TO THE DEAD

TO THE DEAD
Penjelasan 2



Yu jian telah meloncat dan sempurna mengacungkan pedang tipis nan tajamnya ke arah Rey yang sedang memegang tombak perak, benda itu telah beberapa menit mencoba memecahkan Bola Cristal yang di buat Yu Jian.


Rey Refleks melindungi kepalanya dengan tombak tersebut, hantaman mendarat di atasnya hampir mengenai kepalanya. Kedua benda tajam itu saling bergesekan juga mengeluarkan bunyi decit nyaring.


"Beraninya kau menghancurkan Bola Cristalku!" Yu Jian memperlihatkan ekspresi marahnya pada Rey dengan terus mendorong Wanita lanjut itu. Tenaga Yu Jian tidak sebanding dengan tenaga Rey tentunya.


'Uhk.. Aku terus terdorong mundur! Tapi Rey tidak ingin kalah dari siluman ini!' Seru batinnya.


Gesekan antara senjata masih terus terjadi hingga tiba ketika Anaya keluar dari dalam bola Cristal raksasa yang kini tinggal separuh saja.


"Nona.. Nona hentikan!" Anaya berlari di antara pecahan kaca, membuat kakinya terluka hingga mengeluarkan darah.


Ada uluran tangan yang menariknya dari belakang, " Anaya jangan kesana! Berbahaya." Tangan yang menggenggam pergelangan tangannya dengan erat itu rupanya milik Janson.


"Lepaskan!" Anaya kini tertahan oleh kekhawatiran Sahabat dekatnya, Anaya ingin melerai Yu Jian supaya tidak menyerang Rey dan Quen lagi.


Beruntung dalam situasi mendesak tersebut sedang berlangsung, derap langkah cepat terdengar derap kaki mendekat ke arahnya. Quen meloncat di antara dahan dahan. Wanita itu mencoba mengirimkan serangan agar Rey temannya berhenti di serang.


Yu Jian berpengalaman untuk melawan musuhnya dengan cara bersamaan. Maka mudah saja bagunya untuk melumpuhkan keduanya dalam waktu singkat.


Serangan Quen kepada Yu Jian tentu saja meleset, dari awal Yu Jian memang mengawasi gerak gerik serangannya dari awal mereka bertarung.


'Gerakan yang lemah dan mudah di baca. Aku hanya butuh beberapa detik saja untuk melumpuhkannya.' Angin kencang masih menyelimuti keadaan mereka.


Sadar kini tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan keduanya, Anaya terpaksa mendorong Janson sejenak. Ia melakukannya demi menyelamatkan Rey dan Quen dari amukan amarah Yu Jian.


Pedang kini hanya berjarak dua meter dari depan Rey dan Quen yang sudah terduduk lumpuh juga kaku.


Yu Jian telah melumpuhkan keduanya.


Anaya berlari secepat yang ia bisa, setelah sampai di depan pedang ia merentangkan tangannya sembari berteriak.


"HENTIKAAN!" Suara Anaya melengking dan juga berdengung sampai menyakiti pendengaran Yu Jian walau sesaat. Seruan itu juga berhasil menahan serangan Yu Jian walau sebentar.


"Nona kau tidak boleh menyakiti mereka! Kumohon dengatkan aku, dengarkan dulu penjelasanku!" Tangan Anaya masih menghalangi jalan Yu Jian.


Rey di belakangnya meringis dibagian pipinya akibat serangan dari Yu Jian yang ganas tersebut. Apalagi bagi Quen yang sekarang hampir tidak sadarkan diri.


Yu Jian tercengang dengan adanya Anaya di antara pertarungan kekuatan tersebut.


Yu Jian refleks berhenti mengambang di depannya, senjatanyapun ikut berhenti. Beberapa inci lagi tidak dihentikan maka Anaya juga akan terluka.


Slash.


Yu Jian berpindah tempat saat itu juga.Wajahnya memperlihatkan keheranan.


"Kenapa Anaya? Ada apa denganmu nak?" Tanya Yu Jian dengan raut yang amat serius menatap Gadis di depannya. Anaya kembali meneteskan beberapa butir air beningnya.


"Jangan bunuh mereka!" Anaya berkata lagi.


"Kenapa? Kau mengenal mereka hah?" Yu Jian sekarang bingung dengan keadaan memutuskan berhenti sejenak.


(Ep 42 - Pekan Raya)


...*****...


"Jadi mereka Manusia baik baik." Setelah penjelasan kecil barusan, Yu Jian langsung meminta maaf kepada Rey dan Quen. Demi menebus kesalahannya barusan, dengan suka rela Yu Jian memberikan tumpangan berupa Dua kuda putih dan Dua kuda coklat milik Istana.


"Kalian boleh memelihara makhluk ini di dunia manusia. Tenang saja kuda kuda ini sama Normalnya layaknya kuda di dunia kalian, hanya saja kekuatan keempat kuda ini melampaui batas tersebut. Pastikan kalian selalu menjaganya." Kalimat terakhir Yu Jian yang satu itu tidak pernah ku lupakan malah akan ku ingat selalu.


Aku membantu Rey berdiri, kedua kakinya patah saat ini. Entahlah keadaan Quen. Mungkin kondisinya sama buruknya. Karna Janson Lelaki ia yang membantu Quen dibaringkan di atas kuda.


"Anaya," Rey berkata pelan, Setelah Yu Jian kembali menuju Istana di pedalaman hutan, Aku dan Janson berkenalan kepada kedua Wanita usia lanjut ini.


"Ya," Aku hanya menjawab pelan.


"Tolonglah, kau jangan sampai Syok."


Aku tidak mengerti kalimat Perempuan usia lanjut tersebut.


...ΩΩΩΩΩ...


Dan disinilah akhir dari semuanya, Aku.menyaksikan hal mengerikan berikutnya. Bibi marni telah pergi tuk selamanya, Bi Imah juga turut meninggalkanku, juga putrinya Mila.


Anak tunggalnya Dian masih tidak mau bicara, bahkan mengucapkan satu kata saja ia tidak mau.


Beruntung Dian mau makan sedikit demi sedikit.


Minggu berganti bulan, bulan berganti bulan bulan selanjutnya.


Tidak terasa Aku dan Janson sudah menginap di rumah Quen selama berbulan bulan. Kira kira setengah tahun kami tidak pulang, Entah se -kawatir apa sekarang Ayah Janson, begitupun Aliza dan kakaknya Galih. Belum lagi kakeknya Burhan.


"Kenapa Anaya?" Janson menepuk bahuku tapi aku tidak terkejut seperti biasanya juga tidak menoleh. Aku hanya menatap butir butir air di atas sana. Kepalaku penuh dengan Fikiran.


"Tenanglah Anaya, semuanya sudah berakhir sekarang. Ayahku akan menyingkirkan rasa khawatirnya setelah melihatku nanti percayalah." Janson berkata yakin.


"Hmm, kau benar Janson. Uuuhh udaranya dingin. Kita masuk saja Yuk! Aku juga sedang lapar nih." Aku menarik tangannya agar segera masuk ke dalam.


.....


.....


**TAMAT


SEASON 1 SAMPAI SINI.


SEASON 2 AKAN DATANG YA. MASALAH BELUM SELESAI.


Selamat Natal dan Tahun baru untuk semuanya, 🎉🎉🎉🎉🎊🎊🎊🎊


ADAKAH YANG INGIN BERTANYA UNTUK Ep 1 - 91 Ini**???