
Setelah menunggu berapa lama- bahkan setelah salaman tanda kerja sama dan penandatanganan dokumen hitam di atas putih- pun, Ray menyadari jika Berta tak kunjung kembali.
Setelah memberi salam perjumpaan dan sedikit berbasa basi- Ray memutuskan untuk turun dan mencari Berta. Namun, tampak jika Berta tengah menunggu Ray di pintu masuk perusahaan saham temannya tersebut.
“ kenapa kau menunguku disini?” tanya Ray.
“ saya sedikit tidak mengerti soal saham.” jawab Berta sebagai alasan.
“ kalau begitu kau harus mempelajarinya.” jawab Ray.
“ tapi ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya, tuan.”
“ ha ha. Kau memang pandai bicara. Bukankah nanti kau juga yang akan mencatat segala keuangangan ku dan hasil dari permainan jual beli sahamku?” tanya Ray.
“ saya? Saya hanya Seketaris, tuan. Untuk bagian keuanganan- bukankah sudah ada tugas sendiri di bagian administrasi?” tanya Berta.
‘ maksudku adalah keungangan pribadiku nanti saat menjadi bagian dalam keluargaku.’ batin Ray.
“ setelah ini apakah kau ada acara?” tanya Ray.
“ tidak, tuan. Jika anda lupa- ini adalah akhir pekan. Ini adalah hari libur perusahaan. Apakah tuan ada jadwal untuk melihat proyek?” tanya Berta.
“ maksudku bukan masalah pekerjaan.” jawab Ray.
“ lalu?” heran Berta.
“ apak kau tidak kencan dengan kekasihmu?”
“ tidak. Aku memang sengaja menghindarinya. Anda ingat? Terakhir kali bertemu- ia bahkan mengacaukan makan siang kita dengan emosinya.” kesal Berta.
“ bagaimana jika kau menemaniku menonton bioskop?” tanya Ray.
“ bioskop?” tanya Berta.
“ apa kau tidak suka menonton Film? Kebetulan perusahaan temanmu berada di kawasan Mall- past ada Bioskop di dalamnya.” tanya Ray.
“ aa? Terakhir aku menonton bioskop sudah sangat lama sekali.” ucap Berta tertawa.
“ kalau begitu, apa yang kau suka? Drama Korea?” tanya Ray.
“ aku tidak suka yang romantis. Bagaimana jika action di selingi comedy? Atau horror?” tanya Berta.
‘ horror?’ batin Ray.
Hal yang di bayangkan Ray tentu saja suasana mencekam namun romantis karena; pasti Berta yang ketakutan akan memilih memeluk Ray.
“ kita makan siang dulu, kau mau apa?” tanya Ray setelah melihat jam di tangannya.
“ erm.., Ray. Sejujurnya aku tidak begitu suka masakan cepat saji. Apakah kita bisa makanan khas Solo saja?” pinta Berta.
“ baiklah, kau mau makan dimana?”
“ kita tidak usah kemana- mana, di luar pagar ini ada penjual kaki lima yang menjual makanan rumahan.” ucap Berta.
“ baiklah.” ucap Ray.
Berta pun segera keluar dari kawasan Mall tersebut dan menyebrang untuuk sampai di warung kaki lima tersebut.
“ cuma ada nasi dan masakan khas Indonesia. Kau mau apa?” tanya Berta.
“ sama kan saja dengan menu milikmu.” ucap Ray.
“ kalau begitu.., aku ayam dengan sayur, ya.” Berta berkata kepada penjual nya.
“ minumnya..,kau mau teh hangat atau ice?” tanya Berta.
“ erm.., hangat saja.” ucap Ray.
“ aku ice.” Berta berkata kepada penjual tersebut.
*
Setelah di antar, Ray dan Berta sungguh sangat terlihat menikmati.
“ bagaimana dengan supir yang mengantar kita tadi? Kau tidak mengajaknya makan?” tanya Berta.
“ aku sudah mengajaknya makan. Namun, ia mengatakan sedang puasa.” jawab Ray.
“ aa? Apa ia seorang Muslim?” tanya Berta.
“ ya, perusahaanku memang tidak pernah memandang Religi seseorang. Ia cukup setia dan meski berbeda agama- ia tetap memandangku hormat.” jawab Ray.
“ooo.” Berta memili melanjutkan makannya.
“ porsi makanmu sangat sedikit.” tanya Ray yang melihat porsi makanan Berta.
“ ya, bukankah nanti kita akan menonton film Horror? Tidak baik jika kita terlalu kenyang.”
“ kau memang pandai.” jwab Ray yang juga tidak sabar untuk menghabiskan makanannya.