
Anaya yang takut akan rasa sakit oleh gigitan ular sanca raksasa kini terdiam saat ia tak merasakan apapun saat beberapa menit berlalu lagi.
Dengan memberanikan diri mengintip situasi saat ini Anaya mulai membuka matanya.
"Hoi bocah, siapa diantara kalian yang bermain main dengan sekumpulan kerikil ini, Ayo jawab!" Bukan kepala ular raksasa yang tampak melainkan wajah kakaknya Xin. Masih dalam posisi yang sama, Anaya masih terbaring sambil menutup mata karena ketakutan melihat ular besar di hutan sama sekali bukan hal yang menyenangkan, menyeramkan malah.
Namun Xin masih tetap berteriak marah dan memanggil manggil kedua bocah yang berusia hampir remaja itu.
"Cepat jawab, bukan malah bengong!" Xin semakin serius berseru pada mereka.
"Aku kak yang melemparkan batu batu itu, habisnya ular itu marah sekali pada kami. Dia hampir memakanku dan menyeretku dengan ekornya- Adududuh..!!"
"Dasar bocah nakal, lihat akibat ulah dirimu ini. Kepalaku jadi sakit tau, siapa pula yang akan memakan bocah bau kecut sepertimu yang belum mandi hah!! Kujamin bahkan ular siluman hebat sekalipun tak akan tahan dengan bau keringatmu!"
"Eh.." Anaya menoleh pada kakaknya menatap tak mengerti.
"Yah, Kakak sedang berlatih wujud ular, supaya meyakinkan Kakak menyihir pingsan induk aslinya kedalam toples, lihat. Ia menjadi kecil beserta telur telurnya. Tampak tenang dan tak diganggu bukan?" Xin menjelaskan.
Xin membuka toplesnya lantas meletakkannya di tempatnya semula, isi toples itu melayang dan ular sanca raksasa yang asli kini masih tertidur dengan anak anaknya.
"Karena kalian sudah mengacak acak habitat aslinya aku akan memindahkan lokasi sarang ularnya. Janson kalau bosan usahakan Jangan berisik, ini hutan lebat, semua hewan hewan liar bisa kesini jika kau membuat keributan. Masih untung hanya ular, bagaimana kalau serigala atau harimau. Bahkan beruang di hutan ini mencapai lima belas meter. Jadi jangan macam macam disini." Xin memperingati mereka berdua.
"Apa kakak sudah selesai berlatih sihir?" Tanya Anaya, sedangkan Janson kini bangkit dan segera duduk di batu terdekat, Anaya masih mengobrol dengan kakaknya hingga keduanya pergi meninggalkan Janson di sana.
"Anaya sebaiknya kau tetap disini!" Xin bergumam.
"Eh, kenapa aku ingin mengobrol banyak dengan kakak." Cetus anaya.
"Lihat temanmu itu sedih kau mengobrol denganku, lagipula kita memang tidak pernah dekat adikku, aku harus pergi." Xin mulai pergi dari sana dengan teknik sihirnya.
"Kakak! Kenapa kakak lebih mementingkan sihir itu dibanding aku, padahal aku senang masih punya kakak di sisiku. Kakak keluargaku satu satunya." Gumam Anaya.
"Karena ini takdir kakak, dan pergilah bersama manusia sesamamu. Kau tak tau apapun sama seperti Nenek kita. Karena itulah jangan pernah terlibat dalam hal yang ghaib ini. Ini berbahaya bagimu dan Nenek kita. Setelah kuantar kalian aku akan pergi lagi ke kota bansar, dan kalian jangan mengikutiku." Jelas Xin.
"Aku tau tujuan kakak ingin menyelamatkan kami, tapi!"
"Berhentilah merengek Anaya, sebentar lagi kau akan memasuki usia remaja. Bersikaplah seperti itu dan jalani hidupmu seperti manusia. Jangan hiraukan Kakak! Mengerti?"
"Tidak ada alasan!! Kakak bisa tinggal dengan kami."
"Ini peperangan Anaya, kau harus mengerti!"
"Tidak mau, aku akan ikut kakak!!"
Anaya menggenggam erat jubah Xin yang mulai terbang menjauhi mereka, dan Anaya masih mengekor mengikuti kakaknya, kini mereka ada di ujung hutan.
"Berhenti berteriak, kau akan memanggil hewan buas kemari!!" Xin berseru kecil.
Tak lama setelah Xin berkata demikian, dari arah atas seekor bangau ukuran 4 meter terbang mendekat ke arah mereka. Usianya pasti ratusan tahun karena habitatnya terjaga alami.
Kebetulan bangau itu tengah mencari ikan yang ada disungai yang selebar hampir 9 meter. Dengan kedalaman paling dangkal 2 meter.
"Merunduk!!" Xin membuat Anaya tiarap untuk beberapa saat, Janson ikut tiarap dicekungan batu. Alat alat mandi termasuk handuk sudah berserakan di bebatuan kerikil. Acara mandipun kini sudah menjadi pertarungan jarak dekat.
"Anaya bawa ini, ini senjata sihir pakai dilehermu cepat!" Sergah Xin yang melihat wajah Anaya yang masih pucat karena rasa takut akan burung bangau besar tadi.
Kini Xin menyuruh mereka untuk berlindung di ceruk bebatuan yang sama.
Tubuh Keysha yang dipinjam olehnya mengambang dan kini melesat terbang ke arah bangau. Lantas menggunakan sihir tingkat rendah untuk melumpuhkan hewan itu. Hewan itu lumpuh seketika sebelum sempat menyerang balik pada Xin.
Batu itu merupakan peninggalan dari leluhur Ayahnya, batu pemulih jiwa. Jiwa yang dilahap dan dimasukkan dalam batu itu akan selamanya menjadi penghuni batu itu, sampai batu itu dihancurkan oleh pemiliknya.
Sekarang batu itu resmi milik Anaya, hanya dia yang bisa menggunakannya dan menyuruh batu itu mengawetkan jiwa. Semakin banyak jiwa yang ada didalamnya maka kekuatan batu itu akan semakin bertambah. Setelah jiwa burung itu dipindah, ia berbalik dan melayani tuannya Anaya. Kini burung itu ikut menjadi tak terlihat dimata orang lain, batu pemulih jiwa telah menjadikannya burung astral.
"Hei nak cepatlah mandi, dan kita akan melanjutkan sisa perjalanan!" Xin kini berbalik arah dan meninggalkan mereka.
Anaya hanya bisa menatap kepergiannya dengan diam, tak tau harus berkata apa untuk kalimat kakaknya barusan, Anaya menunduk lalu menatap kerikil kerikil kecil yang bertaburan di sekitaran aliran sungai yang terdengar berdebum debum.
Saat menunduk menatap kerikil kerikil itu dengan perasaan bercampur aduk di dalam hatinya, entah kenapa semenjak Kakaknya mengetahui rahasia dari masa lalu lewat portal lorong waktu yang beberapa waktu lalu mereka lewati Xin menjadi berubah. Menjadi lebih misterius dibanding sebelumnya.
Beberapa minggu Janson tidak ke rumah, menjadikan Xin mempunyai waktu untuk mengadakan pertarungan di halaman rumahnya.
Yawana datang seorang diri untuk memberikan bimbingan awal pada Xin tentang pelajaran sihir.
"Pertama yang harus kau lakukan adalah fokus pada tujuan latihan sihirmu, agar hal tersebut menjadikan dirimu menjadi mempunyai tekad tujuan. Lalu fokuskan auramu dan alirkan ke satu titik, misalnya jari ini kau bisa mengalirkannya ke titik ujung ini dan membuat auranya mengambang, tapi pastikan kau membuatnya tidak menyebar dan menyatu dengan udara." Yawana menjelaskan teorinya.
"Bagaimana itu?" Tanya Xin dengan tegas.
"Kau harus memadatkan aura itu terlebih dahulu melalui telapak tangan lalu baru mengeluarkan butir butiran aura itu perlahan, menumpuknya lalu lepaskan. Itu akan membuat objek yang terkena lemparan aura padat itu meledak. Lakukan dengan cepat dan kau akan unggul dalam pertarungan." Yawana menjelaskan.
"Bagaimana bisa aku memadatkan auraku? Tidak ada contohnya!" Xin berseru.
"Begini, di dalam raga siluman merupakan percampuran antara aura panas dan dingin. Yang harus dihentikan untuk membuat butir aura padat adalah kau harus melambatkan aura panas di dalam dirimu, buat aura panas itu melambat dan keluarkan aura dinginnya terlebih dahulu lalu isi dengan aura panas yang banyak. Bola es aura pasti akan pecah dan membuatnya meledak. Itulah teorinya. Kau bisa coba perlahan dengan cara meledakkan buku disana. Ayo lakukan!" Yawana mulai memerintah Xin.
Xin melihat buku tebal itu yang teronggok bisu, ia mulai berkonsentrasi memadatkan aura dijarinya dan melesatkan aura padat. Selama ini ia hanya pernah menyerang jarak dekat dan baru kali ini ia berlatih teknik jarak jauh.
Xin berasa gugup, hatinya belum siap mempercayai dirinya.
Xin melesatkan aura yang cukup besar dan tak terkendali, membuat buku itu terpental dengan suara ledakkan yang cukup besar. Sampai Adiknya meniarapkan tubuh sambil menutup telinganya.
Xin kaget dengan aura padat yang ia lemparkan.
"Itu terlalu kuat, lihat bahkan bukan hanya bukunya yang hancur tapi mejanya ikut hancur."
Xin tersenyum kecil menatap yawana.
"Maaf, lain kali akan ku kontrol nyi. Aku belum bisa memadatkan aura untuk saat ini, tapi aku akan berusaha."
Anaya yang mendengarkan suara ledakkan besar tadi berseru dari arah belakang Xin dan juga Nyi Yawana.
"Kakak, apa yang terjadi tadi, sepertinya ada yang meledak di halaman rumah!"
Keduanya menoleh menatap Anaya. Terutama Yawana memandang Anaya dengan serius. 'Anak ini yang merupakan korban dari kecelakaan akibat lepasnya Wayana dari hutan kematian, dia memiliki aura murni siluman, meski tipis aku bisa merasakannya. Mungkin bagi Wayana anak ini bisa mengancam dirinya, tapi anak ini menggunakan aura itu hanya untuk melihat yang tak kasat mata, aku tak bisa menembus inti luarnya aku tak tau seberapa kuat atau lemah dari Aura inti murninya. Aku hanya bisa menembus sampai selsel kulitnya, di dalam tubuhnya masih banyak misteri. Gadis ini misterius, walaupun usianya masih kecil ia bisa mengerti dan faham akan semua yang terjadi, tapi memutuskan tak melakukan apapun karena sesuatu itu terlihat sangat berbahaya baginya, dan memutuskan melarikan diri dan bersembunyi dibandingkan menghadapinya. Padahal ia selalu bertanya tanya tentang apa yang terjadi di sekitarnya tapi tak pernah menceritakan apa isi hatinya yang sebenarnya, perasaannya tertutup rasa trauma dan ketakutan paling dalam yang tak pernah dirasakan manusia lainnya, ia terlalu penakut.'
Yawana mendekat ke arah Anaya sembari tangannya terulur di depan wajah Anaya.
"Eh," Anaya mendongak dan tidak mengerti dengan sikap teman Kakaknya.
"Ada apa ya?" Tanya Anaya.
"Nak, aku ingin memberimu ini pakailah.."
"cincin, untuk apa?" Anaya tak mengerti.
"Suatu saat kau akan tau kegunaannya, dan tak perlu khawatir akan ukuran tanganmu yang semakin besar, cincin ini adalah cincin ghaib dan benda ini akan menyesuaikan dengan bentuk jarimu sampai kapanpun, dan sekalinya dipakai maka akan tetap berada di jarimu, jadi ini tak bisa dilepas. Hanya kau yang bisa melihat cincin ini dan tak seorangpun tau tentang cincin ini, mengerti?" Nyi Yawana menjelaskan secara rinci pada Anaya. Anaya yang masih bingung memutuskan mengangguk.
Halaman rumah mereka kini lengang setelah pelatihan sihir Xin selama beberapa jam, dan selama seminggu Xin mengalami kemajuan yang cukup pesat dalam ilmu sihir.