
Anaya langsung berlari setelah mencium pipi Janson dan dia bergegas mengambil semua buku yang ada dimeja perpustakaan, lantas memasukkannya ke dalam ranselnya dan pergi.
Sementara Janson hanya bisa terdiam di tempatnya, Anaya benar benar membuat wajahnya sangat merah sekarang.
Anaya sudah pergi sedari tadi dan dia tidak kembali karena wajahnya juga sama merahnya seperti Janson saat ini yang berada di balkon lantai dua.
Anaya menutup pintu kamarnya dengan tergesa gesa.
Jantungnya kini tak bisa ia kendalikan, berdetak amat kencang.
Nafasnya menderu deru memburu. Hingga Anaya sadar apa yang barusan ia lakukan..
‘aaaaa... Apa yang barusan aku lakukan!! Aku baru saja mencium Janson.. di pipinya!!? Astaga.. apa yang kulakukan ini, meski aku gak tau kami ini pacar atau bukan. Bukankah Janson sudah menyatakan perasaanya padaku.. waktu itu- a aku juga memeluknya pada saat itu.. aku juga mengiyakannya.. ini pasti gara gara film romantis yang kami tonton.. ada adegan ciuman di kening dan pipi itu. Aku jadi refleks mencium pipi Janson untuk membuatnya tenang dan tidak sedih lagi.. aaa.. meskipun begitu, ini rasanya tidak benar..’ gerutu Anaya dalam hatinya. Kini ia sedang bergulat dengan perasaanya sendiri. Entah dia menyesal telah mencium Janson. Atau karena mereka hanya sebatas teman saja.
Anaya kini memukul mukul bantal yang banyak di ranjangnya.
Sedangkan di perpustakaan sana, masih di balkon.
Janson bahkan tidak bergerak sedikitpun karena terkejut.
Rasa sedih dan tangisannya langsung menguap, yang Janson rasakan sekarang adalah rasa malu.
Dia tidak menyangka ciuman Anaya yang pertama didapat di pipinya. Dia kira semua ciuman pertama itu didapat di bibir.
Entahlah Janson sedang merasakan perasaan apa, senang dan terkejut bercampur menjadi satu. Tapi yang pasti dia bahagia mendapatkannya meski di pipi. Lihatlah jantungnya sedari tadi berdetak tak karuan.
Itu mungkin karena dipicu oleh bibir Anaya yang menempel di pipi kanan Janson.
Perlahan Janson meletakkan tangannya di pipi kanan dan dia rasakan kembali bibir milik Anaya menyentuh kulitnya.
“Apa ini rasa ciuman pertama..” gumam Janson. Sungguh lebih manis dibandingkan madu.
...ΩΩΩ...
Lantai 4
Area kolam renang dalam ruangan yang sangat luas. Khusus untuk para anggota keluarga Bram, karna marga nama Burhan adalah Burhan Bram.. nama ayahnya Burhan.
Bram sudah lama meninggal dan kini tanah milik mang Karman ini dibeli oleh ayahnya Burhan yaitu Bram. Untuk melunasi hutang Karman sewaktu muda, sejak ia mempunyai istri Mirna dan anak mereka Amelia. Yang telah lama meninggal dikala usianya 9 tahun di kota bansar ini.
Dulu Karman menggadaikan tanah ini, lalu Burhan yang menebusnya menggunakan uang ayahnya Bram.
Ketika Karman wafat dialah yang bertanggung jawab merawat tanah milik mendiang Karman itu.
Burhan takkan pernah melupakan hal itu, hal buruk yang membuat sahabatnya meninggal. Yaitu sosok yang membuat Amelia meninggal, sosok mengerikan yang datang dari hutan hitam, hutan terlarang.
Monster yang pernah ada dan hampir membinasakan warga kota bansar ini, dia licik. Menggunakan segala cara untuk membuat kota ini hancur. Namun yang lebih mengerikan lagi adalah sosok yang mengendalikan monster ini. Sosok yang tak bisa dilawan oleh Karman sekalipun. Tentu saja burhan juga termasuk. Dia sangat kuat dibanding wayana.
Dan dia yang menguasai setiap sisik kerajaan hutan larangan, hutan hitam ini.
Burhan tidak Tau siapa dia ataupun namanya. hanya saja mereka tak kan ikut campur lebih dalam lagi.
...
Karna itulah saat burhan menulis buku itu, 24 tahun kemudian dia merobeknya, hanya dihalaman yang menceriakan kebengisan wayana dan ratu itu yang telah memporak porandakan kota bansar. Sisanya kisahnya dan fariz. Juga dengan bu rizka.
Kematian karman, Amelia. Dan hubungannya antara mereka dan juga siluman wayana tidak pernah diceritakan oleh buku itu.
Burhan menyimpannya rapat rapat.
Dan berapa tidak beruntungnya Anaya saat ini, mungkin dia harus bertemu dengan neneknya yang berada di desa soro hanya untuk Tau cerita lengkapnya.
Yang tidak diketahui oleh Burhan Sekarang adalah Anaya ada hubungannya dengan semua tragedi itu.. hanya saja waktunya yang tidak tepat.
...***...
Byurr..
Air kolam renang terasa nyaman, seluruh keluarga Bram ada di sini, termasuk Aliza. Galih, Burhan dan Karman. Mereka sedang bersenang senang bersama di areal kolam.
Anaya dan Janson berada di kolam yang kecil hanya satu meter. Mereka sedang asyik bermain bola air. Saling lempar air di kolam renang.
“Janson.. hentikan... Aaakk..” Teriak Anaya berusaha berlindung dari cipratan air kolam yang berkali kali dilemparkan Janson padanya.
“Hahaha.. basah.. basah..” Janson tak berhenti hentinya melemparkan air kolam.
“Aku akan membalasnya...” Anaya tidak mau kalah, balas melemparkan air kolam pada Janson.
“lihatlah anak anak itu ayah..” Fariz menunjuk Anaya dan Janson.
“aku tau, sangat lucu bukan.. tapi yang aku tak tau mengapa kau sempat marah padanya Fariz.. bukannya berterimakasih karena Janson selamat..” Burhan membalas.
“Entahlah, yang jelas kita tak tau.. aah ayah ingin bersantai sejenak.. tidur di rumah sakit itu tidak enak Fariz..”
“Ayah.. haah.. ya sudahlah..” Fariz mengabaikan sejenak keanehan ini.
...------...
Anaya dan Janson kini merasa kelelahan, karena sudah 1 jam lebih mereka saling melemparkan lemparkan air. Kini mereka duduk di tepi kolam bersama. Tidak ada lagi yang memperhatikan mereka disana.
“Anaya mengapa kau mencium pipiku? Apakah kau mau pacaran denganku?” bisik Janson di telinga Anaya.
Geli..
Bisikan Janson tadi terasa geli ditelinga Anaya.
“aduh tak usah dibahas..” Anaya memalingkan mukanya, tidak mau dia kalau sampai Janson melihat mukanya yang mulai memerah ini.
Janson menatap Anaya dan baju renangnya yang cantik milik Aliza, ya meskipun begitu tentu saja Janson menyukai baju yang Anaya kenakan.
“hei Janson, hei Anaya.. ayo makan camilan dan minuman hangat ada di sebelah sana. Kalian sudah merasa dingin kan?” dan ini dia Aliza. Yang datang tiba tiba entah dari mana.
“ooh, iya.. nanti kami menyusul Aliza. Makasih..”
“Ho oh..” Balas Aliza singkat.
Jus buah mangga yang hangat dan kue hangat adalah pilihan yang bagus saat mereka bermain di kolam berenang begini.
Apalagi berkumpul bersama keluarga begini, rasanya semakin menyenangkan.
Galih di ujung sana sudah berpakaian kering. Dia telah selesai berolah raga di kolam. Dia sekarang memegang sebuah gitar.
“la.. la la.. la.. Kata yang.. ..” Nada yang menyenangkan dialunkan olehnya.
“Suara kak galih bagus juga ya Janson, bagaimana menurutmu?” Tanya Anaya.
“biasa, aku sudah berkali kali mendengarnya.. dan aku sudah terbiasa. Dan tidak ada yang spesial..” Jawab Janson sambil mengunyah kue hangat.
“janson mah selalu begitu, jahat banget..” Galih tiba tiba menceletuk diantara percakapan mereka berdua.
“Memang suara kakak pas Pasan gimana sih?” Janson membalas.
“puji dikit kek.. main kritik aja!” Galih manyun.
...***...
Keduanya yang segera berganti bajupun pergi ke taman belakang dekat dengan kebun.
“Janson rasanya sakit sekali, tidak pernah tau apa yang dirasakan kala aku menemukan jawabannya nanti. Jika jawabannya gak sesuai dengan dugaanku, akan bagaimana ya?” Anaya bertanya ditengah semilir angin yang berhembus pelan nan lembut.
“aku akan tetap bersamamu, kita akan bertahan bersama apapun yang terjadi.. dan Anaya.. berjanjilah padaku..” Janson berkata serius dengannya.
“ada apa Janson?” Anaya bertanya.
Janson mendekat memegang lengan Anaya, dan meletakkan telapak tangan Anaya tadi di dadanya.
“benjanjilah agar kita tetap bersama sama apapun yang terjadi, jangan pernah meninggalkanku..” Janson menatap mata Anaya dengan dalam dan seketika angin tak berhembus.
“Aku janji Janson.. aku akan terus bersama denganmu..” Anaya tersenyum.
Degh...
Bertahanlah..
Siapapun, tolonglah.. aku tak mau kehilangannya.. Anaya!!
Degh..
“Apa itu barusan?” Janson terlihat pucat selintas dia seperti melihat bayangan sesuatu, sesuatu hal yang penting.. tapi dia tidak tau itu hal apa.
“Janson apa kau sedang sakit? Kau terlihat pucat!” Anaya menatapnya khawatir.
"engga kok anaya, aku gak papa beneran deh.. " Janson memegang lengan anaya, meyakinkannya bahwa dia baik baik saja.
.
.
.
bersambung..