TO THE DEAD

TO THE DEAD
Salah faham



Tidak ada lagi percakapan antara mereka berdua, beberapa menit menunggu di taman tersebut Anaya dan Janson dikejutkan oleh suara alarm yang berbunyi tiba-tiba.


Ngeng Ngeng Ngeng...


" Apa itu suara apa?" Anaya berseru


" Eh kenapa Ada apa?" Janson ikut berseru.


Keduanya terkejut bersama-sama, tidak menyangka ada suara alarm berbunyi tiba-tiba seperti itu.


" Ada penyusup!! Panggil siluman lain!" Teriakan samar-samar terdengar dari dalam istana.


Puluhan ribu pasukan siluman keluar dari pintu utama, juga keluar dari sekitar taman yang mengitari istana Ratu Shi ya tersebut.


"Kalian berdua datang dari mana? Cepat katakan! Bisa-bisanya ada manusia yang masuk dan tidak terdeteksi di dalam istana ini!" Semua Prajurit itu mengapung Janson dan Anaya dari segala sisi.


" Cepat katakan!!" Bentak para Prajurit siluman tersebut.


" Kami memang dimasukkan oleh Ratumu! Jangan salahkan kami, waktu Aku dan Anaya bangun sudah kami sudah berada di sini." Janson balas berseru.


" Anak Manusia kurang ajar! Bisa-bisanya kau melibatkan Ratu kami!" Seusai seruan itu salah satu prajurit itu meloloskan dan mengacungkan pedangnya di depan Janson kemudian beranjak maju menyerang.


Janson dan Anaya yang sudah bersiaga di tempat masing-masing segera memasang kuda-kuda kokoh. Para Prajurit itu terus merangsek mendekat sembari mengacungkan pedangnya secara serempak.


Janson maju terlebih dahulu menyambut serangan dari salah satu prajurit itu. Ketika pedang itu bergerak lurus hampir menusuk dadanya Janson segera menghindar sebelum pedang itu tepat menusuk dadanya.


Janson menunduk untuk menghindari serangan pedang tersebut. Di sebelah Janson Anaya juga mendapat serangan berupa panah-panah yang terarah padanya. Panah-panah itu melesat cepat Janson yang melirik ke arahnya baru menyadari bahwa Anaya sekarang dalam bahaya.


"ANAYA AWAS!!" Janson berteriak sembari berlari secepat yang ia bisa, karena ia tidak mau melihat Anaya terluka lagi.


Anaya yang berbalik baru menyadari bahwa ia tidak sempat menghindari beberapa panah tersebut.


JLEB.


" Janson," Anaya yang terkejut karena menyadari anak panah itu tidak mengenainya sama sekali ia tidak terluka dan tidak merasakan sakit sama sekali karena yang menerimanya justru bukan dirinya. Serangan anak panah yang melesat ke arahnya tadi telak melukai Janson, Anak Lelaki itu sengaja menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng untuk Anaya. Betisnya Janson terluka, berdarah-darah mengaliri kakinya akibat beberapa anak panah yang diluncurkan ke udara. Anaya terperangah melihat keadaan Janson.


Sesudah serangan pertama melesat, Prajurit-Prajurit itu juga akan melepaskan anak panah selanjutnya, formasi dalam pertarungan jarak dekat telah terbentuk, komando komando dari pimpinan mereka sewaktu waktu siap memerintah pasukannya untuk menyerang kedua manusia tak berdaya itu. Namun ada seseorang yang menghentikan gerakan mereka secara serempak, sementara Anaya bergerak di hadapan Janson yang terduduk seketika akibat menerima beberapa anak panah.


"Janson kau tidak apa-apa? kakimu terluka, lihat darahnya banyak sekali!" Anaya langsung memegang lengannyadan berbisik pelan, ia merasa kasihan pada Janson yang lagi lagi terluka akibat dirinya. Terlintas lagi di benaknya sebuah rasa penyesalan.


Sambil meringis kesakitan Janson sama sekali tidak menyalahkan Anaya, justru dia sangat senang karena Anaya baik-baik saja dan tidak terluka.


"Aku tidak apa-apa Anaya, kau tidak perlu cemas kan aku." Jensen berkata pelan mencoba tidak dihawatirkan Anaya. Anaya langsung menggeleng kencang-kencang.


"Tidak apa-apa, kamu buta ya! Emangnya aku tidak melihat keadaanmu! Sekarang ini kau terluka akibat anak panah itu ayo sebaiknya kita segera pergi dari sini. Siluman ini tidak bersahabat pada kita. Dan aku bisa saja tidak bisa menyelamatkanmu Janson." Anaya segera merangkul Janson untuk ia bawa pergi, Anaya melingkarkan satu lengan Janson di bahunya, Gadis kecil itu mencoba memapah Janson.


Namun situasi tidak sesederhana itu ketika mereka telah melewati kerumunan para Prajurit yang teralihkan perhatiannya, salah satu dari mereka menyerang dengan sebuah pisau kecil, pisau itu melayang dan tepat menancap di kaki Anaya. Membuat dirinya menjerit kesakitan dan terhuyung sketika itu juga, kemudian Anaya terjatuh diikuti oleh jatuhnya Janson yang Iya papahnya.


" Akhirnya aku mengenaimu Gadis manusia!" Prajurit itu tersenyum senang seketika, ia segera melangkah pelan menuju ke arah mereka berdua yang sekarang terjatuh tak berdaya dengan keadaan terluka.


"Akhh.. Aduh kakiku.." Anaya masih menjerit kesakitan karna pisau itu menancap cukup dalam, hampir menyerempet tulang betisnya.


"Anaya.. Aku sudah bilang kau tinggalkan saja aku! Lihat kau terluka lagi kan?" Janson mengungkit masalah yang tidak seharusnya mereka bicarakan sekarang, Anaya menggeleng kencang.


"Gadis manusia yang bo*oh, kalian fikir kalian bisa lari dari kami Prajurit kesatria istana hah!" Prajurit itu sengaja berkata merendahkan mereka, lebih lebihnya dia me atap Janson dan Anaya dengan pandangan benci.


"Kenapa kau menyerang kami?" Anaya bertanya.


"Bukankah mereka sudah sepakat untuk tidak menyakiti kami!" Sergah Anaya sembari menahan rasa sakit di bagian betisnya.


Bukannya menjelaskan kepada Anaya Prajurit istana itu malah tergelak tertawa, tentu saja menertawakan Janson dan juga Anaya.