
βugh..β aku meregangkan tanganku yang terasa pegal, begitupun punggung ku. Aku tak menyangka jika aku bisa menyelesaikan berkas yang awalnya menggunung itu dengan cepat.
Setelah mengoreksi lagi berkas yang sudah kuketik, aku bersiap-siap untuk pulang.
Bagi sebagian orang mengoreksi berkas itu membosankan dan membuang waktu. Namun aku tak ingin melakukan kesalahan sehingga memilih mengoreksi berkas nya berkali- kali, setelah aku yakin, barulah aku men- save semua data itu dan mematikan komputer perusahaan tersebut.
Hal yang paling aku benci adalah di salahkan dan di marahi, kurasa bukan hanya aku saja, mungkin hampir semua orang membencinya.
Namun sayangnya, aku bukanlah orang yang bermental baja yang bisa bersikap biasa ketika di marahi. Aku tak yakin bisa mempertahankan air mataku agar tak jatuh saat aku di marahi. Itu sebabnya sebelum itu terjadi, akan ada baiknya jika mencegah hal tersebut terjadi.
Setelah keluar dari ruanganku dan menuju lift, aku teringat jika Emily meminta aku menunggu nya di Basement, jadi ada baiknya aku menunggu di basement. Beruntung kami sudah bertukar nomor chat.
Setelah mengetikkan jika aku akan menunggunya di basement, aku bergegas menuju lift.
πΈπΈπΈ
β hai, sudah lama?β tanya Emily begitu keluar dari Lift.
β tidak, aku juga baru sampai.β ucapku.
β kalau begitu, tak usah berlama lagi, ayo kita segera berangkat.β ucap Emily menuju mobilnya. Aku hanya membulatkan mataku kala melihat kendaraan yang di gunakan Emily. mobil sport keluaran terbaru adalah kendaraan yang di pakai Emily menuju pusat pembelanjaan yang ada di kota dimana perusahaan ASH Group berada.
Sesuai janji, Emily langsung mengajakku untuk membeli baju dan beberapa kosmetik.
β Astaga Emily, baju yang kau belikan ini sangat mahal.β ucapku. Astaga? Bukankah kami hanya baru bertemu sehari? Kenapa ia sudah membelikanku banyak sekali baju dan cosmetic? Cosmetic ku sendiri saja belum tahu kapan habisnya. Dan? Astaga! Yang benar saja? Masa harga satu baju sama dengan gaji bulanan ku.
β oh, ayolah, sebentar lagi kau akan menjadi seketaris pribadi adikku, kau akan menemaninya kemanapun dan kapanpun jadi jangan membuatnya malu.β ucap Emily.
β apa sebelumnya bajuku memalukan?β ucapku sedih. Jadi itu sebabnya ia membelikanku semua ini? Karena baju yang aku kenakan memalukan? Oke aku akui baju ini murah. Tapi aku menyukainya dan nyaman memakainya.
β bu.., bukan begitu, hanya saja..., hadiah! benar, anggap ini hadiah karena kenaikan tingkatmu, lagi pula kau bisa menggantinya ketika kau gajian nanti.β ucap Emily yang terkejut akan reaksiku. Menggantinya? Aku harus berhutang berapa bulan agar mengganti semua ini? Batinku tambah sedih.
β lho, Em? Tumben aku melihatmu belanja di sini.β ucap Sebuah suara.
β siapa?β tanyaku dalam hati.
β mommy?β heran Emily.
β dia ibunya?β
β apa yang mommy lakukan disini? Aku pikir kau sedang di pulau JJ dengan daddy.β ucap Emily memeluk Ibunya.
β memang, tapi mommy rindu dengan kalian.β ucap ibu dari Emily mencium pipi Emily. Melihatnya aku hanya tersenyum.
Aa..h. kapan aku bisa sedekat itu pada keluarga ku sendiri? Yang tulus memujiku bukan hanya karena aku memiliki nilai yang baik. Yang tak pernah menilai apa yang kumiliki? Kapan keluarga ku tak membeda- bedakan aku? Batinku melihat suasana keluarga di hadapanku ini.
β dia tn. Allan Ashton?' batinku menatap interaksi antara Emily dengan ayahnya.
' Apa yang ia lakukan kepada Emily mengingatkan saat ayahku mengelus rambutku, kapan ya ayah akan mengelus rambut ku lagi?β batinku, merindukan perlakuan ayahku saat aku mendapat nilai bagus. Kapan terakhir kali ayahku melakukan hal itu kepadaku? Mungkin saat aku masih berada di sekolah menengah pertama. Sejak kapan ya, hubunganku dengan ayahku menjauh? A.., benar juga saat aku lebih memilih bersama dengan Daniel dari pada keluarga ku.
β baik daddy.β ucap Emily memeluk Ayahnya.
β ngomong- ngomong siapa dia Em?β heran ibu dari Emily.
β dia? Dia temanku, juga...β ucap Emilly menggantung.
β tunggu? Kenapa mereka berbicara bisik- bisik begitu? Apa ada sesuatu yang Emily rencanakan? Ia takkan benar- benar merencanakan akan membully ku kan? Dan mengapa Tn. Allan menelisik tubuhku seperti yang di lakukan wakil direktur?β
Apa tn Allan ingin melakukan hal yang aneh denganku? Lihat! Bahkan Emily menjewer beliau. Aku jadi takut.
β sudah! Sudah! Berta, ini sudah jam makan siang, bagaimana jika kau makan dengan kami?β ucap ibu dari Emily dengan suara lembut.
β astaga, wanita ini lembut sekali.β batinku.
Entah mengapa, melihat kebaikan dan kelembutan ibu dari Emily membuat keengganan di hatiku- seolah aku menemukan sesosok ibu yang tak pernah didapatnya dari ibu kandungku yang selalu memaksa kan pendapatnya tanpa bertanya apa yang diinginkanku. Aku bukannya tak menyayangi ibuku apa lagi membedakannya, namun kelembutan hati dari ibu Emily membuatku enggan, aku bahkan enggan menolak permintaannya- selain aku memang sudah lelah dan lapar.
β te.., tentu.β ucapku- membungkukkan kepala.
β ia adalah istri dari pemilik sekaligus pendiri kan? Itu berarti aku harus menghormatinya.
β tak usah sesopan itu, aku dengar kau juga berasal dari Indonesia seperti ku.β ucap ibu dari Emily mengelus kepalaku. Bahkan ibuku saja tak pernah mengelus kepalaku. Entah mengapa menerima elusan itu membuatku sedih sekaligus nyaman.
β aunt berasal dari Indonesia?β ucap ku tak percaya. Jika Emily tak mengatakan jika mommy berasal dari Indonesia mungkin aku takkan percaya. Ia memiliki kulit putih bersih tak seperti orang indonseia kebanyakan, meski aku akui ia memiliki wajah khas Asia.
β ya, karena semenjak menikah aku di boyong kemari, alhasil kulitku menjadi halus seperti ini, kau tahu? Sebelumnya, kulitku sangat gelap.β
βbenarkah?β
β bagiku, meski kulitmu gelap, kau tetap cantik.β astaga! Kalian tidak lupa jika ini masih di tempat umum?
β ya, jika mommy tidak cantik mana mungkin membuat daddy yang arogan, pembuat onar serta dingin ini jatuh cinta.β ungkap Emily.
β dari mana kau mendengar kata- kata itu.β ucap Ayahnya tak terima.
β uncle Alan.β ucap Emily gampang.
Melihatnya aku sekali lagi hanya terdiam. Di dalam hatiku- aku sedikit merasa iri pada pemandangan keluarga di hadapanku.
πΈπΈπΈπΈ