TO THE DEAD

TO THE DEAD
Rumah hans



Rumah mewah dengan lantai 10 milik Hans purawan, orang terkaya dan salah satu pengusaha terkenal di kota bansar, ia tengah menjalani rutinitas pijat kaki dengan pembantunya.


Hans sedang melakukannya di depan semua klien pentingnya, tak peduli mereka tak merasa nyaman melihat Hans yang tidak merasa malu sekalipun.


Ia membaca koran sambil kakinya dipijat oleh gadis gadis dari klub.


Itu bukan merupakan pijat yang normal, terlihat gadis gadis itu malah menjilat kaki Hans, ada 1 Gadis memijat lengan Hans dan itu hanya tukang pijat benar. Sedangkan dua di bawah sedang memijat bagian lain dan tidak pantas dilihat oleh Klien Hans.


"Pak Hans apa bapak tidak melakukannya di kamar atau di tempat sepi dari pada di depan kami," Celetuk salah satu Kliennya.


"Wah apa bapak ini jengkel karena melihat rutinitas saya, baiklah pergi kalian kembali ke belakang. Pelayan bawa jas untukku."


Para pelayan Hans yang berbadan mulus dan berpenampilan tak biasa pun mendekat, pakaiannya yang terlalu terbuka dan tak pantas dilihat oleh sekumpulan lelaki di ruangan itu. Beberapa dari mereka malah terbawa suasana dengan menatap pelayan pelayan dan bentuk tubuhnya.


Rekan di sebelahnya menimpuk kepalanya.


"Kau ini sedang memperhatikan apa? Fokus!!" Dengus rekannya yang memang beriman tebal.


"Baiklah rapat dimulai, dan kalian boleh berdiri di samping para klien nona nona," Hans memberikan isyarat.


"Pak Hans?"


Para pelayan itu mulai menggoda semua klien yang ada di sana dan beberapa mulai tergoda termasuk rekannya yang tadi.


"Apa yang bapak rencanakan!" Ia berseru sambil menepis tangan pelayan itu yang masih menggodanya.


"Asal kalian tau aku adalah pebisnis seperti ini, jika tidak mau terlibat silahkan keluar, kerja sama kita batal.."


"Tidak pak Hans kita akan tetap disini," celetuk salah satu Klien.


"Ya aku juga masih ingin di sini.."


Klien yang geram itupun merasa marah dan pergi begitu saja meninggalkanke enam rekannya, empat Klien menolak bekerja sama dan keluar dari ruangan.


Keempat orang itu masih menggerutu sebelum 6 tembakan terdengar dari arah belakang mereka.


Ke empat orang mulai berbalik dan sudah melihat Hans yang berpakaian rapih, "kalian beruntung jika kalian masih di dalam maka pistol ini akan melayang, besok ku kirim mayat para temanmu itu pak. Senang bekerja sama dengan anda"


"Cih.." Ia mendengus kesal.


Mereka ber empat melajukan mobil masing masing ke arah yang berbeda.


"Menyebalkan, Pak Hans sangat tidak profesional dengan bisnis. Kabar burung tentang ia selalu membantai kliennya itu nyata, dia awalnya memang memancing dengan pelayannya kemudian baru memberikan persetujuan jika kami masih hidup. Aku menyesal telah bekerja sama dengannya, ke enam karyawan berbakatku tewas di dalam rumahnya, Sial!" pengusaha saham yang mendominasi di kota Bansar itu kembali dan menyuruh supirnya untuk pergi ke kafe terdekat di kompleks merak merah.


Kebetulan kafe terdekat ada di dekat kompleks Anggrek tempat temannya yang ikut dan mati di tangan hans, ia juga salah satu orang rekomendasi dari perusahaan Fariz.


Mau tak mau ia harus bertemu dan meminta maaf pada klien temannya itu.


"Pak tolong ganti arah dan kita pergi ke perumahan Anggrek." Ia memberi perintah singkat, sopir menjawab singkat dan berusaha mencari tempat berputar arah tanpa melanggar rambu lalu lintas, mobil berputar arah di persimpangan dan melaju ke arah perumahan di wilayah selatan kota bansar, karena arah perumahan merak berada di barat kota bansar.


Setengah jam perjalanan mobil itu tiba di pintu gerbang rumah Fariz.


Kedatangan mereka bersamaan dengan datangnya Ambulans dari arah sebaliknya, hampir saja terjadi tabrakan jika salah satunya tidak menginjak rem.


"Aduh ada ada saja, kenapa harus papasan begini. Sudahlah mundurkan saja biarkan mereka lewat." Suruh majikannya. sopir mobil mengangguk setelah mendengar perintah.


Ambulans tadipun kembali membelokkan kendaraan menuju halaman rumah yang gerbangnya sudah terbuka sedari tadi.


Fariz terlihat turun dari dalam Ambulans dan tengah mengiringi petugas medis yang tengah membawa Janson dan temannya masuk ke dalam rumah. Wajah Fariz terlihat suram karena Janson belum sadar selama seharian dan juga Anaya sama keadaannya.


Mobil yang terpaksa di mundurkan kini mulai memasuki halaman.


Ketika sampai di pelataran rumah ia berjalan sampai depan rumah. Pasien dan petugas Ambulans masih ada disana dan berjaga jaga di tempatnya.


"Hei Fariz apa kabar." Ia menyapa terlebih dahulu.


Fariz yang menyadari hal itu sedari tadi menoleh.


"Kak Ren, apa Kak gak melihatnya.."


"Hei, ada apa di rumahmu sebenarnya?"


"Masalahnya sulit dijelaskan, kak Ren juga tak mungkin mempercayainya jadi-"


Ia menyela, "Jadi aku harus bertanya tanya begitu maksudmu! Fariz, kalau bukan berkat pak burhan kita mungkin takkan pernah bertemu lagi sekarang, ia telah memberi kita banyak sekali. Jadi kita harus membalasnya bukan? Dan kau sejak kapan jadi memendam masalahmu sendiri. Aku kan ada, walaupun Hans sekarang telah berubah setidaknya ada diriku iz." Rendi menepuk nepuk bahu Fariz.


*****


Fariz menjelaskan semuanya usai mempersilahkan Rendi masuk ke dalam kediamannya.


"Jadi mereka pingsan lagi setelah tengah malam terbangun tiba tiba, dan mata mereka bercahaya biru dan merah kemudian pingsan."


"Ya begitulah kak, aku tidak tau apa yang terjadi, kalau soal mata putraku itu biasa matanya diwarisi oleh Ibunya yang juga bermata biru. Namun bocah itu entah sejak kapan matanya berubah menjadi merah. Dia seperti mata siluman Wayana Kak. Yang pernah ku bahas setelah kepergian kami dari kota Bansar sewaktu aku berkunjung ke panti kan?"


"Iya, kau memang pernah menceritakannya bahkan detailnya. Tapi maaf Iz aku tak bisa membantu jika itu masalahmu. Karena aku bukan orang istimewa aku hanya manusia tanpa kekuatan. Berbeda dengan keluargamu yang sedari awal memang spesial." Rendi memberikan kesimpulannya.


Wajah Fariz kini berubah dan fikirannya dipenuhi semua masalah itu, terlepas dari kesimpulannya Rendi dirinya juga tak begitu spesial dibandingkan dengan Janson dan Anaya. Fariz pernah menyimpulkan bahwa darah anaya adalah darah istimewa yang berarti ia bukan manusia sembarangan, ia memiliki garis keturunan terlangka dan ada sesuatu yang selalu melindunginya, Fariz tau tentang kecelakaan yang menimpa gadis ini dan kecelakaan itu terasa ganjil baginya.


"ya sudah kak, aku ingin ke kamar melihat kedua anak itu ya."


"Apa aku boleh ikut untuk melihatnya juga?"


Fariz mengangguk, " tentu saja rumahku anggap saja rumah kakak di kompleks merak. Dan tentang kak Hans yang berubah aku sudah tak peduli padanya, dia terobsesi pada mantannya itu, yang tak lain adalah Ibu Anaya anak yang sekarang terbaring pinsan kak. Sejak kak Hans yang berubah oleh Linda, kini ia hanya terobsesi padanya bahkan setelah linda menikah dengan Hermawan, orang yang menjadi temannya sendiri. Kak Hans putus dengan Linda dan menjadi istri hermawan, jadi mungkin Kak Hans denam. Aku sih kasihan pada anak ini kak, aku tak peduli urusan orang tuanya tapi kak Rendi juga pasti belum tau kan?"


Rendi mengangguk, "Ya Iz aku memang tak tau tentang sikap Hans, sedari pertama kali aku mengunjunginya lagi dia malah berbuat tidak sopan seperti ini, aku mengunjunginya di rumahnya yang ada di kompleks mawar, tapi dia malah membunuh keenam karyawanku."


"Akhir akhir ini dia sedang apa sih, apa kau tau Iz?"


"Kak hans jadi penjahat kak, dia telah melakukan berbagai macam kejahatan 5 tahun akhir akhir ini." Jawab Fariz pada pertanyaan Rendi.


Keduanya terus berbincang dengan topik Hans dan perusahaannya, hingga tangga mengakhiri dan mereka berjalan di lorong lorong hingga menemukan pintu lebar selebar satu meter.


Ruangan di sana nuansa rumah sakit dengan tanpa perabotan, keduanya masih terbaring pingsan dan diberi kantung infus, di pisahkan oleh kain tirai saja.


Fariz duduk di sebelah putranya, disediakan oleh perawat ketika majukannya tiba.