
Angin topan beliung yang seharusnya mereda, malah kian semakin kencang. Disertai itu tanah yang tadi retak dan terangkat mulai berubah menjadi bergumpal-gumpal, lantas gumpalan - gumpalan tanah itu mulai membentuk sesuatu. Bentuknya sekarang menyerupai sebuah peluru namun berujung tajam. Sosok Wayana menyunggingkan senyum sejenak, seusai senyumannya tadi tanah-tanah yang sudah membentuk peluruh tajam itu mulai terarah kepada Heng dan Rey.
Peluru tajam itu sudah mulai melesat cepat. Dengan mata yang Awas Heng menghindarinya.
WHUSS.
Beberapa peluru tajam tidak mengenai tubuhnya, tepatnya belum. Walaupun serangan pertama dari Wayana tidak mudah dianggap remeh Heng tetap harus berusaha untuk menangis 10 Peluru dalam waktu beberapa detik saja, kalau Heng terlambat sedikit saja atau justru lengah ia bisa terluka karna peluru tersebut. Heng sama sekali tidak punya waktu bahkan untuk bernafas.
Sama seperti kondisi Heng yang sedang kepayahan menahan serangan Wayana dengan sekuat tenaganya, disertai menghalangi peluru yang datang bagai air bah, rekannya Rey juga terlihat kewalahan menangkis peluru peluru tajam tersebut, walaupun kecepatan Rey tidak jauh berbeda dari Heng. Tetap saja ia sudah tidak muda lagi, jadi kecepatan Rey sekarang menurun drastis juga staminanya, tidak seperti dahulu.di saat dirinya masih muda.
Pertempuran masih jauh dari kata selesai, beberapa menit menangkis ratusan peluru - peluru tajam kedua nya kini menghela nafas tipis-tipis karena kelelahan.
"Kelihatannya kalian lelah! Apa kalian menyerah? padahal seranganku yang tadi bukan apa-apa, itu hanya sebagai latihan saja. Sudah kubilang manusia seperti kalian tidak akan mampu mengalahkan siluman hebat sepertiku!" Wayana berujar sebentar kepada kedua lawannya. Ia melakukan itu hanya karena untuk meledek kedua lawannya yang lemah. Sisi baiknya Heng dan Rey bisa beristirahat walaupun hanya beberapa menit, Fakta yang benar bertarung melawan Wayana sama sekali bukan hal yang mudah. Tapi tentu saja Wayana bukan satu-satunya siluman paling kuat di dunia siluman.
(Heng apa yang kau rencanakan dengan maju begitu saja melawan Wayana Aku tidak mengerti?) Rey berujar dalam hatinya, meskipun pertarungan mereka terlihat imbang kekuatan Heng dan Wayana sangatlah berbeda jauh.
Wayana tertawa terbahak-bahak diantara kencangnya angin, Bi Marni memeluk Mila dan Dian agar mereka tidak terhempas oleh kencangnya angin.
"Kita harus melakukan apa Heng?" pertanyaan yang dilontarkan Rey disertai nafasnya yang tipis-tipis.
Heng hanya bisa menggeleng pelan, tidak tahu apa yang harus ia lakukan selain melawan habis-habisan. Heng uga tidak tahu harus bagaimana mengalahkan Wayana.
Angin topan kencang mendadak berubah menjadi pelan, itu disebabkan karena kedatangan seseorang.
" Wah Wayana, kau sudah membuat mereka kelelahan hanya dalam waktu 1 menit? Apa kau tahu itu." Suara merdu disertai sendu terdengar mendekatinya. Suara itu tidak lain lagi milik Mayana. Sosok siluman ular sanca emas, dirinya sekarang berbalut kain hitam keemasan. Langkah Mayana disertai dengan hembusan angin menerpa dedaunan yang menghalangi jalannya.
"Apa kau menganggapku hebat sekarang Mayana?" Tanya Wayana terhadap rekan silumannya yang cantik jelita (menurutnya).
Mayana tersenyum simpul menjawabnya, perlahan ia mendekat. "Tentu saja." Mayana berkata pelan sembari satu tangannya mengelus pakaian kasar Wayana.
"Tapi kau bo*oh Wayana." Mayana menambahkan kalimatnya, membuat senyum Wayana mendadak padam saat itu juga.
"Kau tidak mengerti juga? Pertarungan ini memicu informasi di daerah kekuasaan Siluman Putra Mahkota, dasar BO*OH! Artinya kita harus sesegera mungkin menyingkirkan mereka dan pergi dari sini!" Seru Mayana dengan nada kesal, ia selalu membenci tindakan sombong Wayana, tapi rekannya itu sama sekali tidak peduli resiko apapun!
"Kau serius Mayana?" Wayana berseru kembali.
"AKU SERIUS! Halangi pasukan yang datang di arah utara, aku akan membinasakan mereka saat ini juga!" Kalimatnya membentak di awal dan pelan di ujung.
Wayana sejenak mengangguk mendengar nada serius dari Mayana.
Di jarak sepuluh meter Heng dan Rey yang tengah beristirahat lebih dari sepuluh menit itu sekarang telah berbalik menuju arah Bi Marni dan kedua putrinya.
"Apakah kalian baik baik saja?" Tanya Heng secara langsung pada Bi Marni.
"Aku dan Dian baik baik saja, tapi Mila tidak! Cepat tolonglah dia kumohon!" Bi Marni tengah memohon pada Heng dan Rey sambil memeluk Mila putrinya. Sementara Dian masih berusaha membuat nafas buatan untuk saudaranya tersebut.
Tanpa banyak bicara Heng langsung mengangguk mantap. Ia segera melangkah mendekati gadis kecil bernama Mila.
"Apakah Wanita lansia yang masih tergantung itu, masih hidup?" Sekarang giliran Rey yang bertanya pada Bi Marni.
Bi Marni tidak menjawab karena ia tidak tau, apakah Bi Imah tetangga Anaya itu masih bernafas. Mereka sudah sekitar tiga bulan berada di sana.
Rey mengangguk faham, Wanita berusia 50 tahun dengan ikat kepala berwarna merah itu sekarang menurunkan wanita lansia yang tengah tergantung terbalik di atas pohon.
Wanita tua itu terlihat tidak bergerak dan sudah kaku. Darah yang terus keluar selama berbulan bulan kini telah mengering, wajah Bi Imahpun tampak pucat.
"Wanita ini tidak tertolong, ia sudah meninggal." Rey berkata pelan.
Mendengar kalimat terlontar dari mulut Rey, Bi Marni segera menoleh dan berlari tunggang langgang ke arah Rey.
"IMAH, TIDAK! INI TIDAK MUNGKIN! IMAH BANGUNLAH IMAH, KAU TIDAK BOLEH MATI! KAU HARUS MENCERITAKAN HAL ITU PADAKU! JANGAN PERGI SEKARANG! BANGUNLAH, BANGUN!!" Bi Marni sangat terguncang karna kematian Bi Imah teman karibnya.