TO THE DEAD

TO THE DEAD
Makan bersama



Suara debum - debuman kencang air terdengar memekakkan telinga bahkan dari jarak 1 kilo sekalipun, sesekali Galih dan adiknya menoleh kearah suara namun mereka kembali fokus melahap lagi masakan Xin karena keduanya harus cepat cepat melahap masakan yang dibuat Xin sebelum Gadis siluman itu kembali dan melampiaskan amarahnya dengan melemparkan kedua kakak beradik ini dalam air sungai yang dingin.


Anaya yang memperhatikan mereka berdua yang makan tergesa gesa menjadi khawatir.


"Kak Galih, Janson hati hati nanti kalian.." Belum sempat Anaya memperingati, apa yang dikhawatirkan Anaya menjadi kenyataan.


"Uhuk uhuk!!"


"Uhuk uhuk!"


"Tuh kan benar kalian tersedak, makanya jangan buru buru. Kakakku sebelum mandi pasti akan melatih sihirnya dan waktu latihannya berjam jam." Anaya bicara.


"Jadi, uhuk. Dia tidak akan kesini dalam waktu dekat?" Tanya Galih.


"Tergantung, aku tak bisa memastikannya kak Galih." Jawab Anaya.


Galih meminum botol air putih yang telah dibawa dari bagasi belakang, "Kalau begitu aku sudahi makannya aku tak berselera karena dibangunkan pagi pagi. Tadi malamkan aku berkendara sampai tengah malam sebelum berhenti. Beberapa jam lagi menjelajahi jalan juga ada rumah makan setelah itu masuk jalan tol. Oh ya Anaya apakah bekal kita masih ada?" Tanya Galih.


"Sudah habis kak kemarin malam aku dan kak Xin yang makan." Jawab Anaya kikuk.


"Kalian menghabiskan 1 kotak Ayamnya!"


"Bukan aku dan kakak saja yang makan, kami kedatangan tiga orang tamu, tapi aku tak bisa menjelaskannya. Detailnya tanya kakakku saja, karena Kak Xin yang mengundang mereka beristirahat di mobil kita." Jelas Anaya.


"Baiklah, aku akan menanyainya tapi setelah kita membeli makanan di ujung batas kota Bansar." Galih segera meninggalkan mereka dan melangkah memasuki hutan belantara untuk mencari sungai di dekat sana.


"Anaya siapa tamunya?" Janson yang ikut mendengarkan ingin tau tamu itu juga, dia semalam tak tau kalau mobilnya kedatangan tamu yaitu Quena, Rey dan Heng.


"Tamunya seperti kakakku Janson, tapi ada dua lagi yang seperti kita manusia."


"Rombongan seperti kita maksudmu, siapa namanya?"


"Aku kurang ingat namanya karena aku sedang memikirkan hal lain, aku lupa maaf Janson."


"Lupa, ya sudahlah kalau kau lupa."


"Tapi ada satu yang ku ingat Janson, salah satunya ku panggil Nyi, Nyi Quena kalau tak salah."


Mendengar kalimat Anaya Janson menjadi ingin melihat sosok yang disebut Anaya barusan.


"Jadi Anaya bagaimana keterusan ceritanya. Katakan padaku kelanjutannya, siapa Nyi Quena itu." Janson menghentikan gerakannya menyuap makanan karena ia sedang bertanya pada Anaya.


"Entahlah Janson, aku tak ingat selanjutnya. Aku ketiduran lagi di kursi. Habis Kakakku bilang kalau tidurku tidak cukup aku akan mengantuk esok paginya. Jadi aku tidur." Ucap Anaya, hal itu membuat Janson kembali melanjutkan memakan sisa sup jamur yang dibuat oleh Xin.


Hanya butuh beberapa menit saja keduanya menghabiskan isi mangkuk makanan mereka yang disediakan mendadak oleh Xin.


Tak ingin berlama lama berada disana, keduanya kini bekerja sama membereskan seluruh barang barang yang kotor dan makanan yang tersisa agar tersimpan. Sedangkan semua sampah yang tersisa sudah dibungkus rapih dan akan diletakkan di dalam tong sampah dalam mobil mereka.


"Janson sekarang aku mau mandi duluan ya, akan ku bawa handuknya." Anaya beranjak melepas sepatunya yang berwarna pink dan menggantinya dengan sandal karet.


Janson melihatnya yang mengganti alas kaki, lantas memegang tangan Anaya dengan perlahan.


Anaya refleks menatap ke arah atas dan menemukan raut wajah Janson tampak kemerah merahan.


"Anaya, kau tau kan aku suka padamu, tapi aku ingin mandi tidak jauh darimu." Janson berkata malu malu.


Mendengar hal itu pipi Anaya tak kalah merona, "kau akan mengintip?"


"Tidak!! Tentu tidak! Aku hanya ingin mendengar suaramu saat mandi. Aku ingin mengobrol banyak saat ini padamu." Janson malu malu lagi saat bersitatap dengan gadis yang ia suka.


Anaya mengangguk, " Tapi kita cari dulu tempat yang rimbun dan penuh semak di tepi sungai."


Janson mengerti maksud dari kalimat Anaya, ia sekarang sudah selesai menyiapkan handuk dan pakaian ganti. Mereka bersama sama menuju tepi sungai.


"Sepertinya kita harus mandi bergantian sambil memegangi alat alat mandi." Cetus Anaya sambil menatap Janson dengan merona pipinya.


Keduanya semakin menembus dalamnya hutan dan mulai menjauh dari titik mobil Galih berada. Anaya melihat banyak bebatuan dibalik rimbun semak yang mulai menipis, selama 1 abad lebih orang orang kota tidak pernah menapak jejakkan kaki mereka ke kedalaman hutan, jadi lokasi itu masih terjaga kelestariannya. Batu batu besar setinggi satu - Tiga meter berjejer di sepanjang sisi hutan.


Di beberapa langkah dekat dengan Janson ada sebuah batu melengkung seperti tirai, tapi tipis dan tajam di ujung atasnya.


"Janson kau bisa menungguku disini, aku akan mandi di sebalik batu sana." Anaya menunjuk batu yang ada 3 meter dari tempat Janson berdiri. Kaki kaki mereka sejak tadi adalah kerikil sungai dan bukan tanah lagi.


Jadi sandal mereka tidak belepotan terkena tanah basah lagi, karena banyak dedaunan dan rumput jadi perjalanan mereka jadi lebih mudah untuk melewati tanah tanah yang terkadang menggenang karena air hujan, mereka menghindari banyak genang genangan air di dalam hutan itu yang menghambat mereka sedari tadi.


Mereka memilih tanah yang membuat sandal mereka bertumbuh dua kali alias menempelkan tanah pada sandal mereka, jadi kaki mereka kotor oleh tanah yang masuk ke bawah alas sandal. Membuat becek telapak kaki mereka.


Namun karena sudah sampai di aliran sungai, giliran bebatuan kerikil yang menempel pada alas kaki mereka yang penuh tanah.


Janson memilih menunggu disana, dan juga ada batu yang tak terkena air hujan di dekat batu melengkung itu. Jadi ia bisa duduk dibatunya tanpa takut harus kebasahan karena air hujan.


Anaya kini menemukan tempat bagus, airnya tenang dan air tetap bisa masuk sampai celah celah batu, bentuknya mirip bat up dirumahnya, jadi ia berendam disana sambil sesekali membersihkan sandalnya dari batu dan tanah. Disampingnya air terlihat mengalir membuat air yang terkena sabun kini tergantikan secara alami melewati celah celah batu.


Anaya menggosok seluruh tangannya, kaki dan juda punggung tentunya, sembari sesekali menyelam di cekungan bebatuan itu sambil menggosok kepalanya. Sampo dituangkan dan Anaya mulai keramas.


Di balik batu sana Janson tengah bosan hingga dirinya melempar lemparkan bebatuan sungai ke tepi hutan sana.


Duk!! Duk!!


Salah satu ular sanca yang sedang mengerami telur telurnya kini mulai terganggu oleh suara suara bebatuan yang dilemparkan. Sang induk ular kini menuju arah batu yang tadi dilempar.


Ular sanca itu ukurannya diluar dugaan Janson. Selama 1 Abad hingga jalan ini dibuat banyak kendala dari mulai buaya raksasa yang menghadang perjalanan sampai ular berukuran dua kali lipat dari ular sanca pada umumnya, seperti ular anak konda tapi dua kali besar dan panjangnya. Membuat ukuran ular sanca itu berukuran raksasa sepanjang lima sampai sepuluh meter. Terbayangkan saat kepala ular yang ukurannya sebesar 3 meter dengan diameter kepala setengah meter keluar dari balik semak semak yang tingginya lebih dari dua meter.


"ULAR!!" Janson berteriak parau setelah kepala ular itu terlihat jelas dibalik semak semak.


Ular betina itu sadar jika keberadaan Janson disana merupakan sumber dari bunyi bunyian mengganggu itu. Karena kala Janson berteriak induk ular melihat janson melempar batu padanya.


Anaya yang tengah memakai handuk kini menoleh mendengar teriakan Janson, ia cepat cepat mengemasi barang barangnya dan pergi menuju arah Janson.


Walaupun berukuran raksasa ular sanca ini tak memiliki bisa atau racun, sama seperti ular sanca pada umumnya, meski begitu tetap saja belitannya adalah serangan utama. Apalagi dengan ukurannya yang raksasa. Hanya dalam waktu hitungan menit ular ini membunuh Janson.


Janson berusaha melemparkan bebatuan sungai yang lebih besar demi menghindar dari ular sanca yang kini agresif sekali.


"UWAAA..." Janson tersandung dan terbelit oleh ekor ular sanca raksasa tersebut.


Janson masih berteriak panik sambil berpegangan dengan celah batu berlubang yang tertanam dalam dikedalaman tanah.


"PERGI!! PERGI DARIKU!!" Teriakan Janson semakin kencang kala ekor ular sanca terus menyeretnya agar melepaskan pegangan dari batu tersebut, dan menjadi santapannya karena telah mengganggu ketenangan ular sanca itu.


"KAK XIN, ANAYA, KAK GALIH!! TOLONG!"


Desis desisan ular itu menjadi semakin kencang karena Janson yang berteriak sedari tadi.


Anaya berlari dengan pakaian handuk yang sempurna terikat rapih ditubuhnya.


"Janson!!" Anaya berteriak dan maju untuk ikut memegangi tangan Janson yang kini sempurna terlepas dari cekungan batu.


Anaya menangkap lengan Janson dan ngeri menatap ular sanca raksasa didepan mereka.


Sadar kalau ular itu tak bisa menarik mangsanya yang kini bertambah, ia memutuskan untuk langsung menggigitnya dan memakan mereka.


Namun belum sampai taring ular itu menggigit kaki milik Anaya, dikejauhan aura yang membuat seluruh gerakan ular tadi membeku kini mulai berpengaruh.


Anaya menutup mata karena takut, begitupun Janson.