
Setelah penyambutan dari sang penyelanggara acara- Destara, kini Emily sedang menikmati segelas wine nya di balkon ruangan pesta. Sedari dulu wanita itu tak pernah menyukai pesta sama seperti Rena dan memilih untuk menyendiri menikmati udara malam dan menatap bintang di langit.
“ mau kutemani?” tanya Destara memegang segelas cocktail.
“ ehm.” ucap Emily tak merubah posisi meski tampak terlihat jika ekor matanya menatap pria yang dulu mejadi korban pembully an ini.
“ Kau sekarang benar- benar berbeda.” Ucap Emily- akhirnya. Namun Destara hanya diam menyesap cocktail nya.
“ Emily.” ucap Destara setelah diam beberapa saat.
“ ya?” tanya Emily.
“ mau mengadakan pesta sendiri? Aku telah menyewa president room.” ucapan Destara membuat Emily menatapnya.
“ aku tak memaksa jika kau tak mau.” ucap Destara mengusap tengkuk nya.
Ini memang kebiasaan pria itu- Emily jadi ingat saat pria itu menyatakan perasaannya- dulu;
“ aku menyukaimu. Tapi aku tak memaksamu untuk menerimaku kalau kau tak menyukaiku.” pria itu bahkan tak membiarkan Emily mengatakan alasannya dan beranggapan jika ia tak sepadan dengan Emily.
Sejujurnya meski Destara bukanlah Direktur- Emily tetap akan menerima lamaran Destara karena hanya pria itulah yang menurut nya pantas untuknya- namun saat itu Emily masih terlalu muda untuk berkencan- itu alasan Emily kecil dulu menolak lamaran Destara kecil meski sejujurnya waktu itu wanita itu tak menolaknya- Emily hanya terdiam dan Destara menganggap jika Emily menolaknya.
“ baiklah.” ucap Emily meninggalkan Destara.
“ ya?” heran Destara.
“ bukankah kau mau mengadakan pesta sendiri? Dimana president room itu berada?” tanya Emily membalik badannya menatap Destara. Tampak jika pria yang tak lagi gendut itu terdiam sesaat sebelum tersenyum dan menyusul Emily.
“ ruangannya ada di lantai bawah ruangan pesta ini. Butuh kartu privasi khusus untuk ke ruangan President room.” ungkap Destara menyeimbangi langkah Emily.
“ dan bagaimana seorang Destara bisa tahu hal itu?” tanya Emily.
“ karena akulah yang mendesign hotel ini.” ungkap Destara.
Ya Emily tahu jika Destara sangat pandai dalam mendesign sebuah gedung dan ruangan. Mungkin karena bakat inilah yang membuat Destara dulu sering di bully dari orang- orang yang tak mengakui bakat pria yang dulunya gendut itu.
“ kau sekarang menjadi seorang yang sombong.” ucap Emily bercanda.
“ be...benarkah?” tanya Destara takut- jika Emily jadi semakin tidak menyukainya.
“ tidak! Aku hanya bercanda. Kau sekarang hebat.” ucap Emily tertawa- tawa yang tak pernah berubah dari beberapa tahun lalu- tawa yang membuat seorang Destara yang dulu dan sekarang jatuh hati yang membuat seorang Destara berniat berubah agar tawa itu nantinya hanya miliknya, milik seorang Destara Alison.
***
Setelah menempelkan kartu pass yang dimilikinya ke sensor Lift- kini Destara ke lantai di bawah ruangan yang tadi di gunakan pesta. Hanya ada satu pintu di ruangan ini dapat di pastikan jika pintu berukuran besar memiliki satu ruangan sebesar 1 lantai hotel ini.
Tampak terlihat jika setelah pintu yang di yakini Emily pintu masuk ada sebuah lorong menuju taman pribadi yang tidak bisa diakses sembarangan orang kecuali lewat lantai khusus ini. Taman dengan kolam ikan dengan air mancur di tengahnya. Di pojok taman tersebut ada kursi ayun untuk menikmati keindahan taman tersebut.
Emily hanya tersenyum- kehebatan seorang Destara dalam mendesignya tak dapat di ragukan lagi.
“ so beautiful.” ucap Emily tersenyum.
‘ kau adalah yang paling cantik di sini.’ batin Destara.
“ kau mau mengadakan pesta di taman ini? Atau di kamar? Kau belum melihat kamarnya kan?” tanya Destara.
“ apa kau sedang menggiringku ke kamar? Hem?” tanya Emily menggoda.
“ a... apa maksudmu?’ ucap Destara gugup.
“ ayolah, aku tahu apa maksudmu! Dua orang dewasa- pria dan wanita di dalam satu kamar ditemani minuman beralcohol?” pancing Emily. Tampak jika Destara menutupi mulutnya dengan punggung tangannya.
” aku tak pernah memikirkan hal itu, Emily! Aku berani bersumpah!” ucap Destara gugup. Bukan karena belangnya ketahuan- Emily yakin jika seorang Destara yang polos takkan pernah memikirkan hal seperti itu- pria itu hanya gugup karena Emily menggodanya dengan mengelus dada bidang Destara dan membungkukkan dadanya sehingga dada wanita itu yang memang sudah besar tampak terlihat lebih menonjol- bahkan terlihat hampir sengaja di tempelkan ke dada Pria yang dulu gemuk itu.
“ sedari dulu kau memang lucu! Kau sangat mudah di kerjai! Aku tak menyangka jika kau bisa berkata setegas itu melawan pembully mu.” ucap Emily meninggalkan Destara menuju pintu masuk ke President room.
“ menjadi seorang direktur membuatku paham jika kebanyakan orang selalu menggunakan topeng untuk menyenangi orang di atas mereka, aku masih ingat betul saat awal aku masihlah seorang Destara biasa- mereka memandangku remeh, saat aku mulai menduduki kursi direktur pandangan remeh itu sedikit berubah seolah sedang menjilat namun tatapan jijik tetap terlintas di beberapa mata perempuan, namun ketika aku berubah jadi seperti ini, para perempuan itu secara nyata mendekatiku dan bahkan merayuku.” Ungkap Destara.
‘ sama persis seperti yang di rasakan Ray.’
“Itu yang menyebabkan sifatmu berubah?” Tanya Emily.
“Mungkin?” Tanya Destara mengangkat kedua bahunya.
“Lalu mengapa kau bisa bersikap seperti biasanya kepadaku? Seolah tak ada yang di tutup- tutupi.” tanya Emily.
“Karena kau juga tak pernah memakai topeng di hadapanku, Em.” Ungkap Destara membuka pintu ruangan President room setelah menempelkan kartu pass yang sama dengan yang di gunakan di lift.
Emily sungguh terkejut akan ruangan president room yang sangat mewah.
Kamar tidur dan ruang makan dan dapur yang hanya di sekat dinding kayu dengan ukiran serupa ikan koi berenang dengan rumput laut. Di kamar tidur di suguhi beberapa cermin besar di langit- langit yang membuat ruangan yang mewah tampak semakin luas. Dengan kasur berukuran king size di tengah ruangan dan nakas kecil yang ada di samping tempat tidur.
Di dapur ada peralatan komplit untuk memasak, oven beserta dengan meja dan kursi makan yang lumayan luas. Walk in closet yang langsung tersambung dengan kamar mandi dengan bath up juga shower didalamnya yang hanya di beri pembatas berupa sekat kayu mahoni yang akan semakin mengeluarkan bau harum ketika terkena uap panas bagai aroma terapi yang terpasang secara tidak langsung. Di sebelah dapur ada teras yang menghubungkan ke kolam renang pribadi yang hanya bisa di akses melalui kamar president suit yang di tempati mereka berdua.
“Ini indah.” Ucap Emily tersenyum. Destara hanya tersenyum sambil membawa dua gelas wine dengan anggur merah di tangan lainnya.
0o0
hai hai hai
author cuma mau minta maaf telat up
soalnya lagi nyari THR sendiri maklum anak rumahan jadi ga dapet THR
^_^