
Janson hendak mendorong pintu toko roti tersebut, namun belum sempat memegang gagangnya sebuah tangan menahannya memegang gagang pintu tersebut. Sebuah seruan turut keluar bersamaan dengan tangan itu menghalanginya.
"Hei kenapa di dalam mobil tadi kau berisik sekali dengan temanmu itu, mengganggu sekali tau!!" Aliza menahan langkah Janson dengan mencegahnya memegang gagang pintunya. Apa boleh buat Aliza melakukan itu karena sudah teramat kesal dengan drama yang ditunjukkan mereka berdua.
"Sudahlah, Anaya kan sedang trauma. Aku tau betul rasanya karena itu juga pernah terjadi denganku bukan." Janson menyingkirkan tangan Aliza yang menghalanginya masuk.
"Kalau kau sih aku sudah sering melihat rasa traumamu itu karena apa, bunga wangi iya kan?" Celetuk Aliza.
"Ukh.. " Janson yang sudah memegang gagang pintunya menoleh cepat.
"Jangan bicarakan itu, aku tidak tahan akan bau wanginya. Aku trauma dengan itu dan jangan pernah ucapkan lagi kata bunga membuatku kesal.!!" Janson mendorong pintu dan memasuki toko roti.
Aliza menatap Janson dengan tatapan datar, fakta bahwa Janson alergi dan trauma dengan wewangian bunga apapun kecuali bunga bangkai ia harus mengakui bahwa sepupunya ini aneh. Bola mata Aliza berputar tidak peduli.
"Lantas kenapa kau berencana mengumpulkan bunga berbau wangi hah? Bukannya kau trauma ya.. " Celetuk Aliza.
"Aku melakukannya karena itu penting tenang saja bukan aku yang menyiapkannya aku hanya menyusun rencananya." Seru Janson.
"Kau yang merencanakannya, untuk? Ooh aku tau tidak usah disebut lagi pasti anak itu.. Apa kau tau kita diusir dari toko sebelumnya katena dia. Sebanarnya ini tidak kusukai namun aku tak membencinya hanya saja kesal mengapa bisa kita diusir gara gara rumor.. Memangnya pemikiran mereka sudah mati apa hingga tidak bisa memandang seauatu secara biologis. Secara keseluruhan cerita mereka hanyalah berujung tuduhan semata benar kan, tidak ada bukti.. " Aliza ikut memasuki toko roti, dia yang mendorong pintunya.
"Ya, kau benar tapi kenapa kau yang masuk sekarang?"
"Ingin melihat lihat saja, aku mau roti yang ada rasa susunya. Itu adalah keluaran terbaru toko ini dan hanya ada 15 kemasan." Seru Aliza yang mulai berlari.
"Apa!! " Janson ikut berlari karena ingin membeli roti tersebut, ia juga penggemar roti keluaran terbaru toko ini.
"Hei dari mana kau tau itu keluar dari hari ini.. Alizaaa!! " Teriak Janson.
Sopir yang memperhatikan percakapan hanya geleng geleng kepala melihat tingkah dua sepupu ini.
Di dalam sana Janson tengah melihat lihat semua bahan makanan yang ada dan berbaris, Ia dan Aliza sepupunya sudah selesai memilih roti yang akan mereka beli kini toko roti itu menjual makanan lainnya selain roti, ada beberapa mie instan, dan makanan ringan. Janson dan Aliza juga membeli telur dan beberapa gula seduh.
"Apa ini tidak terlalu banyak ya." Keluh Anaya setelah mereka selesai berbelanja untuk keperluan Anaya.
Melihat beraneka barang yang dibeli dua orang temannya, membuatnya merasa tidak enak.
"Aku akan membayarnya ya Janson, tapi aku harus ke gudang rumah dulu." Seru Anaya.
Janson menggeleng kencang "Tidak perlu, ini untukmu gratis. "
"Tapi, aku merasa tidak enak sudah membuatmu melakukan ini."
"Sebagai gantinya ceritakan tentang masalahmu dengan siluman itu. Aku akan menganggapnya lunas." seru Janson serius, itu juga yang dilihatnya dari wajah Aliza.
Mobil itu kembali berjalan dan kini ke arah berlawanan dari rumahnya Janson, Sebuah dering telephone terdengar dari arah depan, sopir itu memasang aerophone di telinganya. Sekejap kemudian mobilnya di tepikan sejenak.
Tertera di layar teleponenya nama seseorang tertera di sana. "Hallo.. "
"Non Aliza kenapa tidak bilang pada Bi Ina kalau mau pergi?" Sopir itu berbincang sebentar dengan kami.
Aliza terlihat membeku seketika saat ditanya demikian oleh Supir suruhan Kakaknya Janson. "A.. Aku sudah bilang kok, Bibi mungkin tidak dengar kali, haha.."
"..haih, Non apa ingin mencari alasan lagi, setiap keluar rumah tanpa izin kami yang selalu kena getahnya Non, apalagi Non belum bilang sama orangtua Non ataupun Bi Ina yang memang menjadi pengasuh Non Aliza dan Juga Den Janson, Den Galih pasti dipaksa kalian kan sampai bisa keluar. Padahal ini Jadwalnya Non Aliza dan Den Janson buat Les di rumah."
Supir itu mengomeli anak anak majikannya karena lagi lagi hanya orang kecil yang kena dampak seperti ini.
"Pak mulyo jalan saja, tak ilusah banyak protes. Nanti Kak Galih yang akan bilang pada Papa dan Mama. Dan les itu aku gak suka gurunya menyebalkan!!" Gerutu Aliza.
Mendengar pernyataan sepupunya Janson ikut mengangguk sepakat kali ini, guru les mereka terlalu kaku dan tidak menarik sama sekali.
"Aku bosan mendengar materi yang diberikan seperti itu. Jadi malas sekali mengerjakan tugas tugasnya." Janson ikut menimpali tanggapan Aliza tentang guru les mereka.
"Kok kalian begitu sih, gak baik lho Non Aliza, Den Janson. Orang tua kalian sudah berusaha menemukan guru yang nyaman agar kalian bisa belajar walaupun dirumah. Setidaknya hargai dia."
"Pak mulyo tidak mengerti, orangtuaku tidak seperti itu. tapi memang benar kami harus belajar dan les dengan guru supaya bisa setara dengan lulusan sekolah dasar, Mama dan Papa gak ngijinin Aliza dan Janson ke sekolah karena fisik kami terlalu lemah, bahkan untuk sekedar jalan jalan ke taman luar. Mama dan Papa terlalu sibuk dengan bisnis membiarkan kami sendiri di rumah. Kami butuh teman juga selain sepupu sendiri." Aliza menunduk.
"Jadi itu sebabnya Kak Aliza pergi tanpa izin?" Anaya menoleh menatapnya yang kini mulai menatap Anaya.
"Iya, apa kamu marah kami kabur dari rumah?" Tanya Aliza.
"Tidak juga, dulu aku juga pernah melakukan hal yang sama saat merasa kesepian di rumah. Diam diam aku menemui meli dan teman teman di sekolahku di taman dekat kompleksku." Jawab Anaya.
"Hm, itu masih sedikit berbeda dariku ataupun Janson yang memang dikurung dalam rumah." Celetuknya bersamaan dengan tawa.
Melihat suasana kembali hangat sopir itu menoleh dan duduk kembali di kursi kemudi, "Nanti saja menjelaskannya aku tak ingin merusak mood Non Aliza yang sedang baik. Memang konfliknya dengan orangtuanya sangat tidak tentu juga." Gumam mulyo.
Mobil itu kembali menyala dan melaju di jalanan dengan trotoar yang cukup bagus.
Suara lalu lalang mobil di luar sana diselingi dengan tawaan yang ada di dalam mobil, setelah usai mengobrol dan suasana seketika menjadi hening kala sopir mengendarai mobil selama setengah jam dari jarak tempuh 5 kilo meter dari toko roti.
Diliriknya lagi Aliza dan kedua anak di kursi belakang sedang tidur sambil bersandar pada kursi dan terlihat nyenyak dalam tidurnya.
Di kejauhan angin mulai menghembuskan apa saja dari mulai dedaunan, debu dan juga beberapa benda ringan.
Mobil itu mengerem dan berhenti tepat di pintu gerbang rumah Anaya. Sopir itu meregangkan badannya sejenak dan hendak melangkah keluar untuk skedar membeli minuman hangat, nampaknya cuaca di luar sudah mulai mendung lagi. Musim hujan memang jarang adanya matahari jadi wajar saja jika sering terjadi hujan lebat.
Sopir menyalakan pengaman di mobil untuk jaga jaga jika ada pencuri. Sementara hingga dia kembali lagi ke sana.
*****
Rintik hujan perlahan lahan turun dan membasahi setiap tempat yang dilewatinya, irama suara hujan terdengar saling berirama dan kencang, hingga mampu terdengar dari segala tempat.