
Diantara isak tangis Bi Marni, Rey tidak bisa melakukan apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa selain memperhatikan kalimat Marni.
"KAU SEMPAT BERKATA PADAKU, KALAU SEMUA BENCANA INI BERASAL DARI ANAYA KAN? Tapi kau juga ragu tentang hal itu, berita itu sudah kau dengar sedari dulu bukan? Kau bilang kau mendengarnya saat bencana besar tiba di kota bansar, tepatnya empat puluh tahun lalu. Kau mendengarnya sendiri bahwa danau di wilayah timur itu memang terkutuk. Kau belum menceritakan detailnya, kau mendengarnya dari siapa? Bangunlah kumohon! Hiks.." Isak tangis Bi Marni masih berlangsung.
"Kau bilang Imah Ini mendengar semuanya dari seseorang?" Rey menyela ucapan Bi Marni sejenak.
Bi Marni yang masih terisak sesaat setelah mendengar suara Rey keluar, ia mendongak menatap sosok wanita usia 50 tahun tersebut.
"Iya, Imah bercerita padaku begitu. Apa kau tau?" Tanya Marni pada Rey.
" Heh. Tentu saja aku tahu, karena aku juga merupakan korban Wayana dan Mayana. Aku tahu seluk-beluk kota Bansar. Marni sebenarnya di Kota Bansar tidak ada yang terkutuk. Semua lokasi di Kota Bansar adalah lokasi yang suci, semua tempat di sana sangatlah berharga, subur, dan yang pasti sangat sejuk. Bagaimana mungkin kau percaya rumor yang disebarkan oleh sahabatmu?" raih menjelaskan secara blak-blakan kepada Marni. Marni dengan ekspresinya yang tadi sedih mendadak berubah tidak percaya setelah mendengar penjelasan Rey.
"Ba - bagaimana itu mungkin, Sahabatku tidak mungkin berbohong padaku! kau jangan mengada-ada, jelas-jelas Anaya itu yang membawa kutukan kepada Kota Bansar!" Seru Marni mengungkapkan fakta yang ia tau.
"Kau tahu ada sebuah fakta yang tertutup disini , fakta yang kau ketahui itu adalah untuk menutupi satu jejak saja." Rey menuelaskan kembali.
Tanpa keduanya ketahui si sulung menyimaknya dengan saksama, ia juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dian menyimaknya diam-diam dari inti permasalahan yang mereka bicarakan.
"Sebenarnya, 40 tahun itu Wayana berkuasa di Kota Bansar, sebuah keluarga berhasil menahan nya di sebuah danau yang berada di wilayah Timur. Wayana dapat keluar dari Danau tersebut karena ulah seseorang, saat tragedi itu selesai di Kota Bansar, keluarga yang berhasil menyegel siluman hitam bernama Wayana tersebut sengaja mengarang tempat tersebut menjadi terkutuk. Ya hanya segitu yang Rey ceritakan, sedikit inti saja, fakta bahwa Gadis yang kau tuduhkan itu memang tidak bersalah, tapi petaka ada beriringan dengan kehidupannya sekarang, dan itu juga beriringan dengan Rey, Heng, kedua Putrimu termasuk dirimu. Satu Kota Bansar sekarang terlibat dalam petaka besar. Jika kau tau! Semua awal ini berasal dari para siluman yang datang. Bukan kutukan karangan itu sendiri. Rey telah bertahun tahun belajar, ini semua salah para siluman! REY MEMBENCINYA..!" Rey berteriak di akhir kalimatnya, membuat Marni jadi takut dengan ekspresi rey sekarang.
"Maaf, jika kesimpulanku salah. Aku benar benar termakan oleh fakta bohong, tolong jangan salahkan aku, maafkan aku." Marni mengatupkan tangannya untuk memohon maaf.
"Kau seharusnya meminta maaf pada Gadis yang kau tuduh, bukan Rey." Rey menatap tidak mengerti dan menyuruhnya bergegas bangun.
"Baik, baiklah." Marni sempurna berdiri sekarang.
"IBU.." Teriak seseorang, suara itu amatlah Marni kenali.
"MILA.." Marni langsung membalikan tubuhnya, wajah sedihnya langsung menjadi gembira.
"Kau selamat, oooh.. Anakku, syukurlah kau selamat, maafkan Ibu yang tak bisa melakukan apapun sayang." Marni dengan belaian tangannya mengelus kepala Mila dengan bahagia.
Sementara Dian hanya bisa melangkah pergi begitu saja, hatinya entah merasakan apa sekarang ini, sedih, marah atau kecewa. Atau malah putus asa.
"Aku mau pergi saja!" Jawab Dian.
"Kemana?" Tanya Rey lagi.
"Dian, Dian gak tau." Anak itu menunduk menatap tanah, air mata mulai keluar sedikit sedikit.
"AAAKKKHH.." Suara teriakan itu amat terdengar jelas di telinga Dian dan Rey.
"Apa yang terjadi?" Pertanyaan berikutnya terlontar, kali ini itu bukan Rey tetapi Dian yang bertanya.
Tak perlu Rey menjawabnya, karena sekarang di depan mereka ada Siluman Wanita ular sanca emaa, bernama Mayana.
"Iibu.. Milla.." Dian tidak bisa berkata apa apa lagi sekarang, hatinya hancur lebur menyaksikan kedua keluarga yang ia punya sekarang terbaring sekarat.
Marni dan Mila telak menerima tusukan di bagian jantung, meski tidak tepat di jantung pedang itu menyerempet jantung mereka, darah segera membanjir di sekitar keduanya.
"IBUUU...MILAAA!" Dian akhirnya menjerit melihat keduanya tengah kesakitan.
"Jangan! Kau tidak bisa ke sana bocah!" Rey menarik tangan Dian karena sedang nerusaha menghentikannya.
"Aku harus ke sana! Lepas!" Dian tetap saja meronta.
"Wah wah Rey, lepaskan saja Anak itu. Biar aku kirim dia bersama Bibinya!" Mayana berkata lembut dengan nada buatan, seolah bertingkah manis di depan calon korbannya.
"DIA IBUKU!" Sergah Dian.
"Oh, ya? Bukannya kau membencinya?" Tanya Mayana basa basi. Dian segera menggeleng mendengar kalimatnya.
Mayana tertegun.