
Anaya dan Janson sangat panik saat melihat Aliza yang tiba tiba menghilang dari pandangan mereka berdua, membuat suasana hati mereka menjadi tegang dan takut akan sesuatu jika Aliza kenapa napa.
"Aliza kau baik baik saja," Janson langsung menanyakan hal itu setibanya di samping Aliza.
"Apa kakak terluka?" Anaya justru panik tengah memeriksa keadaan secara langsung.
"Sudah sudah tidak apa apa kok, aku baik baik saja karena tadi sudah ditolong Bibi Amelia soalnya, maaf bikin khawatir ya." Aliza berusaha mencairkan suasana tegang.
"Eh tunggu Kak Aliza, barusan Kak Aliza bilang kalau ditolong sama seseorang yaitu Bibi Amelia, siapa dia?" Tanya Anaya.
"Begini Anaya nama itu terdengar mirip dengan nama Bibi yang suka dipanggil Meli. Jadi aku merasa kalau Bibilah sesuatu yang dicari olehmu. Keluargaku sudah memulai konflik dengan siluman itu, dan menurut cerita kak Galih sudah menelan banyak korban jiwa, tapi tidak ada yang pernah tercatat sebagai orang yang sanggup bertahan hidup dari siluman Wayana. Baru kali ini aku melihat ada yang bertahan hidup. Ceritakan padaku Dan Janson bagaimana kau bertahan selama 3 bulan di rumah itu." Tanya Aliza.
Anaya ditanya terus menerus oleh Gadis itu, selagi orang orang tidak memperhatikan mereka mobil jemputan mereka tiba di tepi jalan pintunya membuka dengan sendirinya karena sistem otomatis, mereka bertiga masuk bergantian. Aliza duduk di tepi jendela, Anaya duduk di tengah dan tepi jendela mobil lainnya diduduki Janson.
Pintu otomatis kembali menutup dengan sendirinya, perlahan lahan mobil melaju di jalanan.
Di sepanjang perjalanan Anaya betfikir apakah ia harus menceritakannya dengan detail. Kemudian ia mempunyai ide.
"Kak, nanti aku tuliskan semuanya dalam buku ya." Anaya berkata pelan.
"Baiklah," Aliza menjawab pelan.
Janson menatap hal hal yang ada di luar sana sembari terdiam diri, bosan tanpa ada yang berbicara ia mulai teringat sesuatu.
"Pak kita ke toko makanan dulu ya." Janson berkata pelan, ia tau kalau supir itu juga membawa uang.
Mobil bergerak menuju lahan parkir sebuah toko roti dan selai.
"Anaya, ayo kesini kita beli roti untukmu. Kemarin aku kan menghabiskan rotimu, sekarang giliranku membelinya untukmu. Kau bebas memilih." Janson tak perlu menunggu jawaban lagi ia langsung bergegas turun. Dan melangkah cepat ke arah toko roti tetsebut, mendorong pintunya dan melangkah masuk.
Sosoknya langsung menjadi pusat perhatian karena bukan dirinya melainkan setelah Anaya muncul di belakang Janson.
Orang orang yang sedang Antri membeli berbagai jenis roti menjadi menatap benci, siapa yang belum tau rumor paling hangat yang ada di sana, semua memang amat membenci Anaya saat ini.
Walaupun ia anak kecil, ia adalah salah satu bencana yang harus segera disingkirkan.
Janson sudah tiba dengan Anaya di salah satu rak yang penuh roti tawar, roti roti itu berjejer rapih di sana.
Salah satu staf toko malah mensekati Anaya dan marah padanya.
"Heh Anak terkutuk! Berani neraninya kau mengutuk toko ini.. Pergi cepat, kami tidak butuh pelanghan sepertimu.. Ayo tunggu apa lagi!" Bentang pegawai itu, sembari menyeret tangan Anaya dengan kasar.
Tentu saja Anaya kesakitan dicengkram sebegitu kuatnya, ia bahkan meronta ronta karena lengannya mulai memerah.
"Lepaskan! Sakit, temanku yang mau beli bukan aku!!" Anaya mendorong staf itu agar tangannya bisa terbebas.
"Hentikan!" Janson baru menyadari bahwa Anaya kini sedang diseret keluar dari toko itu.
"Sakit, sakit.." Anaya hampir menjerit harena kini tangannya sekarang sempurna kebiru biruan.
Janson melepaskan tangan Anaya dari cengkramannya staf lelaki itu.
Janson kemudian menatap tajam pada petugas itu, "Kita cari toko roti lain ya, jangan di kompleks Melati, kita kd toko roti langganan Ayahku saja." Janson mengganggam lengan yang lainnya Anaya, untuk mencegah keributan yang akan terjadi.
Seluruh orang orang disana kini berhenti memperatikan mereka.
Pintu toko roti didorong keluar oleh Janson yang sambil menggengam tangan Anaya lembut, "Dasar warga aneh. Bisa bisanya mereka tidak merasa bersalah melakukan semua ini padamu.." gerutu Janson yang marah sambil mendengus kesal karena tidak bisa membalas dengan menginjak kaki atau menggigit mereka.
Anaya masuk kembali dalam mobil berwarna kuning milik Ibunya Aliza.
Aliza terlihat memperhatikan keributan yang ada di sana.
"Tumben cepat sekali kalian ngobrolin apa saja, dan mana rotinya katanya mau beli?" Aliza bertanya lagi.
Namun bukannya menjawab semua pertanyaan yang barusan Aliza lontarkan Janson malah terlihat diam saja dan menyuruh supir untuk membawa mereka pulang segera.
"Ada apa Janson, apa ada sesuatu yang terjadi di dalam?"
"Bukan apa apa Aliza, bukan urusanmu lagi pula kenapa kau iseng tanya tanya tentang masalah Anaya pada kak Galih."
"Aku hanya penasaran kok, sialnya kan gak ada yang seperti Anaya ini selama 40 tahun, semua yang pernah mengenal waayana pasti cepat akan meninggal. Berbeda dengan Anaya dia seperti dilindungi." Celetuk Aliza.
Janson tidak menanggapi semua
Ucapan Aliza, tapi memang ada benarnya sebenarnya Anaya ini kenapa bisa sampai kebal dengan serangan Wayana.
"Sebenarnya aku tidak tau bagaimana bisa aku bertahan di rumah selama beberapa bulan, karena persediaan makanan hanya ada untuk seminggu.." Jelas Anaya.
Janson dan Aliza langsung menoleh cepat ke arahnya, mereka tidak tau harus berkata apa lagi dengan apa yang dikatakan Anaya.
"Kalau makanannya hanya untuk 1 minggu lantas bagaimana Anaya bisa tahan hingga 3 bulan ya.. " Gumam Janson, saat ini kedua anak itu saling berfikiran hal yang sama mengenai bagaimana mungkin persediaan untuk satu minggu malah jadi 3 bulan, apakah Anaya tengah dikendalikan oleh sesuatu? Fikir mereka yang masih menebak nebak tentang kebenaran mengenai Fakta tersebut.
Anaya yang duduk ditengah dan berada di antara mereka berdua menjadi melirik penasaran dengan apa yang mereka pikirkan.
Suasana hening tiba lagi saat Aliza dan Janson saling berfikir dengan fikiran mereka masing masing, Anaya tidak bisa melakukan apapun kecuali ikut terdiam bersama mereka.
Mengingat kedua orang tuanya yang meninggal di depan matanya saat kecelakaan mobil yang terjadi di danau hijau wilayah timur kota Bansar pada tiga bulan yang lalu. Membuat ingatannya melayang dan memutar kembali kenangan tiga bulan yang lalu.
...*****...
Anaya tertegun di sekitarnya bukan mobil yang ia tumpangi lagi dengan Janson melainkan lokasi danau hijau wilayah timur kota Bansar. Anaya ingat sekali jalan itu, "Bagaimana bisa aku sampai di sini.. " Anaya menoleh kesana kemari berusaha mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya.
Beberapa mobil melintas dengan tenang, Anaya memang berada di tengah jalan, ia menatap ketakutan ketika mobil itu hendak menabraknya. "Aaa.. "
Namun tidak terdengar bunyi apapun, Anaya memberanikan diri untuk membuka matanya.
Tangannya kakinya dan tubuhnya tidak terluka sama sekali. Anaya menatap lagi daerah sekitarnya. "Disini bukannya, aku yang melihat sosok anak kecil itu ya dan setelahnya.." Anaya berlari ke arah perkebunan Teh. Tempat dimana ia bertemu Gadis kecil Itu.
Setelah Anaya sampai di tempat dimana Anak kecil misterius itu berdiri ia menoleh karena mendengar suara yang tak asing di telinganya.
"Ayah, Ibu.. " Sosok Ayah dan Ibu Anaya terlihat di kejauhan, dan ia melihat dirinya yang sedang menatap perkebunan teh dengan bosan. Saat anaya terkejut melihat sosok putih, saat itulah Anaya membalikkan dirinya ikut menatap dari jarak dekat.
"Hah.. Amelia?" Gumam Anaya, ia adalah sosok yang diceritakan oleh Aliza, " Apakah semua ini benar benar hanya kecelakaan biasa, tapi mengapa Wayana sangat menginginkan dirinya untuk apa?" Gimam Anaya.