TO THE DEAD

TO THE DEAD
Nasehat Rey



Rey bersama Anak anak serta kuda yang mereka tunggangi berhenti di tepi jalan raya, Rey dan mereka telah melewati bukit bukit kebun teh yang masih sepi di pagi hari.


Jalan raya juga terlihat sepi, mungkin karena perlahan lahan para penduduknya mulai pindah karenab kabar kalau Kota Kecil ini terkutuk, dan ditambah lagi bencana 40 tahun silam, tidak mungkin mereka tinggal di sini lagi karena rasa khawatir dan takut.


"Kenapa jalanan ini sepi, biasanya kota Bansar jalanannya tidak se lengang ini!" Janson melihat sekitarnya.


"Entahlah Anak anak, kalian jangan menghawatirkan hal hal yang tidak perlu, kita sebaiknya menunggu saja Kakek Heng kembali ke sini dan kita akan sama sama mengantar kalian kembali ke rumah." Rey berseru dari atas kuda, ia melepaskan tali kuda dan membiarkan kuda itu memakan rerumputan segar beberapa malah memakan daun teh, Anaya dan Janson yang melihat kuda itu memakan daun teh menyuruh Kuda itu memakan daun lain.


Rey memperhatikan sekilas lalu beralih memberikan kuda kuda itu air karena kuda kudanya pasti kehausan setelah berlari lari di hutan perbatasan.


Heng di atas sana sudah terlihat akan segera turun dari atas bukit.


Kuda Heng digebah menuruni bukit bukit yang yang hijau dan sejuk, angin sepoi sepoi memainkan beberapa anak rambutnya.


"Heng, apa yang akan kita lakukan sekarang. Kita akan menemani anak anak pulang ke rumahnya bukan?" Rey bertanya, sepertinya Heng tidak berniat mengantar Anak Anak sampai tujuan.


Benar saja Heng menggeleng, "Tidak, kita tidak akan mengantarnya sampai perkotaan hanya sampai di sini saja. Rey desa kita terlalu rapuh tanpa kita, sebaiknya kita segera kembali ke desa pedalaman.


"Ta, tapi anak anak!!"


"Ada Quen kan, biarkan dia yang mengurus sisanya. Kita kembali saja." Heng berseru pelan.


"Haaah, baiklah.. Anak anak, kalian berhati hatilah di jalan pulang nanti ya. Ceritakan saja semua yang kalian ketahui. Jangan dipendam srndiri." Rey terakhir memandang Dian, karena ia tau kalau Dian suka memendam perasaannya sendirian.


"Iya Nek, Dian akan berterus terang. Trimakasih karena Nenek dan Kakek sudah menjaga kami selama setahun." Lanjut Dian.


"Iya, sama sama. Lagi pula Nenek dan Kakek berasa memiliki keturunan setelah kalian datang, dan kini kami melepaskan anak anak pergi ke dunia yang lebih besar dan luas, kalian akan banyak belajar hal baru dan mungkin tidak akan kembali, ini masa masa perpisahan orang tua dan anak mereka." Rey menatap dengan mata berkaca kaca.


"Tidak akan seperti itu Nek, Anaya akan sering sering berkunjung jika perlu, sebulan nanti kami akan berkunjung. Jadi Nenel dan Kakek tidak kesepian berada di desa." Anaya berseru semangat.


"Kau anak yang baik dan perhatian ya, mulai sekarang kau harus lebih waspada nak. Jangan mementingkan aku, masalah ini masih jauh dari kata selesai. Aku sih berharap ini tidak akan terjadi, tapi itu pasti akan datang padamu dalam waktu dekat. Saran Nenek padamu, Anaya jadilah lebih kuat dari sekarang!"


Anaya bengong atas kalimat Rey barusan.


"Eh, kenapa Anaya harus jadi lebih kuat? Apa maksudnya?"


"Cepat atau lambat pemimpin terbesar dari kerajaan siluman akan datang padamu, jika kau tidak bersiap siap dan lemah. Kau akan binasa di tangan mereka. Itu yang aku khawatirkan." Benak Rey.


Anaya menatap wajah penuh keriput Rey. "Anaya, Anaya akan berusaha Nek." Anaya berkata pelan.


Heng di sebelahnya hanya memperhatikan percakapan, setelah Rey selesai berbicara Heng memberinya kode agar meninggalkan tempat itu, merek kembali ke pedalaman hutan, dan kali ini mereka memutar jalan.


Rey menaiki kuda bersama Heng, sedangkan kuda putih pasangan kuda Janson itu ditinggal, dengan Dian yang masih duduk di atasnya.


Perasaan Anaya saat ini kacau, karena kotak pemberian Amelia yang ia dapatkan belum juga terbuka, ditambah lagi mereka butuh waktu seharian untuk tiba di depan kompleks Janson.


Dan kuda kudanya perlu dikasih makan.


Nona, kami akan menahan lapar selama sehari, jadi kami akan berlari seharian. Nenek Rey memberikan Kami ramuan tahan lapar dan kami masih kenyang sampai sore. Kami akan membawa kalian pulang.


Suara itu entah datang dari mana, tiba tiba terdengar begitu jelas. Kemudian ketika suaranya menghilang.


Kuda kuda Janson dan Dian menjadi bersuara dan berlari dengan kencang di tepi tepi jalan yang lengang, berketipak tipuk suara kakinya bergesekan dengan aspal jalanan.


"Eehh Hei, ada apa dengan kuda ini!! Apa mereka jadi gila??"


"Entahlah Kak Dian, tapi sepertinya kuda kuda ini berlari untuk mengantar kita pulang!"


"Tapi jika begitu tidak dengan tiba tiba juga kali, aku hampir saja terjatuh tadi. Untungnya Nenek rey memasang tali kekangnya dengan erat jadi tidak jatuh deh."


Dian selama ini tidak pernah naik kuda dan ia tidak pandai mengendalikan kuda, makanya supaya dian tetap duduk di situ, kaki dian diikat dengan tali kekang supaya tetap di posisinya.


"Aku baik baik saja," Jawab Anaya pelan.


...******...


Keadaan di rumah Janson saat ini tengah bising dengan suara tawa dan bunyi dua sendik yang tengah beradu di meja makan.


Di meja itu hanya ada mereka bertiga, Aliza sedang sibuk dengan camilannya, sedangkan Paman dan Kakak sepupunya tengah berbincang satu sama lain.


Telepon genggam berdering di saku mereka berdua, memotong pembicaraan.


"Halo, ada apa?" Jawab Fariz.


"Pak kami ingin menyampaikan kalau Cliet luar daerah sedang meninjau saham kita di daerah,-"


Tuuut.. Tuuuttt..


"Hallo, Hallo pak! Sial, Pak boss mematikannya lagi. Pasti ini sedang sibuk dengan keluarganya. Selalu saja begitu membuat karyawanya repot, dan sekarang asisten direktur yang dibuat repot!! Kenapa aku harus pakai pakaian petani sih!! Mana banyak serangga lagi, Aduh gatel.. " Gerutunya.


"Dasar Asisten satu ini cerewetnya minta ampun, jika tidak kumatikan dia akan terus berbicara hal yang tidak penting!!" Umpat Fariz.


Sedangkan Galih di percakapan teleponnya.


"Hallo sayang, kamu apa kabar?"


"Hmm.. "


"Kok jawabnya begitu sih, jawab yang bener dong aku gak paham nih kamu bilang apa!!"


"Iya.. "


"Kok cuma iya, ya apa jawab dong!! Kapar kamu gimana!?"


"Baik sih, "


"Nah, gitu kek dari tadi.. Kamu itu kok kayak robot sih, masa cuma jawabnya Hm, iya, Baik sih, Sebenernya kita itu pacaran gak sih aku bingung!! Dulu PDKT kamu gak gini--"


Tuuut Tuutt..


"Kayaknya aku harus putusin dia deh, dia kayaknya udah gak suka padaku!!"


Di telepon pacarnya Galih..


"Ha, hallo sayang.. Kok malah mati sih dia ini ya suka matiin secara sepihak, padahal kan aku masih kangen dengerin suaranya. Dia gak keluar rumah dan gak masuk ke kantor, gimana aku gak khawatir coba. Tapi kok aku denger gosip ya kalo aku sering cerewet gini tar dia mikir aku gak suka lagi sama dia, dasar dia itu!! Orang dipeduliin kok gitu!! Mana pulsa aku dikit, uang juga udah nipis di perhatiin malah dicuekin!!" Pacarnya galih pun sadar ia tidak akan mau berhubungan jika Galih tidak peka.


"Dasar lelaki!!"


Di rumah Fariz.


"Dasar perempuan!!" Gumam Galih.


"Kakak dan Om sedang apa?"


"Biasa Aliza urusan kantor," Jawab Fariz.


"Iya, kantor kok. " Jawab Galih.


"Iya, iya, " Ternyata Aliza sama seperti keduanya sama sama tidak peduli, cuek dan tidak peka.