
Kezi terus memikirkan hal tersebut sepanjang perjalanan, ia masih berada di keramaian pasar. Kezi mencoba bersikap normal kembali.
Buah buahan yang ia bawa ini tidak lain untuk Laras, ia ingin membantu secara tidak langsung menggunakan wujud yang seperti ini, sebenarnya terlepas dari anehnya seorang Nenek penjual barang barang itu, benda yang kezi beli berupa gelang logam perak ini amat nyata. Dapat disentuh, dan tidak hilang mendadak.
'Ini artinya, misteri selanjutnya yang akan berkaitan tentang sejarah kerajaan atau, silsilah Siluman! Aku belum pernah melihat buku biru secantik itu. Akh.. Sudahlah aku kan ingin bertemu Laras.' Kezi lantas mengabaikan hal ganjil yang ia alami, dia terus menembus pasar dan akhirnya tiba di tepi hutan.
Dengan senang hati ia menyusuri setiap sisi hutan.
*****
"Aaaakkkhhh... Tolong!!" Laras berteriak parau dan terus berlari, beberapa saat lalu ia masih berada di tepi sungai dan melihat banyak binatang berbahaya, ia segera melangkah pergi. Namun kakinya tidak sengaja menyandung sesuatu.
Dan itu adalah ular cobra, ular itu yang merasa terganggu oleh Laras, ia mengeluarkan bisa dan ingin menggingit Laras, tapi karena membawa sebuah payung rusak, Laras melindungi diri dengan itu.
Ular itu gagal menyerang Laras, namun hewan itu mendekati Laras lagi, Laras tau kali ini ia harus berlari.
Dan Laras berteriak di dalam hutan karena dikejar ular itu.
Kezi di kejauhan mendengar teriakan walau samar, bibirnya menyunggingkan senyum, ia segera melesat cepat ke arah sumber suara.
Dan lihatlah, sekarang Kezi hampir tertawa melihat Laras yang sedang dikejar seekor ular.
Tentu saja kezi tidak langsung muncul di sana karena Laras akan merasa sangat heran, bagaimana tidak heran dengan sebuah pertolongan yang tiba tiba datang dengan mendadak itupun hanya untuk Laras seorang, makanya ia disana hanya untuk menghentikan ular itu saja.
Kezi mengambil busurnya dan anak panah. Sekejap ia melihat bidikan dan...
Slash.
Panah melesat cepat dan hanya menganai ekor ular. Ular cobra itu nampak kesakitan.
Kezi mencoba bertari cepat ke arah Laras dengan ekspresi bingung.
"Astaga, apa ini! Aku seharusnya memanah rusa bukan ular, eh apa kau baik baik saja nona?" Kezi bertanya ramah sambil mengulurkan tangan membantu Laras yang terduduk di tanah, terlambat sedikit Laras tadi sudah di gigit ular cobra yang cukup berbisa.
Laras mengangguk pelan, ia menepuk nepukan pakaiannya.
Kezi tidak memberhatikan ia justru sedang memegang ular cobra itu, ular itu seperti tau siapa Kezi, ia tidak begitu agresif.
"Eh, itu berbahaya tau! Cepat buang itu!" Laras baru menyadari kalau Lelaki di hadapannya bermain dengan ular cobra yang hampir menggigitnya.
Mengdengar seruan Laras barusan, Kezi hanya menanggapinya dengan gelengan pelan.
"Tidak masalah Nona, ular seperti ini biasa aku temukan di hutan. Bukan masalah besar." Kezi menjawab dengan ucapan normal, dan suaranya juga terdengar berbeda dari suara aslinya.
Melihat tingkah pemuda ini, Laras menggeleng geleng sendiri dibuatnya. Meskipun penampilan Kezi terlihat wajar sebagai pemburu, tentu sedikit berlebihan karena terlalu santai dengan seekor ular berbisa.
"Lebih baik kau buang ular itu, aku saja yang tidak sengaja menyandungnya hampir tergigit, lebih baik cepat buang.." Laras mengerutkan dahinya, alisnya menurun ke bawah menandakan ia yang sedang marah.
"Hmm.." Kezi sedetik mendengar desis desis Ular itu. (Sebenarnya Gadis ini hampir menginjak telurku, makanya aku ingin menggigitnya Pangeran Kezi. Tolong lepaskan aku, lihat ekorku terluka. Maaf jika apa yang ku lakukan berlebihan..) Desis desis ular berhenti, Kezi sesaat mengangguk angguk pelan.
Laras sedikit kikuk melihat Pria itu hanya terdiam mematung di hadapannya, seperti tengah memahami sesuatu.
"Hh?" Laras lantas menatap ke atas, karena tubuh Kezi lebih besar 40 Inci darinya.
"Aku akan melepaskan Ular ini, tapi aku punya satu pesan untukmu!" Kezi berkata seolah datar dan tidak peduli, ia hanya ingin menyampaikan pesan sang ular cobra betina itu pada Laras, tapi supaya terlihat normal. Kezi yang menasehatinya.
"Apa? Pesan apa?" Laras bertanya tanya seketika.
"Kalau kau jalan jalan sembarangan, ingat saja perhatikan sekeliling. Pastikan kau tidak mengganggu hewan atau memang sengaja melakukannya. Ini hutan, bukan desa. Aku akan kembali berburu." Kezi membawa Ular itu menjauh dari Laras, Kezi meletakan lagi induk Ular di tepi sungai tempat sarang telurnya. Kezi lalu meninggalkan tepi sungai.Pemuda itu Beranjak mendekati semak tempat ia keluar tadi. Membawa perbekalan buahnya yang diikat dengan kain berwarna coklat tua.
Laras menjadi murung menatap tanah, merasa bersalah sekaligus berhutang budi pada Pemuda itu.
Kezi sengaja berjalan tidak jauh dari tempat Laras murung disana.
"Ahh aku lupa, nah Nona apa boleh saya bertanya suatu hal? Hanya satu." Kezi berkata datar kembali pada Laras.
Wajah Laras terangkat lalu berkata, "iya tentu saja." Wajahnya sedikit ceria.
"Hal apa yang bisa saya bantu?" Laras langsung mendekat ke arah Kezi dan berada tepat 15 Inci di hadapannya.
Mata keduanya saling menatap, seketika dedaunan berguguran dari atas, kedua jari Kezi menjentikan kecil saja. Pepohonan rindang di sekitar mereka mendadak berbunga, warna kuning, pink, biru dan ungu memenuhi beberapa pohon itu. Lantas angin berhembus pelan membuat bunga itu jatuh seperti di petik dengan lembut. Lantas perlahan lahan jatuh di sekitar Laras dan Kezi.
Laras belum menyadari bahwa ada jutaan bunga yang jatuh beriringan di sekitar mereka, tatapan Kezi yang dingin itu membuat waktu seolah berjalan dengan lambat. Laras bahkan tidak bernafas ketika menatap mata Kezi sejak awal.
Bunga warna warni yang telah jatuh beriringan mendadak cepat melayu, dan kering. Bunga yang akan jatuh di atas juga dihentikan dan salah satu bunga itu terjatuh di atas kepala Laras.
Tangan Kezi mendadak terjulur mengambilnya. Dengan santai ia menyelipkan bunga biru muda itu di telinga Laras, laras hanya memandangi Kezi yang melakukan itu. Seolah ia tidak bisa menolak akan tindakan Kezi.
"Apakah kau mau menemaniku makan buah?" Kezi bertanya dan tangannya kembali di sisinya.
Laras mengalihkan pandangannya dari mata Kezi, ia merasakan Jantungnya berpacu di luar kendali saat ini. Ini merupakan hal yang tidak pernah Laras alami, dan baru sekali ia rasakan suasana canggung bercampur rasa malu yang timbul di benaknya. Laras yakin saat ini ia merasakan pipinya yang jadi menghangat dibanding sebelumnya.
"Bo- boleh.." Laras berusaha mengabaikan hal ganjil yang di alaminya, dan berusaha bersikap normal di depan Kezi.
"Baiklah kalau begitu, aku membawa banyak buah di sini, lihat!" Kezi mengangkat kain coklat yang lumayan besar, menunjukan benda itu pada Laras.
Laras hanya tersenyum simpul menatap benda itu.
*****
Laras berjalan terlebih dahulu ke rumah tua, ia sengaja melakukannya agar Pemuda itu tau arah menuju ke sana.
Hanya 15 menit berjalan dari sisi sungai, keduanya sampai di rumah yang baru baru ini ditempati Laras, Kezi menatap kagum pada Laras. Ia telah merapihkan separuh rumah itu sendirian.
Padahal umurnya terbilang belia, Laras berumur 18 tahun saat ini. Laras ramah menyambut tamunya, mempersilahkan duduk di rotan anyaman yang baru jadi separuh, hanya selebar setengah meter, Laras menambahkan kain sebagai alas tambahan.
Kezi menghentikan apa yang Laras lakukan, kezi punya solilusi lebih baik.
Kain tempat membungkus buah dijadikan alas saja. Laras tidak menghentikan Kezi, ia hanya mengucapkan "Terima kasih." Pada kezi.