
“ Berta, tolong undur perjalanan kita ke Indonesia untuk proyek ke beberapa hari ke depan.” ucap direktur suatu waktu.
“ kalau saya boleh tahu- kenapa, Tuan?” ucapku berbasa- basi. Meski aku tahu alasan mengapa proyek ke Indonesia di undur.
Dengan kekosongan kursi wakil direktur. Tak mungkin juga direktur akan membiarkan kursinya juga kosong dengan pergi proyek ke Indonesia. Aku yakin, direktur juga cemas akan adanya tangan- tangan jahil selama ia membiarkan kursi nya kosong.
“ Andre- wakil direktur sedang menangani beberapa masalah di Swiss, jika aku juga pergi meski untuk urusan inspeksi proyek, aku tak bisa membiarkan kursi jabatan direktur akan kosong untuk beberapa waktu.” ungkap direktur.
‘ masalah di Swiss? Jika direkur mengatakan masalah perusahaan di Swiss aku takkan percaya. Perusahaan Ash Group belum memiliki cabang hingga ke Swiss. Jadi memang benar jika wakil direkur ke Swiss untuk menemui Tama?
“ apa ada perusahaan cabang di Swiss, Tuan? Setahu saya, Ash group tidak memiliki cabang perusahaan di sana.” ucapku berbasa- basi. Aku tahu tak ada perusahaan cabang di Swiss.
“ bukan masalah itu- tapi masalah yang lain. Sudahlah, undur saja dulu untuk beberapa hari ke depan.” ucap direkur membuatku mengalah. Aku tak menyangka jika direktur akan jujur jika alasan wakil direkur ke Swiss adalah untuk masalah pribadi.
“ baiklah.” ucapku.
Kurasa masalah tn Andre takkan selesai dalam waktu dekat. Tak heran, ia bahkan sampai membuat seorang wanita Trauma karenanya.
Aku hanya menatap ke arah direktur yang jadi extra bekerja karena menghandle tugas yang seharusnya di kerjakan wakil direktur. Aku jadi merasa sedikit terpesona akan sosok direktur.
Bahkan tanpa mengeluh ia mengerjakan tugas yang seharusnya di kerjakan wakil direktur, aku bahkan tahu jika beliau sampai membawa pulang pekerjaannya dan mengerjakan pekerjaannya di rumah.
Padahal aku yakin jika belau pasti lelah. Aku jadi teringat akan perkataan Alea. Jika direktur berbuat baik pada Tama demi agar wakil direktur menyukai wanita yang menjadi bodyguard wakil direktur itu.
‘ apa aku boleh mulai berharap jika direktur berbuat baik padaku karena menyukai ku?’ batinku.
Sesungguhnya, hubunganku dengan Daniel membuatku masih trauma akan sebuah hubungan. Namun, aku tak bisa memungkiri jika perlakuan direktur membuat hatiku menghangat. Apa lagi perlakuannya yang seolah tak membedakan derajat kepada siapapun.
🌸🌸🌸 akhir pekan🌸🌸🌸
Hari ini hari minggu dan aku sedang bersantai di Apartment ku. Hari ini Alea kedatangan keluarganya sehingga tak berkunjung ke Apartment ku.
Aku melihat handphone ku. Aku tak mendapati pesan dari ayahku.
‘ yah, aku memang bukan tipe yang mesra dengan menelphone lebih dulu sie.’ batinku.
Sejujurnya, aku memang tak begitu dekat dengan orang tua laki- laki ku yang satu ini.
Ayahku lebih dekat dengan saudaraku yang laki- laki, karena memang- ayahku menganut paham mengutamakan anak laki- laki. Meski, jujur, saat ibu ku masih ada aku lebih sering membela ayahku saat ada percecokkan kecil antara ayah dan ibuku,bmisal mempermasalahkan soal akan memboncengi siapa. Aku lebih suka di boncengi ayahku, karena ibuku tipe the power of emak- emak.
Aku jadi tertawa kecil mengingat kelakuan ibuku. Saat lampu merah, beliau akan berhenti di kiri padahal ia akan menuju arah kanan. Mengendarai di tengah meski ia selalu mengendarai motornya dengan lambat dan pelan karena pedomannya adalah alon- alon asal kelakon. Pelan- pelan asal sampai.
Bahkan saking lambat dan pelannya, ia bahkan sampai pernah di klakson mobil di belakang kami.
Begitu aku ingatkan- tak jarang, ibu malah membalas klakson hingga suara klakson mobil di belakang kami berhenti. Mengingat kelakuan ibuku semasa hidup membuatku tertawa sendiri.
Aku kembali melihat handphone ku, tak ada Chat sama sekali bahkan dari Daniel. Tak heran. Ia tipe orang yang keras kepala dengan gengsi luar biasa tinggi.
Jika sedang kesal ia takkan menghubungi ku, berharap akulah yang akan menghubungi nya duluan.
‘ sebenarnya, yang perempuan itu aku atau dia? Kenapa malah dia yang ingin di mengerti?’ batinku, malas.
Ia pikir aku akan kesepian disini? Aku memiliki pekerjaan yang luar biasa dan sahabat disini.
Aku jadi penasaran, dengan reaksi keluarga besar kala mereka menyombongkan apa yang mereka miliki saat tahu aku memiliki pekerjaan yang lumayan disini.
Jangankan keluarga besarku, adikku saja meremehkanku dan tak percaya aku akan bertahan di perusahaan besar seperti Ash-group. Aku jadi membayangkan, bagaimana rupa adikku saat tahu ternyata aku ini seketaris pribadi direktur utama.
Ia pasti akan menjilat dan berusaha terlihat baik di hadapanku.
Kurasa keputusanku tidak mengatakan pekerjaanku adalah yang terbaik. Biarlah waktu yang meruntuhkan kesombongan keluarga besarku.
‘ ting.’ suara notice pesan.
‘ dari Daniel?’ batinku malas. Namun rasa malasku tergantikan saat melihat siapa yang mengirimiku pesan.
‘ dari direktur?’ batinku senang tiba- tiba.
Aku memang sudah mencatat nomor telephone direktur untuk berjaga jika ada pesan penting.
Meski aku menduga direktur hanya akan menghubungi ku untuk masalah pekerjaan- entah mengapa aku tetap senang direktur menghubungiku, aku bahkan merubah posisi ku yang tadinya tiduran menjadi duduk di kasurku.
‘ kau sedang sibuk?’ isi pesan dari direktur.
“ tidak, tuan. Ada apa?’ jawabku.
‘ senin depan Emily akan datang menggantikan Andre.’
‘ menggantikan wakil direktur?’ heranku.
‘ ya, ia tak pernah bekerja di kantor sebelumnya, entah mengapa aku jadi khawatir.’ ucap Direktur.
“ ia sedang curhat?’ heranku.
Akhirnya hari minggu itu kupakai untuk ber chat ria dengan direktur. Membahas hal yang tak ada hubungannya dengan pekerjaan.
🌸🌸🌸
yuk tingglin jejak jika kalian pernah mampit kr karya prnulis amatir ini😊