
Namaku Patricia, sebelum kakak ku menikah aku hanya hidup berdua dengan kakak laki- laki- ku. Awalnya kita hidup saling melengkapi, Kakak ku bekerja meneruskan perusahaan ayahku saat kedua orang tua kami tiada untuk membiayai hidup kami. Sementara aku hanya terus mensuport kakak ku agar selalu mau berusaha di sela kerasnya persaingan bisnis kami, karena kakak ku tak ingin aku ikut turun langsung terjun ke bisnis berbahaya ini. Beruntung kak Allan selalu berada di belakang kami, berusaha meyakinkan Kak Alan agar tak menyerah pada bisnis jasa keamanan kami.
Bahkan terkadang aku merasa kak Allan- lah yang pantas meneruskan bisnis jasa pelayanan dan keamanan; Bodyguard kami. Saat berhubungan dengan aparat hukum yang lemah akan uang wajah kak Allan selalu menakutkan. Tak heran jika perusahaan nya semakin maju bahkan lebih berkembang pesat selepas kepergian ayah nya.
Dari dulu aku selalu bahagia di kelilingi dua kakak laki- laki ku. Aku pikir hidupku cukup hanya dengan kedua kakak laki- laki ku. Dan saat kak Alan mengenalkan Alicia kepadaku, aku mulai merasa ter- asing, aku kesepian karena perhatian kakak ku terpecah pada istrinya. Aku tak bisa sepenuhnya berontak, tak bisa sepenuhnya menentang karena kak Alicia wanita yang baik. Dan yang pasti adalah dia juga menyayangiku.
Namun kesepian tak bisa kupungkiri terutama saat kak Alicia di nyatakan hamil, perhatian kak Alan semakin terpecah hanya untuk kak Alicia dan kandungannya. Aku mulai berani mewarnai rambutku, mentato dadaku dan kenakalan lainnya. Meski jujur aku tak sepenuhnya nyaman dengan itu semua. Terutama Alcohol dan nicotine.
Aku berkenalan dengan itu semua semata- mata hanya untuk kak Alan perhatian padaku. Usaha kak Alan mulai berkembang dan kebutuhanku mulai tercukupi, namun hati- ku yang selalu kesepian tak bisa tertutupi oleh uang.
Mobil sudah kumiliki, aku tak suka berdandan, tak suka nicotine apa lagi alcohol yang menurutku pahit itu, aku jadi heran pada orang- orang yang suka menghamburkan uangnya di club- mengapa mereka menyukai minuman pahit itu jika minuman yang lebih enak masih banyak bertebaran di luar sana.
Uang yang selalu kugenggam harus selalu kuhabiskan, itu satu- satunya cara agar kak Alan mau berbicara padaku meski sekedar mengomel atau menasehati. Dari pada memberi uang kepada teman yang yang sudah memiliki segalanya, aku lebih suka memberi pada tunawisma- yang untuk tidur saja mereka tidak memiliki atap untuk berteduh, tikar tipis sebagai alas dan selimut yang tak pernah ganti untuk pelindung tubuh mereka dari dinginnya malam.
Sesekali jika aku melihat ada orang yang menjajakan makanan mereka aku tertarik untuk membeli semua jajanan mereka sekedar membagikan makanan mereka kepada para tunawisma itu. Melihat mereka semua tersenyum ada perasaan bangga sendiri, apalagi jika mereka membalas apa yang kuberikan dengan doa. Mereka tak pernah mengenalku namun bagiku doa mereka sungguh berarti. Itu lebih baik dari pada kata- kata jilatan temanku yang selalu mendekatiku hanya untuk memintaku membelikan mereka tas dan barang bermerk ataupun mengenalkan mereka pada kak Allan.
Mungkin itu sebabnya aku berpura- pura menyukai kak Allan, aku tak ingin para wanita itu mendekatiku hanya untuk mengenal pria yang kuanggap kakak laki- lakiku sendiri. Aku menyayanginya, namun hanya sebatas rasa sayang seorang adik kepada kakak laki- laki nya. Setidaknya dengan aku berpura- pura menyukai kak Allan para wanita yang berusaha dekat dengan kak Allan akan mundur secara teratur.
Terutama Rena. Satu- satunya wanita yang di akui kak Allan sebagai kekasihnya. Aku tak ingin ada wanita yang memperdaya kak Allan apa lagi memanfaatkan kekayaannya. Namun ternyata aku salah kak Allan benar- benar mencintai wanita yang polos itu.
Bahkan kehilangan Rena membuat kak Allan yang tampan dan selalu bisa menguasai perasaannya- menjadi tak terkendali. Aku tak menyukai kak Allan menjadi seperti itu. Yang kuinginkan adalah kak Allan kembali seperti dulu. Dan aku ingat jika Rena pernah kembali ke negaranya hanya untuk mengunjungi makam mendiang ibunya. Mungkinkah wanita yang di cintai kak Allan itu kembali kenegaranya?
“ kak..” ucapku ragu, ini kali pertama aku melihat Allan yang semarah ini.
‘ kak Allan menakutkan.’ desis Patricia ketakutan, bahkan tubuhnya tampak bergetar.
“ jangan memarahi adikku, Allan. Patricia kau mau mengatakan apa? Kau tidak lihat Allan sedang dalam keadaan sangat emosi sekarang?” ucap Alan menenangkan Allan, Angelica bahkan sudah menangis mendengar teriakan Allan.
‘ kak Alan membelaku.’ batin Patricia senang.
“ aku hanya mau bilang, kak. Jika Rena tidak ada di negara ini mungkin saja ia berada di luar negri.”ucapku berusaha menahan tangis.
Setelahnya kak Allan benar- benar menyusul Rena ke Indonesia, aku harap Kak Allan menemukan pujaan hatinya di negara seribu pulau itu. Kurang lebih 3 bulan lamanya kak Allan di Indonesia, melupakan perusahaannya. Aku tak bisa sepenuhnya membuat perusahaan kak Allan terbengkalai. Sama seperti kak Allan yang selalu di belakang kakak ku ketika orang tua kami tiada, setidaknya aku ingin membantu kak Allan, dengan ketidak hadiran kak Allan di perusahaan nya akan membuat saham kak Allan menurun. Dan aku tak bisa semata- mata menghancurkan perusahaan yang sudah di rintis kak Allan dari lama.
Beruntung aku pernah sekolah management dan aku sering membantu kak Allan saat pria yang sudah kuanggap kakak laki- laki ku itu berganti- ganti seketaris bahkan kekosongan Rena- aku yang menggantikan sementara sebelum akhirnya kak Isabella menawari bantuannya. Sebenarnya dari dulu aku ingin bekerja, setidaknya membantu kakak ku, namun kakak laki- laki ku itu tak ingin aku bekerja dengan alasan dia masih bisa membiayai kehidupanku itu terbukti dari setiap genggaman uang yang kuhabiskan selalu diberikan setiap hari oleh kakak ku itu.
Dengan bantuan kak Isabella dan kakak laki- laki ku- sementara kak Allan di Indonesia akulah yang menempati kursi kosong kak Allan, sementara dalam hatiku aku terus berdoa semoga pujaan hati kak Allan kembali diketemukan.
Ini kali pertama doaku di kabulkan, setelah kepergian kedua orang tuaku aku sudah lupa cara nya berdoa, dan demi kak Allan aku berdoa kembali. Dan untuk pertama kali nya Tuhan mengabulkan doa ku. Aku sungguh bahagia, ingin kupeluk calon kakak ipar- ku itu, belahan hati kak Allan itu.
Namun kabar yang pertama kali kudengar adalah kak Allan harus kerumah sakit, karena kelelahan. Aku ingin mengunjungi nya, namun kenangan akan rumah sakit selalu membayangiku. Ya, aku takut rumah sakit, pertama ayahku lalu ibu ku. Seolah dengan adanya aku di rumah sakit orang yang kusayang selalu pergi meninggalkan aku. Aku tak ingin dengan kedatanganku kak Allan malah jadi pergi meninggalkan kami, pergi meninggalkan kak Rena dan juga calon anaknya. Ya, aku baru tahu jika kak Rena hamil. Ia tengah mengandung anak dari kak Allan.
Kecewa? Pasti! Bukan bentuk cemburu, aku kecewa jika ternyata kak Allan bisa seceroboh itu. Jika seandainya ia tak menemukan kak Rena pasti kedua anak kak Rena akan hidup sendiri tanpa di dampingi sosok ayah di sampingnya. Aku takkan heran jika ayah kak Rena kecewa dan marah pada kak Allan.
0o