TO THE DEAD

TO THE DEAD
Pulang ke rumah Heng



Perdebatan kecil itu usai saat matahari telah mencapai jam makan siang. Tepatnya pulul 12.40 menit.


"Hah, sudahlah Anaya. Kalau kau tidak mau berciuman lagi tidak apa - apa." Janson yang tadi duduk beranjak berdiri dan mulai melangkah pergi.


"Dari mana kau tau kalau orang pacaran itu harus berciuman? Kau tau dari mana coba, ternyata kau banyak berubah ya!!" Anaya bertanya di kejauhan.


"Aku menanyakannya pada kakek Heng lah. Beliau yang bilang, bahkan Dian saja tau tentang hal itu. Itu pasti Firts Kissmu ya. Aku bisa tau karena kau belum berpengalaman." Janson menjelaskan.


"Eh, dari mana kau tau? Dan apa kau pernah mencium Gadis lain HAH!" Anaya berseru galak.


"Tidaklah, itu juga Firts Kissku padamu. Aku mencontohkannya pada bantal kok, bukan pada Gadis lain." Jelas Janson.


"Buahahaha.. Jadi Firts Kissmu itu bersama bantal!!" Anaya malah tertawa.


"Huhhh kok malah tertawa!" Janson cemberut.


Anaya menggeleng gelengkan kepalanya, sejenak meraih sapu tangan di kantungnya.


Kali ini Anaya yang mendekat pada Janson. Tangannya terjulur mengelap bibir Janson yang penuh liur mereka berdua.


"Dari mana kau tau aku suka bunga mawar, Janson? Menyiapkan ini sedari kapan?" Anaya bertanya kembali sembari menghilangkan air liur di bibir Janson. Setelah selesai Ia menghilangkan air liur di bibirnya sendiri.


"Aku menyiapkan ini sedari pagi, dan tau sejak lama, saat pertemuan pertama kita. Saat kau memperlihatkan isi lemarimu.."


(Eps. "Mati lampu" yang hilang)


Anaya memilih milih bajunya yang berada di lemari, ia tengah bingung.


"Kau kenapa Anaya?" Janson terbangun dari tempat tidur Anaya dan mendekat padanya.


"Ini Janson aku tengah bingung harus pilih baju yang mana, soalnya bagus semua." Anaya menunjuk ke dalam lemari.


Janson melihat seluruh lemari Anaya yang penuh dengan pakaian bermotif bunga mawar, sepatu, hiasan rambut, bando, dan lainnya serasi bunga mawar.


'Jadi Anaya suka bunga mawar merah toh..' Janson tertegun.


"Hei, Janson kok bengong!" Anaya menepuk pundaknya.


"Jadi yang mana?" Anaya bertanya.


"Yang mana saja Anaya. Kau cocok kok memakainya." Jawab Janson.


Anaya mengangguk segera ke dalam kamar mandinya. Hendak mandi dan memakai baju yang ia bawa.


(Flashback Off )


Anaya baru ingat kejadian malam mati lampu itu. Usai berganti baju mereka sama sama membereskan kekacauan di lantai 1 dan setelah itu bergegas keluar dari rumah, beranjak menaiki sepeda berdua untuk datang ke rumah Janson. Anaya bertemu dengan Fariz Ayahnya Janson.


"Oooh, itu ya.. Apa yang kau rasakan saat Wayana akan melemparmu dari atap? Kalau aku khawatir sekali padamu malam itu.." Anaya berterus terang.


"Ohh kau menghkawatirkanku! Kenapa baru bilang sekarang Anaya?" Janson terperangah.


CUBIT!


"Aw.. Sakit!" Rintih Janson.


"Baru bilang apanya, bukannya ekspresiku jelas ya, aku menangis tau sepanjang tangga lantai tiga dan atap!" Anaya berseru hampir mencubit Janson lagi.


"Iya, iya deh paham! Udah udah.." Janson menghentikan gerakan tangan Anaya yang bersiap mencubit pinggangnya lagi.


"Mau pulang ke rumah Kakek Heng tidak? Aku lapar!" Janson berseru setelah menghentikan Anaya.


"Ya sudah yuk pulang Janson, perutku juga lapar." Anaya menyetujui.


"Eh sebentar. Kenapa baru ingat sekarang, Anaya kau belum menjawab pertanyaanku Anaya. Jawab dulu!" Janson berseru.


"Pertanyaan yang mana?" Anaya berseru menghentikan langkahnya yang mulai menyusuri jalan setapak berkerikil juga dipenuhi rumput hijau.


"Aku kan menembakmu tadi, masa kau lupa sih Anaya!" Jelas Janson.


"Ooh itu..


Nanti, Aku belum memikirkannya Janson, lagi pula kita belum remaja. Tunggu kalau aku masuk SMP. Baru ku jawab." Ujar Anaya.


"Umurmu kan belum genap 13 tahun Janson, umurku apalagi masih 10 tahun lebih 7 bulan. Aku masih termasuk anak - anak. Masih 7 hari lagi usiamu genap. Kita juga akan pulang ke kota Bansar. Masa Anak anak itu tak akan terulang dua kali Janson. Tapi yang aku fikirkan sekarang adalah aku harus tinggal di mana? Rumahku hangus terbakar, gudang uang Ayahku juga. Sertifikat tanah, bahkan buku pelajaran Ibuku yang tersimpan di dalamnya. Semuanya. Hanya sepeda di luar rumah yang tidak ikut terbakar, aku meletakannya di luar rumah. Tapi bisa jadi di ambil warga.." Anaya berseru sedih.


Janson ikut tertegun dengan Fakta setahun lalu.


"Benar juga, aku lupa ya.. Dan itu cukup mudah Anaya. Aku akan meminta Ayahku agar membangun rumah di tanah lain bagaimana, atau membeli rumah di dekat Kompleksku."


Janson memberi solusi.


"Eh, tidak usah.. Tidak perlu, itu terlalu berlebihan.." Anaya menolak.


"Memang Ayahmu mengelola bisnis apa?" Janson bertanya.


"Ayah? Sebenarnya aku kurang tau sih bisnis apa, tapi aku sempat bertanya sih.." Anaya mencoba mengingat ingat.


("Ayah ayo pulang!!"


"Sebentar Anaya! Sampai mana kita tadi?"


"Bisnis Wisata Tuan!"


"Jadi jika situs wisata itu ramai, kita bisa meraup keuntungan berpuluh puluh juta--")


"Bisnis Wisata.." Jawab Anaya.


"Jadi itu sebabnya kalian sering ke danau hijau di wilayah timur, danau itu milik siapa?" Tanya Janson.


"Milik Paman Hans, teman Ayah. Dia bangkrut. Lalu Ayah membelinya karena murah. Ayah menyuruh Kak Aditya membeli beberapa toko juga di dekat sana." Anaya menjelaskan.


"Berarti siluman hitam baru lepas saat danau ramai itu tiba tiba sepi ya, eh salah.. Siapa yang mencabut tongkat aneh itu..? Apakah Paman Hans teman Ayahmu?" Banyak sekali pertanyaan yang Janson lontarkan.


Anaya menggeleng tidak tau sebanyak itu.


Misteri ini belum sepenuhnya terungkap.


Keduanya masih menikmati perjalanan, sampai berbelok ke jalan bebatuan yang sedikit berlumut.


"Kalau kau menjawabnya saat suasana sepi, nanti aku akan menciummu lagi. Boleh ya?" Janson berbisik pelan di telinga Anaya.


Sontak Anaya menoleh dengan wajah memerah, tangannya memukul bahu Janson yang sekarang tertawa.


'Uuuhh.. Dia bisa saja membuat pipiku panas! Dasar tukang gombal..' Kesal Anaya dalam batin.


'hahhh, aku masih ingat tadi di tepi danau. Bibir Anaya lembut sekali, pipinya saat memerah lucu.. Dan senyumnya membuat pemandangan indah tadi tak berarti untuk dilihat. Aku sangat menyukainya sampai seperti ini ya..' Benak Janson.


*****


Anaya melepas alas kakinya dan meletakannya di tepi pintu, itu juga dilakukan oleh Janson.


"Eh, kalian sudah selesai keluarnya? Mau makan tidak. Kami tadi habis makan siang di dalam. Kalian lama sekali sih kemana saja?" Dian datang dari dalam menemui Anaya dan Janson di pintu masuk.


"Iya kami selesai, tadi habis jalan jalan Dian. Maaf membuatmu menunggu." Anaya beranjak mendekati Dian, Janson hanya mengikuti dari belakang.


"Kau sudah makan siang belum?" Tanya Anaya.


"Sudah sejak tadi Anaya." Dian berkata pelan sambil tertawa.


Anaya merasa aneh, bukan karena dian yang bertingkah aneh. Melainkan situasinya kenapa jadi canggung.


Tidak ada obrolan di meja makan seperti hari hari sebelumnya. Heng, Quen dan Rey tampak melakukan aktifitas masing masing.


Dian juga terus tersenyum aneh pada Anaya.


"Kau kenapa Dian?" Anaya berbisik penasaran.


"Kalian lucu deh.. Hihihi.."


Janson sontak tersedak mendadak, ia segera mengambil air minum di sampingnya.


Anaya membeku dan perlahan menoleh, Anaya dan Janson saling melempar tatapan.


'Jadi Kakek Heng, Nenek Rey, Nenek Quen dan Kak Dian melihat kami di tepi danau!! AAAAAA!! MALUNYA!!' Jerit Anaya dalam benaknya, kini dia tau apa yang terjadi dengan sikap orang orang sekitarnya.