
Shi ya sekarang telah merasa lega sekali, telah menceritakan hal yang seharusnya kepada Kezi Kakaknya. Meskipun sekarang ada yang mengganjal hati dan benaknya saat ini. Sebenarnya hal apa yang akan membuat Ayahnya marah pada Kezi? Fikirnya. Namun Shi ya tidak ingin ikut campur lebih dalam lagi. Itu bukan urusannya.
Sesudah Shi ya benar benar pergi dari kamarnya, Kezi segera beranjak dari tempatnya, ia ingin keluar lagi dari istana Hirina dan menyelinap keluar diam diam. Hal itu Kezi lakukan hanya demi bertemu kembali dengan Perempuan manusia itu, entah kenapa Kezi terus menerus memikirkannya. Perasaan itu yang membuatnya bertindak nekat.
*****
Kezi kembali melintasi hutan KIONH dengan menunggang Kuda putih liar dari hutan.
Rambutnya yang panjang sebahu melambai lambai ke belakang di terpa angin sepoi sepoi. Hanya sekitar sepuluh menit saja Kuda itu sampai di daerah perbatasan.
Daerah itu bukan daerah yang ramai, Pangeran sudah tau kalau perbatasan resmi akan bertemu dengan beberapa pasukan kerajaan, jadi ia membuat daerah perbatasannya sendiri. Bukan sesuatu yang mencolok hanya gua alami yang terhubung dengan dunia manusia.
Kuda putih itu hanya mengantarnya sampai sana, kemudian hewan itu meninggalkan Pangeran Kezi sendiri. Kezi merasa senang karena ia akan bertemu dengan sosok Wanita manusia itu lagi. Dadanya langsung menggebu gebu hanya memikirkannya saja. Kali ini ia berencana untuk mengenalnya secara keseluruhan.
Gua itu di dominasi dengan tanah di bagian bawah dan bebetuan rata dari atas, lebih mirip dengan terowongan. Panjangnya bisa mencapai ribuan kilo meter. Jalan itu juga sebagai medan penyelundupan pasukan kerajaan, yang terjadi di masa lampau, bahkan sebelum adanya kerajaan Hirina ataupun kerajaan seberang.
Pangeran Kezi membuat terowongan baru, tapi ia harus membuat jalanan yang menuju ke atas terlebih dahulu, Kezi berhasil membuat semua itu.
Kezi memanjat dari batu ke batu, ia harus melakukannya secara normal, karena ada suatu pelindung yang mencegah kekuatannya, jadi ia tidak bisa menggunakannya saat itu. Dengan tenaga yang luar biasa yang ia miliki, tidak begitu sulit memanjat setinggi 20 meter.
Setelah sekian menit ia sampai di ujungnya.
Kezi muncul dari lubang tikus seukuran 1/2 meter, di sebuah bukit yang tinggi dan jauh dari perkampungan manusia di bawah sana, Kezi berusaha membaur dan mengubah wujudnya, dalam sekejap rupa itu berganti. Pangeran Kezi sekarang menghilangkan kulit putih mengkilatnya, berganti dengan kulit kecoklata yang terlihat umum di mata manusia, ia mengubah pedangnya menjadi Panah lengkap dengan busur. Mengubah rambut nya yang hitam sebahu menjadi lebih pendek, dan yang paling penting lainnya, mata suara, baju dan tak lupa membawa beberapa uang keping.
"Aku akan membeli beberapa hal dulu lah di desa kecil itu." Kezi selesai merubah penampilannya, ia sekarang melangkah santai ke arah pedesaan kecil yang cukup ramai di bawah.
Anak anak kecil yang terbilang gelandangan berlalu lalang, sedang menjual beberapa ikan kecil. Atau sekedar memberi bantuan ringan kepada orang orang, tapi sebagian menolak. Ada berbagai macam orang yang Pangeran Kezi temui saat itu.
Kezi lebih tertarik kepada Seorang Nenek tua yang tengah menjual barang langka padanya.
"Apa yang anda jual Nek?" Kezi bertanya setelah Orang tua itu menawarinya beberapa benda.
"Saya menjual berbagai macam benda langka dan tidak biasa Nak, benda benda ini sebelumnya membuat saja takjub, tapi saya tidak ingin menyimpannya lagi." Nenek itu berkata sambil tersenyum simpul.
"Ahh.. Aku mengerti, aku akan membelinya Nek." Kezi tersenyum kepada Nenek itu.
Nenek itu mengangguk dan mempersilahkan Kezi memilah milah barangnya, dan ia bahkan membiarkan kezi mencobanya.
Kezi sangat terkejut, rupanya benda benda itu memang sangat tidak biasa.
Kezi ingin sekali membukanya, ada tangan yang lebih cepat menepik tangan Kezi.
Plakk
Kezi menoleh ke arah Nenek tadi. "Nak, kau boleh memilih apapun yang ada di hadapanku, kecuali buku itu!" Nada Nenek tadi sepertinya agak berubah.
Kezi tertegun sesaat, ini aneh di matanya, Nenek ini sebenarnya terlihat normal seperti manusia lainnya, tapi ada satu hal yang sangat berbeda darinya.
"Bau Nenek aneh, kenapa Nenek memakai banyak kepala kerangka di kalung Nenek?" Kezi bertanya sambil menunjuk kalung Nenek itu yang sudah seperti kumpulan tulang gagak yang tersusun rapih sekaligus berbau aneh.
"Oh, ini. Nenek kumpulkan semuanya Nak, silakan pilih saja. Bukankah kau tidak punya waktu banyak sekarang?" Nenek itu berkata lagi.
"A.. Anda.." Kezi benar benar tidak percaya.
"Nak, kau mau memilih atau tidak?" Nenek itu berkata lagi.
"I- iya." Kezi beranjak memalingkan tatapannya ke benda benda itu, Kezi hanya memilih gelang logam perak yang berkilau putih.
"Aha Nak, kau memilih dengan baik. Konon katanya benda ini bisa menyembunyikan aura, jati diri atau sebagai alat penyamaran yang baik. Aku mempelajarinya dulu. Tapi semoga benda ini membantumu, kau Pangeran yang baik nak.." Di akhir kalimatnya Nenek itu berkata lirih sekali, hingga itu tak bisa didengar oleh Kezi.
".. Aku permisi.." Kezi membayar ke Nenek itu dan berbalik ke arah penjual buah dan lainnya.
Nenek tadi tersenyum lebar, ia beranjak cepat dari sana. Seolah sosoknya tidak pernah ada di tengah para penjual di pedesaan.
"Pak saya mebeli buah dan beberapa makanan." Kezi berkata pada penjual buah itu, penjual mengangguk tidak banyak bicara, segera menyiapkan.
"Apa anda tau dimana tempat tinggal Nenek yang menjual barang aneh?" Tanya Kezi lagi.
"Penjual mana? Apa yang kau maksud Nak?" Tanya penjual itu bingung.
"Saya barusan kan mengobrol dengan Seorang Nenek tua pak! Anda tidak tau?" Kezi terus terang menjelaskan.
"Kau itu tidak bicara pada orang, tapi pada sebuah pohon. Lihatlah lagi.. " Tunjuk penjual buah, dan menggeleng geleng kemudian.
"Nak, kau di perhatikan orang orang sejak tadi. Mereka bertanya tanya ada apa denganmu.. Aku juga merinding tadi melihatmu mematung tanpa bicara, aku kira kau terkena sesuatu dari pohon itu. Ternyata kau baik baik saja. Syukurlah, jangan kau mendekati beringin tua itu. Berbahaya sekali." Kezi paham saat itu, kenapa ia merasa aneh sejak tadi dan merasa di perhatikan.