The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
Episode 29



Cukup lama Patricia di taman itu setelah di rasa sudah cukup sore, Patricia kembali ke mobilnya dan menuju toko bunga.


‘ dia mau beli bunga buat siapa?’ heran Denny. Jika mengunjungi orang sakit, setahu Denny tak ada orang yang harus di kunjungi Patricia. Setelah membeli bunga lily putih, Patricia kembali melajukan mobilnya.


‘ pemakaman?’ batin Denny melihat Patricia mengarahkan mobilnya di sebuah pemakaman umum. Denny terpaksa turun karena Patricia berjalan cukup jauh kedalam pemakaman itu namun masih memberi jarak antara dirinya dan Patricia.


“ how are you, Mom, Dad?” ucap Patricia di depan dua makam yang berdampingan.


“ I miss You, Mom, Dad. So much.” ucap Patricia sambil tertunduk.


“ mom, mungkin kamu sudah tahu jika Kak Alan sudah menikah, ya, dia pasti pernah mengunjungimu sehari sebelum ia menikah, ia bahkan sudah memiliki anak sekarang. Kau tahu Dad? Anak kak Alan sangat mirip dengan kak Alan.” ucap Patricia bermonoloq seolah pusara itu adalah kedua orang tuanya.


“dan kak Allan.., akhirnya dia menikah, luar biasa kan Dad? Mom? Kak Allan yang terkenal kaku bisa menikah. Bahkan memiliki anak kembar.” ucap Patricia mengelus pusara kedua orang tuanya bergantian.


“ sementara aku..” ucap Patricia terputus.


“ aku sendiri Dad, Mom.” ucap Patricia tampak bulir air mata mulai jatuh membasahi tanah sekitar makam.


“ aku kesepian. Tak ada yang akan menyukai- ku, Mom? Dad? Orang bilang aku wanita Bar- bar.” kata- kata itu langsung mengena di hati Denny.


“ apa aku tak berhak mencintai? Apa aku tak berhak di cintai, Mom, Dad? Harusnya dulu Mom dan Dad ajak Patricia. Patricia di sini kesepian, disaat teman- teman kuliah Patricia merayakan hari orang tua, orang tua mereka selalu datang. Sementara aku.., hanya pengawal kak Alan saja, Mom, yang menemaniku. Kak Alan selalu sibuk dengan bisnis- nya dan kak Alicia sekarang memiliki Angelica.” ucap Patricia dengan nafas tersengal- sengal karena menangis, membuat Denny dipenuhi rasa bersalah.


Cukup lama Patricia menangis dan menumpahkan segala curahan hatinya di depan makam kedua orang tuanya tanpa sadar ia tertidur di depan pusara  kedua orang tuanya. Dirasa Patricia telah tertidur, Denny mendekati ke arah Patricia dan menggendongnya menuju mobilnya.


Denny menatap Patricia yang tertidur di sebelahnya, menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantiknya. Menghapus jejak air mata dengan punggung tangannya.


‘ saat aku kehilangan kedua orang tua ku saja aku kesepian, di tambah kenyataan kakak ku telah menikah, tak heran jika wanita ini merasakan hal yang sama, mungkin lebih. Di tinggal kedua orang tua saat umurnya masih sangat kecil.’ batin Denny menatap Patricia yang masih tertidur dalam tangisnya.


‘ mungkin aku harus sedikit menjaga kata- kataku.’ batin Denny lagi merasa kata- katanya keterlaluan, Patricia memang tak langsung menunjukkannya, namun Denny tak menyangka jika kata- katanya cukup menyinggung gadis itu.


---


“ apa yang terjadi?” tanya Alan melihat Denny menggendong Patricia.


“ dia tertidur di makam, Boss.” jawab Denny masih tetap menggendong Patricia.


“ makam?” tanya Alicia.


“ ya, makam kedua orang tua anda.” jawab Denny.


“ begitu, kalau begitu tidurkan ia di kamarnya.” ucap Alan.


Tak susah membawa tubuh Patricia kembali kekamarnya di lantai dua, tubuhnya sangat ringan bagi Denny, memang setelah Denny bekerja di bawahi perusahaan Alan, ia telah di ajari beladiri. Pria yang yang dulu lembek kini ber metamarfosa menjadi pria gagah.


Meski ia keturunan orang indonesia, ia memiliki kulit yang putih pucat, tak heran, mendiang ayahnya tak punya pigmen kulit, bukan albino hanya tidak memiliki pigmen kulit. dengan rambut yang sama seperti Rena, hitam ikal yang selalu di potong pendek. Mata yang hitam sama hitamnya dengan rambutnya.