena efeknya. Namun latihan itu takkan pernah menandingi apapun. Xin harus berusaha dengan lebih baik lagi untuk bisa mencapai level sekelas hantu berusia puluhan tahun yang lebih kuat darinya, hal itu yang membuat Xin harus berduel kekuatan dengan berbagai jenis hantu.


Salah satunya adalah genderuwo yang tinggal di sebelah rumah Bi Imah tetangga Anaya. Xin mencoba berbicara dengannya.


"Hei Pak Wo!" Xin berteriak dari jendela rumah.


Genderuwo itu menoleh dengan mata merah bercampur hitamnya.


"Ada apa hantu kecil sepertimu memanggilku!? " Genderuwo menjawab sambil mengejek.


"Huh, jangan meremehkan aku! Ayo kita berduel untuk memastikan siapakah yang lebih kuat!!" Xin berseru lebih dulu sembari melompat dengan semangat ke arah tembok tempat Pak Wo bersemayam.


"Baiklah, aku akan berduel denganmu tapi jangan menyesal ya.. Aku akan kesana.. "


Genderuwo itu mendarat mengikuti gerakan Xin yang mendarat di sebelah dinding.


Genderuwo itu menatap percaya diri seakan bilang pada lawannya Xin bahwa dia akan mengalahkan hantu kecil itu. Namun Xin tampak tenang dan malah menganalisis genderuwo dihadapannya dengan kemampuan matanya.


'Genderuwo ini memiliki kelebihan di cakarnya, tapi gerakannya lambat. Keunggulan lainnya terletak pada kekuatannya yang besar, aku kalah kuat dan hanya mempunyai sihir dari darah.. Apa yang bisa kulakukan untuk menaklukannya..? Ohh begitu,..' Batin Xin.


Genderuwo memulai serangan dengan cakarnya yang tajam dan panjang, Xin melompat kebelakang menghindar.


"Kau hantu cilik yang cepat, tapi kau kalah kuat.. Hahaha.. " Ledek Genderuwo.


"Apa dia bodoh mengejek di situasi begini, apa rencananya kali ini.. " Gumam Xin. Xin menahan tubuhnya dengan tangannya yang memegang rerumputan untuk menahan dirinya terlempar ke tembok.


'Selain kuat dan punya cakar, dia juga mempunyai sihir walau tidak sebanyak sihirku.. ' Batin Xin.


Xin memanjangkan kukunya dengan sihir, kini ia punya senjata yang sama dengam genderuwo. Meski panjang kukunya lebih kecil tapi ujungnya sengaja ditajamkan.


Xin kali ini berlari cepat ke arah Genderuwo didepannya lalu melayangkan cakar di setiap tangan genderuwo tersebut.


Genderuwo berteriak kesakitan akibat cakaran Xin.


"Hei, hantu cilik kau cerdik juga ya"


"Hei, jangan panggil aku hantu aku bukan hantu tahu!! Wujudku ini asli, dengan jiwa yang murni!! Sedari lahir aku memang berwujud hantu!!"


"Eh, kau hantu sejak lahir.. Itu berarti kau bukan hantu jika begitu, sebutanmu adalah siluman.. Hanya bangsa itu yang bisa mengusai sihir sejak kecil.. Aku akan berhenti menyerangmu jika kau bangsa siluman, apa boleh kau menunjukan inti jiwamu?"


"Untuk apa? "


"Kau tau nak, penghuni di rumah ini adalah separuh siluman dengan kekuatan luar biasa. Aku adalah hantu yang diperingatkannya sejak ia membeli rumah ini.. Jika aku berani menginjakan kakiku di sini mereka akan memastikan aku sirna.. Aku hanya bisa diam walau usiaku puluhan tahun di atas mereka.. Aku sudah patuh dan mengabdi kepada mereka sejak saat itu, aura mereka amat menakutkan dan besar, bahkan mengalahkan aura salah satu siluman terkuat di sini.. Yaitu Yawana." Genderuwo menjelaskan sambil berbagi informasi kepada Xin.


"Benar, kau sangat pandai menyimpulkan juga rupanya." Genderuwo itu tergelak tertawa.


Xin berbalik lalu berfikir sejenak, "Kalau kau sudah mengabdi apa kau bisa mengajarkanku cara bertarung atau memperkuat sihir misalnya?" Xin bertanya.


"Haha, tentu karena aku dibolehkan menginjak tanah di rumah ini maka aku akan mengajarkanmu dengan tangan terbuka dan hati senang, ngomong ngomong aku tidak merasakan aura kedua orang tuamu, kenapa bisa begini? Dan yang tersisa dari rumah ini hanya gadis kecil itu. Apa ada kaitannya dengan siluman kuat yang baru bebas dari hutan Hitam?"


"Memang benar, ini ada kaitannya dengannya.. " Xin langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan genderuwo tadi.


"uapa.. Berkaitan, maksudmu dia penyebab kedua orangtuamu meninggal?"


"Ya, dan kini hanya tersisa jiwanya saja.. "


"Sebenarnya apa kaitannya dengan makhluk mengerikan seperti itu, "


"Aku tidak tau Pak Wo, kedua orangtuaku menolak menjelaskan apapun padaku.. "


"Sejak kau lahir, "


"Ya, aku lahir bersamaan dengan jiwa adikku karena tubuhku sudah lebih dulu dihancurkan."


"Ya ampun, ini lebih mengerikan dibanding yang aku kira.. "


"Apa Pak Wo tau apa yang sebenarnya terjadi?" Xin balik bertanya.


"Yah, aku tau. Ini informasi dari siluman Yawana penguasa di kompleks ini. Kalau ratu dari penguasa hutan dunia siluman sedang mengadakan sayembara."


"Sayembara?"


"Ya, bagi kami para Hantu kelas teri ini sangat tidak disebutkan dalam kriteria untuk mengikuti lomba, lomba itu hanya untuk kelas siluman macam Yawana. Tapi siluman tua itu tak mau ikut campur dengan apapun sejak kedatangan orang tuamu, dia justru bersikap aneh dan netral dengan makhluk yang melanggar aturan yang dia buat karena satu alasan. Yawana tau tentang siapa yang diburu oleh Ratu dari hutan dunia siluman sana,"


"Siapa, siapa yang sedang diburu olehnya Pak Wo.. "


"Yqng sedang diburu adalah keluargamu,"


"Apa?! Bagaimana mungkin?"


"Ceritanya panjang, jadi untuk beberapa tahun ini jangan menjadi kuat dulu, beruntung auramu ini sama seperti hantu normal, jika tidak semuanya akan kacau seperti orang tuamu yang memiliki aura besar melebihi hal hal yang ada di sekitarnya. Aku ingin tau namamu hantu kecil."


"Namaku Xin."


"Nama yang bagus."


...******...


Biodata.


Nama : Janson Bram.


Anak dari Fariz, putra kedua keluarga itu.


Lahir pada tanggal 5 Januari.


Bunga yang dibenci : Bunga berbau harum.


Bunga yang disukai : Yang berbau busuk.


#Alasannya tokoh ini tidak menyukai bunga adalah karena Alergi terhadap sari bunganya. Alergi Janson sangat parah ketika ia mencium bau bunganya apalagi memegangnya.


Selain Alergi, mata kebiruan Janson terlihat mencolok jika dibandingkan anggota keluarga lainnya. Ini Artinya masih ada. hal yang tersembunyi.


Hobi Janson : Tidak Ada.


Janson menyukai Anaya.