
...Kalian mengerti dengan apa yang ku bilang barusan bukan?" disaat sekitar mereka tak bergerak atapun bersuara Quena berusaha meyakinkan mereka jika mereka tak seharusnya ada di sini. 'Ayolah nak, apa kalian tak ingin membalaskan apa yang terjadi dengan desa ini, dan kalian adalah orang yang ingin diusir dari desa jika kalian tau.. Penduduk disini selalu mengucilkan kalian, mereka hanya bertampang baik sebelah dan memendam dengki dan iri kepada kalian.'
Quena menatap mata keduanya, yang masih terlihat ragu ragu dengan rencana Quena untuk membuat mereka bebas.
Rey menghembuskan nafas beratnya, "Baiklah aku ikut." Rey mengangguk lalu tersenyum terpaksa, berbeda dengan Heng yang hanya terdiam.
'Nak, jauhi siluman.. Mer e ka telah-'
(Apa yang Ibu katakan ya dulu?)
Rey melihat temannya yang hanya mematung melihat tangan Rey dan Quena yang sedari tadi berjabat di depannya, setelah tangan Rey bertindak dengan menggeplak punggungnya barulah Heng tersadar.
"Apaan sih kau ini Rey, tak berubah selalu kasar!"
"Siapa suruh kau selalu melamun kalau bicara soal siluman, sekarang baru saja ketemu dengan siluman langsung yang sudah melindungi desa kau malah tak tau malu! Sopan sedikitlah," Gerutu Rey.
"Iya iya," Heng membalas kemudian mengulurkan tangannya.
"Mulai sekarang aku akan mempercayaimu, Quena."
"Aku juga mengandalkanmu Heng shafi putra dari Safha dan Hafi" Quena menyebut nama dan marganya dengan langsung dihadapannya, mata Heng terbelalak dan sebaliknya mata Quena menyipit dan tersenyum.
Mata mereka saling menatap dan Quena memberikan aura yang sedikit membuat Heng tegang saat bergengam tangan dengannya, Quena melepaskan sesaat kemudian setelah melihat keringat Heng dilihatnya.
'Shafa, Aku akan menjaga putramu ini, dan aku akan balaskan kematianmu kepada siluman itu.. Hafi.. Teganya kau membunuh istrimu sendiri untuk kekuasaan di kerajaan Yang mulia Kezi, kata kata terakhir yang harus didengar heng sangat menyakitkan ya. Beruntungnya aku menghapus ingatan itu darinya supaya tak menjadi bebannya di masa depan, aku mengirimnya ke tengah tengah orang yang salah di hutan ini, dan beruntungnya dia punya teman Rey, gadis ini kubawa dengannya karena ia berpengaruh banyak terhadap keadaan batinnya. Dan ini akan semakin menarik setelah aku merasakan aura dasyat yang menekan barusan di tepi hutan, entah kenapa auranya hampir mirip dengan aura Yang mulia Kezi.' Quena memberikan isyarat pada mereka untuk berkemas dengan singkat di rumah, tepatnya Quena yang membawa mereka setelah kekuatannya yang bekerja membereskan segala keperluan mereka.
Quena melesat bersama mereka dengan menggenggam tangannya, tubuh Heng dan Rey diubah lebih ringan dengan sihir Quena. Peralatan dan keperluan mereka masuk ke dalam balik pakaiannya, termasuk ikan tangkapan mereka di dalam baki.
Setelah Quena meninggalkan area aula desa, mereka kembali ke keadaan semula, tetapi kini wajah mereka dipenuhi dengan raut kebingungan karena mereka yang sedang marah tak tau sebenarnya kenapa, dan mereka juga telah melupakan ada Rey dan Heng yang tinggal bersama mereka selama ini.
'Penduduk seperti mereka tak usah diselamatkan juga tak apa, aku sudah muak dengan manusia macam mereka, dan tentang hutannya dan hewan. Akan ku hambat segelnya di beberapa tik hutan. Ada hutan di jarak 6 kilo dari ujung segel selebar 2 kilo yang berhasil ku tahan, dengan bahan pangan cukup selama beberapa hari. Nanti dari sana akan berlanjut ke 6 kilo selanjutnya dengan danau danau.. Setelah 3 pemberhentian lainnya. Aku akan membuat mereka benar benar bebas dari hutan yang akan mati ini.' Ketiganya masih berlari di antara dahan dahan pohon sebesar 30 senti, karena Quena yang berusia empat ratus tahun membuat perjalanan mereka cepat dan dalam beberapa menit ketiganya tiba di area perbatasan segel di utara, karena disana titik segel yang berhasil di jebol oleh Quena dengan auranya, ada jalan setapak di wilayah itu dan itu masih ditumbuhi dedaunan di tanahnya. Jalannya tak lebar hanya 2 meter, mereka terus melanjutkan perjalanan sepanjang enam kilo.
Tapi meski perjalanan itu terbilang mudah, jalan itu bisa saja pecah karena ada saja binatang hutan kematian yang menyebrang tiba tiba di area itu.
Jarak mereka dari tujuan masih berjarak cukup jauh yakni tiga kilo, dan sekarang mereka bergerak dengan aura minim, seperti aura manusia. Namun Quena berlari dengan mereka tanpa suara.
Gerakan kaki mereka cukup cepat tapi masih terbilang normal, mereka hampir tiba di post pertama dan kini masalah lain adalah jalan mereka dari belakang mulai terputus, rerumputan mulai layu di belakang sana, jarak antara tujuan mereka masih 1 kilo lagi, dan kini Quena menyuruh mereka berdua lari terlebih dahulu. Dengan sihir Quena mereka masih bisa berlari tanpa suara, sedangkan dirinya mulai memadamkan seluruh aura dan kini ikut berlari dari belakang dengan langkah yang terdengar.
Rerumputan layu itu bergerak cepat dan kini hampir sampai pada Quena, kini Quena berbalik dan menyerang gelembung pembatas hutan kematian.
Ia mencoba melubangi gelembung pemakan tumbuhan itu, terlihat gelembung itu bergoyang goyang karena tekanan kekuatan Quena.
Quena memukul menendang sambil berusaha melubangi dengan auranya yang masuk ke dalam gelembung.
Buk buk buk!
'Sial, gelembung ini lebih kuat dari sebelumnya, baiklah kau akan merasakan ini lagi..'
Quena mengepalkan dan mengisi aura yang berbeda, aura tumbuhan. Dan ia berhasil menembus pada hutan kematian, kini ia mengalirkan aura kehidupan ke arah hutan kematian, sihir itu terus menyebar sampai jarak sejauh 25 kilo meter dan terus bertambah. Gelembung yang bolong itu menyadari kesalahannya dan mulai berhenti mengganggu Quena, karena ia bukan manusia. Lantas pergi sambil memperbaiki lubang dan tumbuh tumbuhan yang dihidupkan lagi oleh Quena.
"Yah berhasil juga."
Quena melesat ke arah jalanan setapak selanjutnya dan kini ia tiba di pintunya, otomatis jalan setapak tadi tertutup lagi oleh hutan kematian, Quena meninggalkan perbatasan dan menuju rumah yang berdiri dekat perbatasan.
"Quena, apa kau baik baik saja?"
"Tadi berbahaya sekali, apa kita bisa keluar dengan selamat?"
"Tidak apa, kita lanjutkan ini sebulan lagi. Energiku terkuras banyak. Ingatlah tetap berada di dalam rumah, karena aura manusia kalian bisa terlindungi."
Mendengar perintah Quena, Rey dan Heng mengangguk tanpa protes lagi.
Kerena mereka telah memulai perjalanan bebahaya, kini taruhannya nyawa mereka atau Quena yang menjaga mereka.
'Hari ini sungguh perjalanan yang berat, bagiku. Sekarang aku hanya bisa berharap ada yang melihat auraku di luar sana aku sudah mengirimkan banyak sinyal dengan semua tenagaku, kini apakah ia menangkapnya?' Quena menatap langit yang berlapis awan biru, dan mentari cerah menyoroti wilayah itu.