
Sinar mentari pagi mulai muncul sedikit demi sedikit dari ufuk timur, sinar yang mampu menyapu semua kegelapan malam yang mengekang, dan hanya menyisakan sedikit kegelapan yaitu bayangan.
Banyak kendaraan yang mulai mematikan lampu pada kendaraannya, meski kelengangan jalan raya hanya berlangsung saat dini hari, jalan raya kini kembali dipenuhi oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.
Klakson klakson dan keramaian bertebaran di sana sini. Percakapan berbagai hal terdengar bersaut sautan bagai kicauan burung.
Salah satu mobil berwarna abu abu melewati jalan yang cukup lengang, ia berbelok di perumahan melati M.
"Aku tidak sabar melihat Gadis kecil itu," Sosok yang berada di bagian belakang kemudi menyeringai tipis. Sopir yang mengemudikan mobil menjadi sedikit jeri melihat senyuman majikannya.
Mobil abu abu yang mewah itu kini telah sampai di depan rumah lantai tiga, gerbang yang cukup lebar itu masih terkunci oleh gembok, nuansa rumahnya pun sepi, seperti ditinggalkan oleh sang pemilik rumah.
"Maaf Pak, kita tidak bisa masuk. Sepertinya rumahnya kosong,kebun dan halamannya pun terlihat berantakan. Seperti tidak diurus beberapa bulan." Sopir itu menyimpulkan.
"Keluar dan buka gemboknya secara paksa, aku ingin benar benar memastikannya." Tegas sang majikan.
Jika itu terdengar dari telinganya itu berarti tak ada kata lagi yang bisa sopir itu ucapkan, ia membuka pintu mobil dan beranjak membuka gembok itu dengan kunci yang disediakan majikannya, kunci itu cocok dan gerbang rumah itu terbuka.
Gerbang rumah Anaya sempurna terbuka. Anaya anak dari Almarhum Hermawan dan Linda sedang berada di kediaman Janson dan ia tidak tau rumahnya kedatangan orang asing, termasuk tidak tau apa yang akan dilakukan orang asing itu terhadap kediamannya.
Mobil milik Hans sempurna sampai dan pemiliknya keluar dengan sopir yang siap sedia melayaninya.
Hans menatap sekeliling rumah Hermawan yang tampak mengenaskan, sangat tidak terurus dan kotor.
"Apa yang terjadi pada Hermawan, mengapa ia meninggalkan kota ini? Bukankah ia bilang akan menetap lantas dimana sekarang Hermawan jelek itu!" Gumam Hans.
Secara kebetulan salah seorang wanita paruh baya lewat di depan rumah Anaya. Itu tetangganya Bi Imah. Rupanya setelah mengatakan hal yang menyakitkan kepada Anaya ia tidak pindah dari kediamannya. Ia masih menetap di sebelah rumah Anaya, Bi Imah masih tetangganya dan ia juga tau Anaya sedang tidak ada.
Dengan mulutnya yang bagai petasan ia bisa dengan mudah memberikan berbagai macam informasi secara blak blakan.
"Eh, kenapa ada orang datang ke rumah Gadis terkutuk ini? Siapa orang itu." Bi Imah memperhatikan gerak gerik Hans di kejauhan, rasa penasaran membuatnya melangkah mendekati gerbang dan membuat gerbang bergeser.
Kritt..
Jelas saja Hans mendengar bunyi itu karena jaraknya hanya 5 meter, dan itu sangat kencang.
"Eh, siapa anda?" Hans berbalik dan menatap Bi Imah dengan rasa penasaran yang berbeda.
"Bukannya saya yang harus bertanya, kau siapa? Kenapa datang ke rumah terkutuk ini!" Imah berseru dengan nada menjengkelkan.
"Terkutuk, apa maksudnya?" Hans menatap bingung pada penjelasan Imah yang setengah setengah. Hans sudah tiga tahun tidak bertemu Hermawan, ia datang karena suatu berita mengejutkan beberapa bulan lalu. Berita kecelakaan Hermawan tapi Hans tidak membaca isinya hanya tajubnya saja.
"Apa anda tau kecelakaan yang terjadi di wilayah wisata danau hijau yang ada di bukit sebelah timur Kota Bansar? Kecelakaan itu menewaskan dua orang Nak." Jelas Bi Imah.
"Lantas apa hubungannya dengan kutukan? Dan siapa saja korbannya kalau boleh tau?" Hans menjadi penasaran, bisa jadi saja Hermawan dan Putri keduanya yang tewas, wajahnya amat gembira.
Bi Imah mengangguk tapi ia berseru, "Sebaiknya kita bicara di serambi rumahku nanti ku buatkan teh kalau mengobrol di sini tidak enak, Mari.." Bi Imah bicara ramah pada Hans.
Hans tidak keberatan soal pindah tempat, yang terpenting berita itu yang ia perlukan untuk didengar.
*****
"Jadi Bu bisa anda jelaskan mengenai kecelakaan itu?" Hans berseru pelan karena ia tidak suka melihat tatapan bengong Imah yang suka sekali menatap wajahnya. Memang ada apa di wajahnya sampai membuat imah terdiam.
Bi Imah tersentak pelan dan menghilangkan lamunannya sejenak, " Maaf nak saya ini terkadang suka lupa, saya melamun karena wajahmu mengingatkan saya dengan putra saya yang pergi.. Jadi tadi sampai mana ya?" Tanya Bi Imah, Hans mendengus, "Kecelakaan di danau timur, dan aku bertanya korbannya siapa!" Wajah Hans berkerut pelan karena kesal karena waktunya yang penting terulur sia sia hanya karena nostalgia Ibu Ibu tua ini, fikirnya.
"Cepat jelaskan waktuku tidak banyak, aku harus berkunjung ke rumah rekan bisnisku!" Celetuk Hans mulai tidak sopan.
"Baik baik, jadi korban kecelakaan itu ada dua yaitu sepasang suami istri yang tinggal di rumah itu.. " Jelas Bi Imah.
Hans menoleh terkejut atas apa yang didengarnya barusan, "apa.. Jadi yang meninggal kesayanganku dan si jelek itu!!" Wajah Hans berubah sedikit seram dan tangannya menggebrak meja, membuat dua cangkir teh terjatuh dan pecah. Wajah Hans kini menatap Imah dengan mengerikan.
"I, iya. Dan Anaknya selamat tuan tapi dia.. "
Tidak peduli dengan penjelasan yang akan keluar selanjutnya, Hans langsung memalingkan wajah dan beranjak pergi saat itu juga.
"Aku kira si jelek itu dan putri keduanya yang meninggal, tapi malah kesayanganku! Menyebalkan!" Hans melangkah cepat lalu membuka gerbang kecil, secepat kilat pintu mobil dibuka oleh sopirnya dan Hans berkata pelan. "Kita pulang, nanti saja ke rumah rekan bisnisnya tidak penting, dan cari tau tentang kecelakaan yang menewaskan kesayanganku!!" Hans berseru galak karena moodnya rusak.
Bi Imah merasa mati rasa sesaat, entah siapa yang berbicara dengannya. Dia orang yang aneh sekaligus misterius. Dia bertanya tiba tiba dengan korban kecelakaan Anaya padahal belum tentu dia keluarganya, dan Bi Imah lebih bingung dengan panggilan untuk si "Kesayanganku" ini siapa.
"Apa dia pria yang menyukai nyonya Linda? Dia pria yang tidak wajar rupanya.. Mengerikan!" Bi Imah bergegas berdiri dari duduk dan segera masuk ke rumahnya dengan terburu buru.
*****
Ketukan pintu terdengar berkali kali dari luar kamar. Yang mengetuk ngetukan pintu barusan adalah Anaya.
Ia sedang membuat Janson bangun dari kamarnya, Bi ina yang kemarin menyelimuti mereka membangunkan keduanya dengan paksa, karena Anaya sedang menginap sementara ia jadi tidak enak jika dibangunkan dengan susah jadi walau masih mengantuk ia bangun sedangkan Janson digendong oleh pembantunya. Yah dia memang Putra pemilik rumah jadi wajar diperlakukan demikian.
Kini Anaya mengetuk ngetuk kamar Janson karena ia ingin pergi kembali ke rumahnya dan berpamitan padanya.
"Hah dasar Janson, sampai kapan aku disini terus, aku harus pulang kan kata bi imah juga aku sudah tidak perlu membaca sisanya kan. Karena sisa bukunya cerita Paman Fariz. Janson buka pintunya aku mau pulang nih.." Anaya menyerah untuk mengetuk lagi, tidak terdengar apa apa dari dalam kamar.
"Eh ada Anaya, " Pembantu bernama lengkap Raina ini menyapanya di pagi hari yang cerah.
"Bi Ina," Anaya mendongak melihat seseorang yang tadi bicara.
"Kenapa kamu mengetuk sekeras ini, ada apa?" Tanya Ina.
"Begini Bi, aku mau pulang tapi mau bilang dulu ke Janson.. Tapi dia masih tidur." Anaya menunjuk pintu kamar yang sedari tadi diketuk dengan sia sia.
"Ooh ya sudah nanti Bibi yang sampaikan ya, kamu kalo pulang ya pulang, nanti bibi sampaikan. Trimakasih karena sudah merawat tuan muda, dan maaf kalau sikap Bibi kasar pada Anaya." Bi Ina jelas hafal kebiasaan Janson, ia akan bangun saat jam 07.00 tepat. Dan ini masih jam setengah tujuh.
"Iya, tidak apa apa bi." Percakapan mereka masih berlangsung, Anaya menjawab lagi.
"Apa lukamu masih parah? Biar bibi ganti perbannya ya?" Bi ina menawarkan.
"Eh, tidak usah bi, nanti di rumah anaya sendiri saja. Ya sudah anaya mau pulang dulu ya." Anaya melangkah setelah ucapannya akan disampaikan.
"Hati hati Nak." Bi Ina membalas.