
Ada kalanya ketakutan adalah penyebab hilangnya kebahagiaan, itulah yang terjadi kala itu.
Tentu saja itu juga merupakan bagian kesalahan terbesar yang pernah dilakukannya, selama ini keluarganya memang melindunginya dan itu memang fakta yang tak terbantahkan.
Apalagi demi melindunginya dari niat jahat seseorang.
Hans, keluarga Hermawan dan Hans adalah musuh lama, awalnya mereka berteman baik, hingga satu hal yang membuat keduanya kini menyimpan dendam selama bertahun tahun.
*****
Angin tak terhembus saat siang hari yang panas ini, ketiganya memilih duduk duduk di dalam mobil tanpa melakukan apapun, namun ada beberapa hal yang perlu mereka bicarakan saat ini.
Xin menatap Anaya dan Janson.
"Apakah benar yang dikatakan siluman itu, bahwa kalian berlari ke dalam hutan lalu tersesat?" Xin bertanya memastikan.
"Iya kak, kami melakukan itu karena dikejar buaya raksasa, besar banget buayanya." Jawab Anaya sambil mengukur tinggi dan besar buaya yang mengejar mereka.
Xin masih diam kemudian menoleh ke arah lain, seakan tengah memikirkan sesuatu.
'Meledakkan bola api aura belum pernah ku coba, tapi kenapa dia menatapku seolah mengenalku ya? Apa dia tau sesuatu dengan keluargaku.. Astaga bo*ohnya aku tak bertanya tentang nenek laras dan masa lalunya. Tapi apakah siluman itu tau, kalaupun tau ia pasti takkan percaya bukan?? Ditambah lagi asal muasalku sangatlah mencolok, aku harus bergaul dengan siluman supaya tidak terlihat mencolok saat bertemu Anaya, atau aku harus menyamar menjadi manusia? -aku bingung." Xin masih menatap jalanan hutan kota bansar, tak ada orang yang tertarik untuk keluar dari kota, kecuali terjadi bencana di dalam kota. Wisata kempingpun hanya dilakukan setahun sekali, itupun diwilayah taman yang ramai. Sama sekali tak terlihat seperti kemping.
Mungkin karena jalanan yang ditembus mencapai 100 kilometer dari kota bansar, dan itu berarti perjalanan mereka selama 1 hari dan menginap di jalanan yang lengang tanpa ada satu bangunanpun, sisanya adalah jalan tol sepanjang 80 kilometer, dihitung dari beberapa desa kecil di pintu gerbang kota bansar. Dan disanalah kota soro berada, kota yang dekat tepi pantai. Yang ada di sebalik salah satu gunung besar yang mengapit kota bansar, jalanannya memutar ke belakang. Karena tak mungkin mendaki, terlalu curam dan medan yang terjal. Ditambah tak pernah ada yang keluar setelah melewati jalur itu.
Mereka akan menghilang setelah melewati jalur berbahaya tersebut, berkali kali ada pendaki yang menghilang setelah mendaki gunung Bulo. Ada tiga gunung yang mengapit kota Bansar, yaitu Gunung putih, Bulo dan Ireng. Dari ketiga gunung itu hanya dua gunung saja yang paling berbahaya, sementara gunung putih adalah jalur paling aman dan telah dijadikan jalan raya oleh pemerintah. Namun tetap saja berbahaya melewati kawasan hutannya.
Sewaktu waktu binatang liar akan menyergap mobil dengan cahaya itu, cahaya yang memikat binatang buas kebanyakan.
Dan Galihpun tau jika saat malam, suasana akan berubah mencekam. Berbeda saat siang hari mereka dengan mudah tau tentang bahaya tersebut, jarang jarang ada yang melintasi kawasan jalan hutan itu.
Ini adalah berita yang disorot di berbagai media massa, dan kisahnya sampai terkenal di luar kota.
Saat itu tahun 1980 Jalan raya pertama kota bansar baru selesai dibuat. Dan kota bansar kecil dengan penduduk minimal 100 orang disana berbahagia. Mereka akhirnya bisa berpergian dengan jalanan yang bisa dilalui dengan mudah. Tidak seperti 80 tahun terakhir, mereka terisolasi dan memutuskan tinggal di pedalaman karena minimnya akses dan berbahayanya hutan tersebut.
Kota bansar sejatinya sudah berumur lebih dari seratus tahun lalu.
Dan kini menjadi salah satu kota terbesar di wilayah itu, sesudah kota soro. Kota soro paling maju dari kota bansar, karena disanalah kota tertua di pulau jawa. Sedangkan desa yang ada di tengah tengah antara jalan raya kota bansar dan jalan tol adalah desa Wulu. Para penghuninya adalah percampuran dari kedua kota, yaitu kota bansar dan kota soro. Pemukiman itu berada di sebalik lembah gunung putih, lembah itu sangat subur tidak seperti kedua gunung lainnya yang terkenal sangat berbahaya.
Dan yang paling tidak bisa ditempati adalah gunung Ireng, karena kabut tebal menutupi area itu, tak ada yang tau apakah ada satu makhluk yang tinggal di sana, karena dipenuhi dengan gas alam yang terus keluar dari dalam tanah, membuat pohon pohonnya hitam meranggas.
Namun wisatawan dari luar pulau yang haus akannpengetahuan, terkadang memotret di perbatasannya hutan Ireng ini. Namun tak ada yang pulang setelah mereka diizinkan memasuki wilayah Gunung Ireng, dan tak bisa dijelaskan kenapa mereka menghilang. Padahal Akses ke sana cukup dekat dengan hutan kota bansar, karena jaraknya hanya sepuluh kilo dari kota bansar. Sedangkan pintu gerbangnya berada 1-2 Kilo dari hutan Ireng. Tapi ketika wisatawan itu mencoba memotret, di hari selanjutnya ia hilang dan entah kemana.
Awalnya warga menyangka ia sudah pulang tanpa pamit, namun setelah tau wisatawan itu tak membawa apapun. Warga jadi mulai mencari tahu dan panik.
Setelah itu terkadi, maka beritanya menjadi tersebar ke berbagai arah, hingga seseorang tak tahan lagi dengan berita yang bermunculan, memutuskan ikut terjun ke lokasi, dan orang yang mulai memecahkan kasus pada apa yang terjadi di kota itu mulai menyiapkan rencananya.
Perempuan itu bernama lengkap Linda.
"Berita terkini melaporkan dari kota bansar yang telah mengadakan perayaannya yang ke 120 tahun, telah terjadi hal mengerikan selama perayaan, entah dari mana datangnya ribuan kelelawar hinggap di berbagai tempat dan tiba tiba bermigrasi dari arah barat, diketahui jika sedang terjadi kebakaran hutan yang ada di wilayah barat kota bansar, namun profesor dan ahli ilmu pengetahuan dari luar kota belum bisa memastikan apakah kebakaran ini disebabkan oleh api atau hal yang lain." Wartawan memberikan tanggapannya yang langsung masuk berita di radio.
"Ya ampun kasihan sekali, pasti banyak yang terkena luka." Cetus Linda yang berseru setelah mendengar berita dari siaran radio pada hari yang senantiasa cerah.
"Ada apa?" Hermawan bertanya, ia terlihat masih muda dan kini bersama sama duduk di meja menemani istrinya mendengarkan siaran acara berita di radio.
"Eh." Linda menoleh dan mendadak menjadi sangat canggung pada Hermawan.
"Ada apa sih sampai kamu berubah wajahnya menjadi serius sekali, ada apa sebab dari semua tragedimu ini. Ini bukan berita yang menarik sayang. Akan ku bantu pilihkan kata kata menarik untukmu ya, bagaimana?" Tanya Hermawan, linda tampak tersengum simpul.