
Anaya kembali ke atas bukit dengan raut wajah kesal atas apa yang ia dengar dari Dian selama mereka mengobrol di tepi sungai sana. Padahal Anaya sudah peduli pada Dian tapi nyatanya kepedulian Anaya sama sekali tidak dihargai oleh Dian makanya dia marah, muka Anaya sampai merah padam akibat ia merasa kesal.
"Anaya ada apa dengan wajahmu?" Janson yang sedari tadi asyik menyantap sarapan namun ia tetap memperhatikan sekitar. Ia tetap bersikap ramah pada Anaya dan menunjukan rasa perhatiannya.
Anaya menoleh dan menatap Janson dari jarak jauh, Janson yang sedari tadi ditatap terus mendekati Anaya.
"Anaya,"
Belum sempat Janson berbicara Nenek Rey menyergahnya. "Anak anak, sebentar lagi matahari akan terbit! Kalian tidak mau di tinggal seorang diri di dalam hutan kan?" Mendengar seruan Rey, Anaya dan Janson kompak menuruti perkataan Rey mereka mengangguk angguk.
Anaya segera berbalik untuk pergi ke tepi sungai dan mandi, Janson akan menunggu gilirannya ketika Anaya sudah kembali ia akan pergi untuk mandi.
Anaya kembali menuruni bukit dan melewati jalanan kerikil tersebut, kali ini dia mempercepat langkahnya agar segera sampai di tepi sungai.
Janson kini diatas bukit hanya bisa menunggu Anaya kembali dan segera mandi kalau Anaya sudah selesai.
Janson menoleh ke arah Rey yang tengah sibuk mengemasi barang barang mereka untuk perjalanan yang dilakukan segera.
"Nenek Rey." Janson mendekati Rey yang sedang mengemas. Rey tidak memperhatikan Janson ia masih sibuk dengan apa yang ada didepannya.
"Ada apa Nak? " Rey menjawabnya pelan.
"Begini, kenapa kita buru buru begini melakukan perjalanannya? Apa tidak terlalu cepat, bisakah menikmati perjalannya. Desa di sana hanya ada sedikit penduduknya kenapa nenek dan kakek tidak pindah ke kota bansar saja yang lebih ramai? " Janson bertanya sembari memberi saran.
"Karena disana tempat kelahiranku. Aku takkan pernah pergi walaupun nanti aku yang tinggal disana seorang diri. Apa kau mengerti Nak, kenangan disana terlalu indah untuk ditinggalkan.
Janson yang mendengar jawaban dari Rey barusan menjadi diam saja, ia tidak mengerti tapi memutuskan berhenti bertanya.
Di tengah jalan menuju tepi sungai, Anaya kebetulan berpapasan dengan Heng yang membawa kotak besar berisi ikan, tentu saja bau amis ikan tercium sampai keluar kotak, kotak itu tidak kedap bau.
"Ukh.. Bau apa ini?" Anaya menutup hidungnya agar tidak menghirup bau itu lagi. "Ini bau ikan nak! Kau tidak tau ya?"
Anaya menggelenggkan kepalanya. Heng terlihat tertawa didepannya.
"Bau ikan memang seperti ini nak, tak usah kau tutupi hidungmu karena kau bisa melatih penciumanmu itu, lalau terlalu banyak menghirup beraneka macam bau kau pasti akan terbiasa dan dapat membedakan bebauan itu. Itu bisa berguna saat kau tersesat atau sedang mencari seseorang." Heng berkata seperti itu lalu ia melangkah dan meninggalkan Anaya sendiri di tepi sungai yang alirannya semakin mengalir hingga ke hulu lautan luas, Tatapannya Anaya masih tertuju pada Heng hingga sosok Heng hilang dibalik pepohonan hutan yang lebat disekitar bukit.
Setelah tidak terlihat siapapun lagi Anaya mengalihkan pandangannya ke arah air sungai yang terlihat jernih dengan ikan ikannya yang terus berenang kesana kemari.
"Melatih penciuman?"
Anaya memikirkan perkataan Heng sambil berendam di aliran sungai yang dingin, sinar mentari pagi mulai muncul di ufuk timur, hanya saja sinarnya masih kecil dan di atas langit sana masih tampak biru kehitam hitaman hanya terlihat satu dua bintang yang terlihat dilangit, Anaya menyandarkan kepalanya di batu dan masih menatap langit.
"Hah aku lelah dengan semua hal yang aku tau, ingin rasanya membuang semua masalah yang ada dan hidup bebas." Anaya menarik nafas panjang lalu berendam di aliran sungai.
*******
Lalu setelah matahari benar benar. memunculkan ujung cahayanya, Anaya mulai melangkah dengan pakaian barunya dan kembali ke atas bukit tempat semua orang berkumpul.
"Eh Anaya kau sudah selesai?" Dian datang di sebelahnya.
Anaya hanya diam dan tidak menanggapinya ia melangkah terus dan tidak peduli pada Dian yang bertanya barusan.
"Ada apa dengan Anak ini, kenapa dia jadi bertingkah aneh." Dian menatap bingung ke arahnya yang bersikap dingin, jika diingat lagi Anaya sama sekali tidak pernah seacuh ini pada orang lain. Ia merupakan anak yang perhatian ke banyak orang, meskipun orang itu baru ia temui hari itu juga.
Anaya berjalan cepat dengan langkah yang tidak biasa.
"Aku muak disalahkan terus!! Kalau tidak mau dihibur ya sudah.. " Anaya bergumam ketus, Dian tidak mendengarnya karena ia sibuk untuk mandi pagi di sungai yang jernih.
Ketika sampai di atas bukit Janson menyambutnya dengan ramah seperti biasa, membuat luka yang ada di hati Anaya berangsur tertutup kembali. Janson adalah satu satunya orang yang bisa mengobati suasana hatinya yang sedang buruk.
Dengan ocehannya yang menyrnangkan dan tawaan Janson yang lucu membuat anaya lupa pada lukanya yang menganga.
"Gimana leluconku itu Anaya, apakah bagus?" Janson bertanya pada Anaya.
"Iya bagus, bagus sekali malah aku senang mendengarnya." Anaya tersenyum.
"Nak kau tidak mandi? Kita akan segera berangkat setengah jam lagi, setelah aku menghabiskan sup udang luar biasa ini tentunya." Heng berseru.
"Iya Kakek, Anaya aku mau mandi dulu ya." Janson berseru.
"Untuk apa aku tau, kalau mau mandi mandi saja dasar!! " Anaya balas berseru. Janson hanya menjawab dengan kekehan.
...ΩΩΩΩΩΩ...
Quen terbangun dari tidurnya dan melihat keadaan dengan teropong kecilnya, ia melihat Rombongan Rey akan melanjutkan perjalanan menuju kota bansar, kali ini rute yang mereka pilih adalah hutan mati dekat perbatasan dunia siluman. Artinya bisa saja bahaya menghampiri mereka.
"Celaka Heng ternyata memilih rute berbahaya itu!! Untuk apa srbenarnya?? Dia tidak akan memanggil para siluman bukan untuk berlatih? Tapi Anaya kan dia cuma manusia biasa aku tidak merasakan aura siluman darinya!" Quen bergumam.
Ia langsung bergegas untuk kesana terlebih dahulu sebelum rombongan untuk memastikan tidak ada siluman yang berbahaya sedang melintas disana. Quen membawa barang barangnya dan menggebah kudanya yang sudah memakan rumputan dengan lahap dan banyak.
Rambut pendeknya berkibar kibar diterpa angin hutan, bunga bunga dan jalanan berbatu telah ia lewati.
Kini Quen hanya perlu sesuatu untuk segera sampai di tempat tujuan, kini Quen berlomba dengan waktu 30 menit sebelum mereka memulai perjalanan dari bukit sana.
Terlepas dari sulitnya perjalanan, ditambah lagi dengan para pesuruh yang ditugaskan mengawasi Quen membuat rencana yang Quen susun menjadi sia sia saja, karena Ratu Shayana akan tau dengan cepat, lewat alat pelacak befupa racun Quen sebenarnya tidak bisa mengeluarkannya tanpa mengancam nyawa, Jika berhasilpun Quen akan pingsan dan koma, setelah itu maut akan menjemput dirinya dengan cara alami. Begitulah konsekwensi dari mengeluarkan penyadap dalam dirinya.
Memang ada cara lain yang bisa dilakukan, tapi hanya orang bergelar bangsawan darah biri yang bisa menghancurkan penyadapnya.