TO THE DEAD

TO THE DEAD
Wayana dan hutan hitam



Darah yang terus menerus menetes dari badan seorang wanita lansia, berperawakan gemuk namun tidak terlalu gemuk. Tingginya hanya 167, berubah dan wajahnya sudah pucat.


Ia sepertinya sudah sampai batasnya. Karena sebelumnya ia sudah bertahan habis habisan untuk tetap hidup di dalam alam yang aneh ini.


Dian dan Mila menangis tak henti hentinya, karena mereka terus menyaksikan pemandangan yang mengerikan.


Apalagi keadaan mereka menyedihkan, mereka berempat terikat. Dan sekarang Marni yang digantung oleh sosok hitam itu, darah Marni mulai menetes dari atas ke bawah.


Lantas membasahi dedaunan kering yang hitam di hutan hitam.


“Ibu, jangan tinggalin kami Bu..” Mila menangis.


Dian juga sama menangis. Diantara lengang sejauh mata memandang sosok itu tidak terlihat lagi di sekitar mereka. Dia sudah pergi dari sana.


Ranting tajam dari pohon hitam jatuh, Dian yang melihat itu langsung memiliki ide yang bagus.


“Mila, Mila..” Dian berbisik.


Mila menghentikan tangisannya lalu menoleh ke arah Dian yang berada di sebelahnya.


“iya kak..”


“Didepanmu ada ranting tajam. Geserkan padaku aku akan mengambilnya lalu kita bisa keluar dari hutan ini.. cepat.. sebelum sosok itu kembali datang.” Ucap Dian.


“Ta, tapi ibu bagaimana kak? Kita tak bisa meninggalkannya.. Mila gak mau pergi Mila mau sama ibu..” Ucapnya.


“mila dengerin kakak.. kamu kalau di sini akan bernasib sama kayak nenek itu..” Dian mencoba memberikan resikonya. Namun Mila tetap kekeuh.


“Mila mau sama ibu..”


“ya sudah, aku ingin keluar dari sini.. tanpamu juga tidak apa apa..” Dian akhirnya memutuskan. Dan ikatan tali itu perlahan bisa dipotong. Dian berlari meninggalkan Mila disana.


“mila akan menahan sosok itu agar kakak bisa selamat kak.. “ Mila bergumam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dian berlari dengan semua tenaga yang ia miliki, dan ia tidak berani untuk menoleh ke belakang. Kakinya tidak mengenakan pelindung apapun. Hutan hitam sangat mengerikan.


Semua hewan hewan dan tumbuhan yang ada di sini semuanya aneh dan mengeluarkan bau tak sedap di hidung.


Setelah berlari sekitar 15 menit, Dian tiba di ujung hutan hitam. Dan itu adalah kawasan yang rindang, tanah disana juga terlihat berbeda. Ada batas antara tanah hitam dan tanah yang hijau oleh rerumputan yang subur


Ketika Dian menginjakkan kaki di rerumputan rasanya dia telah melalui hutan itu dengan selamat.


Di kejauhan segerombolan orang datang kepadanya, mereka berpakaian khas baju perang zaman kekaisaran. Namun tentu saja ini bukan di zaman itu, melainkan tempat yang berbeda.


“ada apa ini..”


Tanah di sekitarnya ikut bergetar karena kedatangan rombongan asing itu. Bendera berlambangkan kerajaan urana terpampang di depannya, jumlah pasukan mereka tidak banyak hanya berjumlah 10 orang dan satu pemimpinnya.


Kuda kuda itu segera berhenti dan pemimpinnya memutuskan turun dan melihat Dian dari jarak yang dekat.


“Tahan serangan kalian, aku ingin memeriksa siapa yang memasuki kerajaan urana..” Pemimpin yang berada di barisan depan itu membuka penutup kepalanya.


Wajah cantiknya terlihat anggun, dengan sisik ular di kedua pipinya.


“Hallo nak, boleh kakak bertanya.. kau kenapa memasuki wilayah kerajaan urana?” Wanita cantik itu bertanya.


“Aku aku datang karena ingin meminta bantuan.. tolong antar aku pulang.. ke kota bansar.. hiks..” Dian langsung paham apa yang mereka ucapkan karena Dian peka terhadap dunia lain.


“dia anak manusia.. astaga.. dia harus segera di tolong. Nona sebaiknya kita segera membuka portalnya. Atau mengantarkan anak ini langsung.” Ucap beberapa prajurit istana.


“Iya, aku yang akan mengantarkannya namun, sepertinya itu mustahil.. gerbang kerajaan baru terbuka 2 hari lagi, itu berarti kita bawa saja dia dulu ke istana. Kita obati dulu luka lukanya..” Wanita itu menunjuk pada luka luka Dian yang berada di seluruh tubuhnya. Terlihat lebam biru di banyak tempat.


“Ikutlah dengan kami nak, kami akan membiarkan kau pulang nanti.. dan tolong jelaskan situasimu saat ini pada saat kau tiba di tempat perlindungan, informasi darimu akan sangat berguna.” Wanita itu tersenyum.


Tangis Dian berhenti dan digantikan oleh anggukan darinya, Dian memegang tangan wanita itu dan beranjak menaiki kuda yang ia naiki. Lantas kuda itu berlari dengan kencang.


Dian perlahan menoleh ke arah perbatasan sana.


“Bagaimana dengan Dian nanti, apa dia akan selamat atau tidak? Sosok itu apa dia akan kembali dan marah.. apa yang harus aku lakukan.. aku tidak ingin Mila mati..” batin Dian.


Kepalanya sedari tadi pusing, saat berlari dan terikat di pohon saja kepalanya pusing sekali.. tanpa sadar Dian telah pingsan di kuda. Dia mungkin kelaparan karena rentang waktu alam siluman dan manusia berbeda jauh.


Wanita itu tercengang, dia lantas meneteskan beberapa tetes madu di mulut Dian. Untuk asupan nutrisi sementara mereka berkuda.


Kuda itu terus melesat dengan kecepatan yang mengagumkan.


Sebuah istana tampak terlihat di kejauhan, dan gerbang perlahan terbuka. Teriakan dari beberapa prajurit istana mengiringinya.


“PARHATIAN! NONA YU JIAN DATANG, BUKA GERBANGNYA!” tariaknya.


Gerbang istana perlahan lahan terbuka sempurna saat rombongan mereka melintas di atas kayu kayunya.


Mata Dian mengejar ngejap, rasa lelah dan sakit di sekujur badannya sudah menghilang. Entahlah, apa saja yang telah mereka lakukan pada Dian kala ia pingsan di atas kuda. Sepertinya mereka sama sekali tidak berniat jahat padanya. Hanya ingin menolong.


Dian duduk perlahan, dan menatap ke sekelilingnya dengan pandangan yang masih samar samar.


“Dimana ini ya?”


Suara gemerincing gelang kaki terdengar di balik pintu. Dian menoleh ke arah pintu kamar yang jaraknya lebih jauh dari areal pandangannya.


“Siapa? Ada siapa yang datang?” Dian bingung dan bertanya tanya.


“Apa anak manusia itu sudah sadar”


“Sudah nona, dia telah bangun..”


“Bagaimana bisa ada manusia yang bisa memasuki alam ini dan sudah menyusup.”


“pertama Tama aku akan menemuinya terlebih dahulu lalu menanyakan tujuannya datang ke mari.” Itu bukan yu Jian tapi sang putri bicara sang putri kerajaan.


Kini apa yang dilihatnya di ruangan gelap yang inginia ketahui sudah didapatkannya.


Sang putri dan yu Jian perlahan mulai membuka pintu dan bergegas mendekat ke arah Dian yang masih berbaring menatap bingung di sekitarnya.


Dian paham sekarang dengan suara gemerincing gelang kaki yang didengarnya. Pandangan matanya kini sudah berangsur normal kembali, Dian bisa melihat kedua sosok dihadapannya.


“Perasaan macam apa ini, mengapa mata mereka merah.. gawat, apakah aku akan bernasib sama seperti bibi lansia itu, mereka tidak terlihat baik.. apa yang harus aku lakukan.. ibu.. aku takut.” Pandangan Dian yang normal membuatnya yang baru saja duduk kini menghindar.


“Tidak! Tidak! Jangan makan aku jangan..”


“apa yang dia katakan! Mengapa dia menghindari kita begini, memangnya pasukannmu tidak membawanya dengan benar?” Tanya putri langsung pada Yu Jian.


“Tidak putri, kami membawanya dengan cara manusiawi, kami tidak pernah menyakiti dia.” Yu Jian menjawab.


Sang putri menghembuskan nafas, “baiklah jika begitu, mungkin dia hanya panik sesaat. Biarkan dia istirahat beberapa menit dengan memberikan dia buah miukha, dia pasti kelaparan.” Lalu sang putri berbalik hendak pergi ke luar sejenak, suara gemerincing gelang kaki juga menyertainya.


Dian hanya memperhatikan mereka dan percakapannya. Dian terlalu takut kepada mereka, matanya merah dan fisiknya cukup mengerikan meski mereka tidak menyakiti Dian.


...***...


Di dalam pedalaman hutan hitam dekat dengan areal perbatasan kerajaan.


Aroma yang menyeruak kental disertai bau gosong yang menyengat bertebaran dimana mana, selintas bayangan hitam berkumpul dan munculah sesosok makhluk yang mengerikan.


Hampir seluruh bagiannya adalah hitam, menyisakan matanya yang merah.


Mila tertidur usai menangis beberapa menit. Dia tidak menyadari wayana datang di dekatnya.


“Manusia kecil itu kabur rupanya, dan anak ini tertidur.. apakah dia tau kabur kemana.. tapi jika dia tau mungkin dia juga akan kabur bersama.. mungkin dia tidak tau.. hmm.. biarkanlah, lagi pula anak itu tak ada hubungan darah dengan ibu dan anak ini. Aku benci aroma darahnya, busuk. Aku hanya menyukai aroma darah murni yang manis seperti ketiga orang ini..” Gumamnya.


Wayana ternyata tidak peduli dengan Dian yang kabur dari hutan. Dia hanya ingin menangkap Marni, Mila dan bi Imah. Orang orang yang ada hubungannya dengan Anaya. Sementara Dian tidak berhubungan baik dengan Anaya. Dia adalah anak yang iri dengan Anaya.