
“ ngomong- ngomong bagaimana keadaan Nina?” tanya Rena setelah menaruh anak- anak mereka di box bayi mereka, sementara Angelica telah berada di gendongan Alicia.
“ keadaanya sudah lebih baik.” ucap Alan. Yah memang setelah Rena mengetahui keadaan Nina yang sebenarnya, wanita itu akhirnya di bebaskan bahkan Rena meminta agar Nina di rawat.
Setelah keluar dari sel pengasingan berukuran 1 x 1 M, keadaanya sedikit memprihatinkan, badannya yang telah mengurus seolah hanya menyisakan tulang berbalut kulit, keadaan psychology yang memprihatinkan, kadang mengamuk kadang ketakutan kadang meminta maaf. Sebenarnya, Allan masih menginginkan Nina di beri hukuman yang lebih lama, karena gara- gara dirinya, Allan jadi marah kepada Rena dan membenci Rena, padahal jelas Rena tak salah apa- apa.
Jika bukan karena Rena yang meminta Nina di lepaskan dan memaafkan kesalahan Rena, mungkin sampai sekarang Nina masih berada di sel pengasingan. Atau mungkin di hukum lebih parah dari sel pengasingan.
“ ngomong- ngomong, kita mau balik dulu. Ini sudah sore, dan kita telah melihat anak kalian.” ucap Alicia mengajak Alan dan Patricia pulang.
“ iya, terimakasih kunjungan kalian.” ucap Rena hendak mengantar kepergian mereka.
“ Denny, aku mau kembali kekantor mengurus beberapa berkas, kamu tolong antar aku dulu.” ucap Alan.
“ siap, Bos.” ucap Denny dengan bahasa sopan, karena sekarang Alan adalah atasannya.
“ kak, aku ada janji sama teman. Aku nanti pulangnya nyusul.” ucap Patricia.
“ janji sama temen apa pacar, lu?” ucap Denny sarkas.
“ ha ha, Patricia tak memiliki pacar, mana mungkin ada yang mau sama wanita seperti dia.” ucap Alan bercanda.
“ kakak, ih.” ucap Patricia tak terima.
“ iya mana ada yang mau sama wanita bar- bar kaya elu.” ucap denny menimpali.
“ sudah.., sudah, kenapa bertengkar lagi? Kamu juga kak Deny, kaya punya pacar ajh.” ucap Rena kepada sepupunya.
“ iya, sendirinya belum punya pacar ajh berani meledek orang.” ucap Patricia tak terima.
“ setidaknya aku pernah punya pacar ya, ga kaya elu jomblo sejati.” ucap Denny terkekeh meninggalkan Patricia menuju mobil Alan. Meninggalkan Patricia yang menggerutu sendirian.
Semenjak kerja di perusahaan Alan, pria itu juga merangkap sebagai supir pribadi Alan.
“ Denny.” ucap Alan saat di mobil hanya ada Alan dan Denny.
“ yes, Boss?”
“ setelah kau mengantarku, jaga Patricia.”
“ lagi?”
“ ya.”
“ boss, miss Patricia sudah dewasa, dia bisa menjaga dirinya sendiri.” ucap Denny seolah tak suka hanya di beri perintah yang sama setiap hari. Karena memang selain melaksanakan tugas- nya ia selalu di suruh Alan menjaga adik perempuan boss nya itu.
“ Denny, apa kau tahu? Sebelum aku menikahi Alicia. Aku hanya hidup berdua dengan adikku. Dia satu- satunya keluargaku setelah aku kehilangan kedua orang tua- ku. Dan dialah yang membuatku semangat membangun kembali bisnis daddy- ku, dan aku telah berjanji jika aku akan menjaganya selalu. Bagiku dia tetap adik kecilku. Jaga dia.” ucap Alan menerawang ke masa lalu saat dimana hari terakhir ayah dan ibu nya menitipkan adik kecilnya kepada Alan.
“ baiklah.” ucap Denny kalah.
Setelah melacak keberadaanya di GPS yang ada di handphone Patricia, Denny mendapati jika Patricia kini sedang berada di taman dekat rumah. Setelah melajukan mobilnya ke daerah yang di tuju, Denny hanya mengawasi sosok Patricia dari kejahuan.
Mungkin karena itulah Denny menjadi mengenal Patricia, hampir setiap hari setelah Denny bekerja dengan Alan, ia selalu bertugas mengawasi Patricia. Awalnya, Denny menduga jika Patricia adalah gadis yang nakal, sosialita atau suka menghamburkan uang untuk membeli barang tak berguna. Namun ternyata ia salah.
Pakaian yang dikenakan Patricia hanyalah agar Alan mengira ia adalah gadis yang nakal, namun ternyata itu hanya karena Patricia kesepian, semenjak kakak laki- lakinya itu beristri dan memiliki anak, perhatian Alan tak sepenuhnya kepada Patricia, kehilangan orang tua sedari kecil membuat wanita itu haus akan perhatian. Itu sebabnya ia selalu bertingkah agar Alan memperhatikannya.
Mentato dada- nya, mewarnai rambutnya, selalu memakai pakaian yang extrem dan masih banyak lagi, namun satu- satunya yang Denny sadari adalah, Patricia tidak merokok apa lagi minum alcohol, malah menurut Denny, wanita itu bukan tipe wanita yang pandai minum Alcohol.
Karena sesungguhnya Patricia adalah pribadi yang baik, seminggu setelah pengintaian Denny, ia mengetahui jika Patricia selalu membantu para tunawisma yang tidur di kawasan taman tempat biasa dia kemari. Kadang memberi makan, jika kakak laki- lakinya memberi uang saku lebih Patricia akan memberi sebagian uang sakunya itu kepada orang yang membutuhkan. Dan soal kejadian Rena bertemu Patricia akan ke Bar, itu semata hanya untuk bertemu temannya.
Tiba- tiba Denny menajamkan tatapan matanya, tampak ia menggertakkan giginya lantaran melihat ada pria yang hendak menggoda Patricia, namun baru Denny mau turun dan menghampiri pria asing yang mengganggu Patricia. Denny di buat terkekeh karena melihat Patricia yang menendang kebanggan milik pria yang mengganggunya.
“ ha ha ha, sungguh wanita yang luar biasa.” kekeh Denny tak tahan melihat kelakuan Patricia.