
Anaya melangkah menuruni anak tangga dari lantai tiga kediaman Janson di lorong sana, ia harus berpegangan di gagang tangga agar tidak jatuh lantainya habis di pel makanya licin.
Kebetulan Aliza lewat di tangga tempat Anaya lewat. Pakaian Anaya sama persis saat ia datang ke rumah Janson.
Aliza berhenti sejenak saat ia berpapasan dengannya.
"Anaya apa kau mau pulang dengan pakaian seperti ini? Rumahmu kan jauh, enam kilo lho dari sini. Apa kuat hanya dengan bersepeda? Kau mau pulang kan? Apa tidak diantar supaya cepat. Sepedamu juga bisa di lipat kan?" Aliza nyerocos seorang diri pada Anaya. Tapi Aliza ada benarnya, pulang ke rumah Janson untuk mengantarnya saja butuh 3 kali istirahat apa lagi sekarang. Entah ia akan bagaimana di jalan, lagi pula rumahnya itu kosong. Makanannya pun sudah habis.. Roti tawar terakhir sudah Anaya kasih pada Janson kan? Ditambah pula dengan keadaan warga kompleks nya yang memusuhi Anaya saat ini, situasinya sangat kacau. Terlebih lagi makhluk mengerikan itu masih berusaha mengendalikannya jika ia sendirian, berada di dalam rumahnya sendirian tidak membantu banyak, dan keadaan rumahnya kacau balau usai malam mencekam itu, belum dibereskan sama sekali olehnya.
Anaya saat kejadian malam itu hanya memikirkan satu hal saja, keselamatan teman barunya. Jika saja situasinya tidak seburuk itu, jika saja orang orang di sekelilingnya percaya, andai saja Bi Imah juga membelanya, andai Mang Umang dan Kak Aditya masih hidup, Bi Marni takkan menyalahkannya dan juga kedua anaknya Mila dan Dian.
Dan Andai saja kecelakaan itu bisa Anaya prediksi atau, andai ia tidak membujuk Ayah dan Ibunya untuk membatalkan bisnis dan berwisata ke danau pada minggu itu, orang tuanya tidak akan meninggal dengan tragis di depan matanya, tertabrak dan terimpit bus terlebih setelah itu meledak. Asap mengepul di mana mana dan Anaya hanya bisa menangis menyaksikannya, dia tidak bisa melakukan apa apa saat sesuatu yang mengerikan berusaha mengoyak hatinya yang mudah hancur.
Sekarang menangis tak ada gunanya bagi Anaya, sekarang ia tidak boleh kalah, sekarang ia tidak lagi ingin menjadi yang terlemah. Anaya mau tak mau harus menghadapinya.
Tapi sekali lagi kenangan itu membuatnya terenyak dan merasa sesak pedih.
Anaya menunduk menatap keramik tangga dengan wajah muram.
"Tidak apa Aliza, kau tak perlu membantuku. Sudah cukup merepotkan aku di sini, nanti yang ada sosok itu mengincar Janson dan bukan aku." Anaya berseru pelan dengan wajah muramnya, ia kembali melangkah pelan turun dari tangga.
"Anaya tunggu sebentar." Aliza kini mendekat dan menggam lengannya.
"Ada apa lagi. " Anaya belum sempurna menoleh tapi Aliza sudah memeluknya erat. "Hati hati di jalan ya.. "
Anaya bengong, balas memeluknya dan bergumam "Hmm"
*****
Seorang gadis terlihat meninggalkan rumah mewah dengan mengayuh sepeda di pelataran rumah, dilihat dari lantai dua ia melajukan sepedanya itu dengan kencang.
"Apa tidak masalah ya anak itupulang sendiri ke rumahnya?" Seseorang meliriknya dari jendela ruangannya, pemuda seusia duapuluhan lebih ini memperhatikan Anaya di kejauhan hingga sosok Anaya hilang dikelokan jalan.
Entah apa maksud dari pemikirannya kali ini, tapi Galih merasa ia harus melindungi Anak ini.
Setelah informasi yang diberikan dari Ayahnya barusan, Galih mempunyai sedikit perkiraan akan sesuatu, ia merasa rekan bisnis Ayahnya mempunyai hubungan dengan Anak tadi. Itu hanya sebuah dugaan Galih saja dan belum tentu terbukti bahwa inisial itu memang dirinya bukan? Bahkan Aliza juga bisa termasuk karena inisialnya A, tapi Aliza adalah keluarga asli Galih dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Pak Hans. Jadi Galih sangat penasaran hingga menyimpulkan bahwa Anaya lah anak tersebut.
Anaya menatap arah depan sambil mengayuh sepedanya menuju ke rumah.
Melewati jalan kecil jembatan dan toko sepeda, taman, melewati lapangan bola luas dan pertigaan di depannya, Anaya belok ke kanan. Karena disana arah rumahnya.
Ia sempat berhenti di tepi jalan beberapa kali dan meminum minuman dari botol air pemberian bi ina, teriknya sinar mentari membuat Anaya kelelahan.
Pemandangan komplek komplek rumah Janson masih terlihat hingga gerbang kompleks Anggrek A terlihat, dan Anaya berbelok arah ke jalan yang lebih besar, dia melewati beberapa pos dan portal keluar lalu ia masuk ke arah jalan trotoar dan ia berbelok ke kanan gerbang masuk kompleks perumahan melati M.
Selain mewah, rumah Janson terletak di garis belakang kompleks Anggrek, sejauh 4 kilo. Dan jarak antar komleks hanya sekitar 1 kilo, sedangkan rumah Anaya berjarak dari gerbang sepanjang satu kilo, pemakaman setempat berjarak 2 kilo dari rumahnya, setelah melewati pasar di dalamnya dan beberapa toko roti.
Namun di kompleks nya Anaya tidak diterima satu orangpun saat ini.
Anaya sama sekali tidak tau harus menyangkal isu itu dengan ungkapan apa lagi karena bicara saja ia tidak mampu, ia kalah hanya dengan tatapan seram yang terarah padanya terus menerus, tatapan itu seolah mengintimidasinya untuk tetap diam dan tidak berkicau apapun.
Sungguh ia sangat tertekan dengan isu yang dilontarkan tanpa bukti tersebut, terlebih lagi dia merupakan korban dan bukan penyebab dari semua teror dan ancaman dari mahkluk mengerikan itu.
Ia tidak tau harus menghadapinya seperti apa, saat semua orang menjauhinya dan menganggap dirinya pembawa petaka secara sepihak dan membuatnya terasingkan di kompleks itu saja sudah membuatnya sesak, kesal sekaligus sedih.
Anaya tiba di gerbang rumahnya yang terlihat terbuka, ia turun dari atas sepeda dan mulai memperhatikan sekelilingnya.
"Kenapa gembok gerbang depannya terbuka, dan dimana gemboknya? Apakah para warga kini mulai masuk seenaknya di rumahku saat aku tidak ada! Atau ada maling yang mau mencuri barang barang di rumahku?" Anaya bertanya tanya dalam batinnya dan menoleh lagi ke arah kanan dan kiri jalan raya yang lengang.
Tidak ada seorangpun yang keluar meski di siang hari sekalipun, karena kabar itu cukup membuat warga jadi menjauhi Anaya apalagi yang rumahnya dekat.
Lantas siapa yang cukup nekat untuk membobol rumahnya, mana mungkin orang itu berasal dari sekitar kompleks perumahannya.
Anaya melangkah melewati gerbang bersama sepeda yang ada di sampingnya, ia meninggalkan sepedanya untuk menutup lagi gerbang rumahnya itu, gembok yang menjadi pelindung rumahnya entah di pegang siapa karena sedari tadi Anaya menunduk mencarinya di sekitar kaki dan semak rerumputan gembok silver itu tidak terlihat secuilpun.
Ia menyerah dan masuk saja ke dalam rumahnya, ia hanya ingin tidur sekarang, urusan makanan persediaan ia bisa urus nanti.
"Aku sangat lelah,.." Anaya melangkah mendekati samping runahnya di garasi rumah, lantas menekan pintu garasi.
Pintu itu segera bergeser naik ke atas kemudian setelah Anaya dan sepedanya melintas pintu itu tertutup dengan sendirinya.
Seekor kunang kunang berwarna kuning cantik terlihat terbang mendekati pintu garasi setelah sosok Anaya sempurna hilang dibalik pintu besi tipis.
Kunang kunang itu mengedip ngedipkan cahayanya yang terlihat samar. Lantas pergi ke arah pepohonan tepi jalan.
"Bagus sekali, kau telah menemukan Gadis itu. Kau memang makhluk kecil yang pintar, dan kau harus memastikannya agar tetap aman tinggal di sana, jika perlu kasih makanan untuknya. Katakan pada hewan lain kalau itu perintahku ya kunang kunang yang baik.. " Suara yang terdengar lembut, bibirnya merah jambu menawan, kulitnya berwarna putih berkemilau kuning. Hanya matanya saja yang menyeramkan berwarna merah darah dan menyala, rambutnya terlihat ditata indah, ujung ujungnya bergelombang dan ia memakai pakaian putih bercorak hitam.
Wajahnya cukup familiar dengan seseorang, dia lantas berdiri di dahan pohon itu lalu meloncat dengan anggun ke tanah, ia pergi dengan sedikit melayang dari tanah.
Posturnya ramping dan kecil, tingginya jauh diatas Anaya, jika dibandingkan Anaya tingginya hanya mencapai bahunya saja. Wajah keduanyapun cukup mirip, hanya membedakan cara bicara, rambut dan matanya.
"Xin Pergi ya kunang kunang kecil, Jaga Adikku dengan baik.. Aku titip dia, segelnya akan segera aktif aku harus pergi." Gadis yang terlihat masih remaja itu tersenyum dan menghentikan langkahnya beberapa meter dari atas pohon, dan sesuatu rantai muncul dari dalam rumah Anaya dan mengikatnya dengan kejam. Tangan kaki dan leher, rantai itu berwarna hitam pekat dan sudah terpasang padanya sejak turun temurun, rantai abadi.