TO THE DEAD

TO THE DEAD
Kisah masa lalu



BAB 2. CERITA MANG KARMAN.


"Fariz bangun, Nak. Sudah sore." Seseorang menggoyang goyang bahunya. Fariz tersentak pelan. Lalu membuka matanya, dia melihat wajah setengah buruk rupa. Dia kaget dan refleks mundur. Mang Karman menatapnya bingung.


"Ada apa Fariz?! " Mang Karman bertanya.


"Huh..." Fariz menghembuskan nafas lega. "Tidak Paman, Fariz cuman kaget." Jawabnya, Mang Karman ber -oh pelan. Fariz memang belum terbiasa dengan wajah itu.


"Kamu pasti kelelahan ya? Habis membersihkan kamar ini." Tanpa banyak bertanya Fariz mengangguk. Dia masih bertatap muka dengan Mang Karman, tidak memperhatikan sekitar.


"Kamu hebat sekali, bisa membersihkan kamar Amelia. Sampai kinclong dan bersih begini, lho!" Mang Karman memujinya. Fariz yang di tatap Mang Karman justru menggeleng.


Fariz menatap sekitar kamar. Memang telah bersih, dan rapih. "Tidak, Paman! Fariz cuman membersihkan kamar, menyapu, dan memasukan sampah yang berserakan saja. Setelah itu, Fariz tidur. Paman yah yang membersihkan ini?" Fariz balik bertanya. Mang Karman menggeleng. "Bukan Paman, Fariz.! Paman baru saja kesini untuk melihatmu. Paman malah terkejut. Kamu sudah membersihkan seluruh kamar ini." Mang Karman tetap menggeleng.


"Kalau bukan Paman, atau aku yang membereskannya, lalu. Siapa yang membersihkan kamar ini? Ini aneh. Tadi boneka kelinci itu menghilang sekarang, kamar ini tiba tiba rapih. Tidak mungkinkan barang barang ini merapihkan diri sendiri. Ini bukan dongeng!! Siapa?? "


"Fariz." Mang Karman memanggilnya, Fariz yang sedari tadi melamun menatap sekitar, langsung menoleh. "Ngapain ngelamun?! Jangan keseringan yah, kalau di daerah lain boleh. Tapi disini Pamali .(Larangan jawa) Mitosnya, kamu nanti kerasukan." Tegurnya. Fariz menatap bingung, lalu ia mengangguk.


Matahari senja sudah hampir terbenam, Ayahnya Burhan, belum juga pulang. Fariz melangkah ke ruang tamu yang sudah rapih. Mungkin dirapihkan oleh Mang Karman. Fikir Fariz.


"Paman. Paman dimana.." Teriak Anak lelaki itu.


"Gudang.." Suara itu terdengar samar dari luar. Fariz segera melangkah ke bingkai pintu, hendak memegang gagang pintu. Namun belum sempat ia memegang gagangnya, ada tepukan beserta suara dari belakang, yang membuatnya tersentak dan menoleh ke belakang.


"Kamu, jangan keluar Fariz.. Berbahaya!" Orang yang dikenalnya justru berada di depannya sekarang.


"Paman?! Kenap-" Ucapannya terhenti, karna Mang Karman menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Ssttt.. Ayo kita ke dalam, akan paman ceritakan." Bisik Mang Karman. Tanpa banyak bertanya Fariz mengangguk.


####


Mang Karman membuat dua teh, dan diletakan di atas meja, ruangan itu hangat karna adanya api unggun di situ. Rumah Mang Karman memang memiliki cerobong asap. Fariz meneguk sepertiga teh hangatnya.


"Ada apa di luar sana paman?" Fariz bertanya. Mang Karman menatapnya.


"Kamu ingin tau?" Lelaki paruh baya itu memastikan. Fariz mengangguk mantap.


"Huh.. Baiklah. Akan Paman jelaskan." Mang Karman yang tengah memperhatikan Fariz, sekarang beranjak berdiri mengambil sebuah foto di atas tempat api unggun. Menunjukannya pada Fariz.


"Ini. Apa Paman?" Fariz menatap Mang Karman tidak mengerti, dia melihat seorang Gadis seusianya itu, tengah digandeng bapak bapak, seraya memegang boneka kelinci. Apa aku tidak salah lihat!? Boneka ini kan-


"Itu adalah Amelia. Fariz. Putri Bapak yang telah meninggal 8 tahun silam. Oleh sosok yang datang dari hutan. Namanya Siluman Hitam. Dia mempunyai taring, matanya semerah darah, sosoknya hitam sesuai namanya. Dan dia bisa mengendalikan fikiran korbannya. Aku dulu hampir membunuh Amelia, karna Siluman itu. Dan suatu hari saat kami berjalan jalan di pinggir hutan, untuk mencari kayu bakar.."


***


Amelia, Gadis berambut panjang, parasnya cantik, berkulit putih langsat, matanya coklat kemilauan, ditimpa mentari pagi. Ia sedang mengumpulkan kayu bakar bersama Ayahnya, untuk kemudian dijual ke kota.


"Wahh.. Meli hebat!! bisa dapat kayu bakar banyak. Ayah nanti letakan di motor ya!!" Meli mengangguk, Ayahnya. Melangkah baru beberapa meter. Ia lupa ada dimana itu. Harusnya mereka waspada dan tidak boleh terpisah.


Mata merah itu sejak tadi mengincar Anak Gadis itu, ia tersenyum ketika Gadis itu ditinggal sendiri. Ia langsung menghampiri Gadis itu membekapnya dari belakang.


"Ay.." Kalimat Meli tertahan. Ketika Ayahnya berbalik. "Oh, ya Meli.. Ikuti Ayah ya.. Meli.." Ayahnya berteriak panik. Segera mengejar sosok itu. Siluman Hitam itu membawa korbannya terbang dan kemudian hilang. Mang Karman merasa bersalah. Atas kelengahannya Putri satu satunya. Di bawa oleh Siluman Hitam.


Mang Karman berusaha terus mencari, selama berjam jam mencari, dan menelusuri setiap sisi hutan. Dia menemukan Putri nya di bawah pohon, sedang bersandar kaku disana, darah mengalir di lehernya. Matanya terpejam selamanya.


Mang Karman terduduk kaku. Hatinya hancur luluh, ia memeluk tubuh kaku Anaknya. Sambil menangis. Bersamaan dengan tangisnya, Sosok hitam itu tertawa jemawa diatasnya.


"Hahahahaaaa... Sekarang aku sudah bertambah kuat!!... Hahahaha... Melia. Kau budakku sekarang." Ucap sosok itu, Arwah Amelia, mengangguk menurut. Mengikuti Sosok itu.


Hari lainnya, tepat setelah setahun kematian Amelia.


Suatu kejadian ganjil terjadi di kota itu. Setiap malam, kalau masih ada anak kecil usia 8-15 tahun, masih berkeliaran. Ada yang menculik mereka, dan baru ditemukan 2 hari setelahnya. Hal itu membuat geger selama 3 tahun.


Mang karman sedang berada di teras rumahnya. Dia tau dengan kejadian itu. Tapi, itu hanya berlaku untuk anak anak. Dia sudah tua. Sosok bayangan hitam tiba tiba muncul dari arah barat. Mang Karman menatap waspada. Menoleh ke segala arah. Ia kemudian mendengar suara tangisan, ia seperti mengenali suara itu.


"Meli.." Gumamnya. Ia perlahan mendekati suara itu. Dan menemukan Gadis berpakaian putih, wajah pucat, sekarang menatap Mang Karman. "Pergi.. Ayah.. " lirih Meli. Mang karman justru mendekat, ia tau kalau itu arwah Meli, dia tidak peduli. Ia merindukannya. "Meli, Ayah merindukanmu.. Nak!!" Sekelebat bayangan hitam maju, dan menghalanginya. Mang Karman segera melawannya, dengan merapal do'a. Membuat Sosok itu menjadi lemah.


Sosok itu menggeram, membuat api di luar rumah itu melayang. Dan mengenai Mang Karman. Tepat di wajahnya. "Ayah!! Apa yang kau lakukan!!" Bentak Meli, sementara Mang Karman sedang kesakitan di separuh wajahnya.


"Jangan ikut campur budak!!" Sosok itu pergi meninggalkan Meli. Dia justu mendekati Ayahnya. Untuk memadamkan api itu.


"Ayah.. Ayah, tidak papa?" Mang Karman menatap putrinya memeluk sosoknya, namun tak bisa. Ia hanya terlihat tengah memeluk angin.


"Ayah jangan keluar lagi ya,.." Ucap Meli lirih. Mang Karman mengangguk. Berusaha tersenyum.


***


Itulah sebab wajah Mang Karman buruk rupa. Karena sosok hitam itu.


"Jadi, nama dia Siluman Hitam. Paman." Mang Karman mengangguk. Tapi Mang karman sekarang beranjak berdiri.


"Tidur lah, Fariz. Istirahat. Ayahmu baik baik saja. Dia juga tau tentang ini. Ku suruh dia menginap disana." Fariz menghembuskan nafas lega mendengarnya. Artinya Ayahnya baik baik saja sekarang. Tidak terluka.


Tapi kini ia menjadi penasaran akan boneka kelinci itu. Ia berbalik dan ingin bertanya namun, Mang Karman sudah menutup pintu untuk tidur.


Diluar sana mulai mendung, dan sekejap rintik hujan turun. Fariz melangkah menaiki anak tangga, Ia terkejut melihat boneka itu berdiri sendiri. Ini sudah kedua kalinya.


"Jangan takut, aku hanya menjagamu." Fariz berusaha tenang. Ia mengabaikan ke ganjilan itu. Dan segera tidur. Sementara boneka itu terus berdiri. Mengawasi sekitar.