
Supir yang di bawa oleh perusahaannya cukup mengerti jika Ray ingin berkencan dengan Berta- sehingga saat Ray mengajak supir tersebut untuk menonton film bersama- sama, ia hanya beralasan; ingin tidur di mobil- saja.
Akhirnya, Ray pun hanya menonton berdua dengan Berta. Namun, karena ini akhir pekan- tetap saja banyak pengunjung yang ingin berkencan dan menonton film.
“ kau belilah camilan, aku akan memesankan filmnya.” jawab Ray.
“ tentu. Kau ingin apa?” tanya Berta.
“ apa saja. Ini bawalah dompetku.” jawab Ray memberi dompetnya untuk Berta.
“ Apa? Ray! Jika hanya untuk membeli camilan- aku masih memiliki uang.” Berta tak percaya jika Ray dapat dengan gampangnya memberi dompetnya kepadanya.
“ tidak! Aku yang mengajakmu tentu saja aku yang harus membayarnya.”jelas Ray.
“ tapi...” Berta sedikit ragu.
“ ini tidak terlihat seperti seorang atasan yang peduli ataupun seorang teman. Bahkan saat aku berkumpul dengan teman- temanku pun tidak ada yang sampai memberi dompetnya padaku.” jelas Berta.
‘ palingan juga cuma uang dan bukan dompet.’ batin Berta.
“ memang kau berani mengambil dompetku ataupun isinya yang tidak seberapa itu?” tanya Ray.
‘ tidak seberapa?’ batin Berta yang melihat jika isi dari dompet milik Ray berisi uang Indonesia bewarna merah dan Biru dan ada beberapa uang negara asing. Yang bahkan jika di total bisa bernilai jutaan rupiah.
“ tidak berani.” jawab Berta cepat.
“ dan aku percaya padamu.” ucap Ray cepat.
“ sudah, cepatlah! Kau masih harus mengantri membeli makanan kan?” pinta Ray.
“ O.., key.” jawab Berta menuju stand makanan.
‘ karena ia memberiku dompet- itu berarti aku bebas memilih makanan yang aku suka kan?’ batin Ray.
‘Popcorn rasa pedas, gurih dan manis. Minuman bersoda lalu susu. Ermm, mungkin butuh permen jika makanan sudah habis tapi film masih ada.’ Berta memilih makanan yang sudah di bungkus tersebut. Satu- satunya yang harus mengantri hanya popcorn yang rasa original.
“ sudah selesai?” tanya Ray.
“ apakah masih kurang?” tanya Berta.
“ kurang..?” ucap Ray melihat barang belanjaan Berta.
“ kurasa cukup! Kelihatannya sebentar lagi waktunya untuk kita menonton.” ucap Ray.
“ aku mau buang air dulu. Bukankah nanti kita tidak bisa keluar- keluar lagi?” ucap Berta.
“ bukankah kau tadi sudah buang air?” tanya Ray.
“ tapi nanti kita tidak bisa menjeda film nya jika ingin buang air- di tengah- tengah Film.” keluh Berta.
Ray hanya bisa menahan tawanya melihat kelakuan Berta. Point yang terutama adalah ia pintar namun juga masih memiliki sisi yang polos. Itu juga alasan mengapa Ray tidak menyewa satu gedung bioskop ini.
Ia ingin merasaka kencan seperti anak muda pada umumnya.
* 🌸 *
Buang air sudah. Duduk di kursi yang sesuai juga sudah. Yang pasti adalah; Ray duduk bersebelahan dengan Berta. Jadi jika Berta ketakutan, Ray bisa menggunakan alasan melindungi untuk memeluk Berta.
Salah satu pendukung dari film seram tentu saja adalah music latar belakang yang bisa membuat penontonnya semakin terkejut.
Namun satu yang tidak di ketahui Ray adalah; Berta sangat suka hal berbau seram dan mistic. Apa lagi sekarang perhatiannya tengah terfokus pada camilan yang di bawanya.
“ Ray? Kau bergetar?” tanya Berta karena Ray memegang kursi dengan erat.
Dan saat film berada di puncak menegangkan dengan sound music yang mendukung. Berta memang terkejut namun tidak takut, malah terlihat jika Ray lah yang memeluk Berta dengan erat.
“ apa yang kau takutkan? Ini hanya film.” ucap Berta menenangkan Ray.
‘ bahkan menurutku manusia di dunia nyata lebih menakutkan.’ batin Berta.
Ya, satu alasan mengapa Berta bisa tidak takut terhadap hantu karena ia tahu- terkadang, manusia bisa lebih menakutkan dari pada Hantu- itu sendiri. Demi apa yang di ingini- mereka yang sebelumnya saudara bisa menjadi musuh di dalam selimut.
* 🌸*
‘ sial ini memalukan.’ batin Ray.
Seharusnya, Berta lah yang memeluk Ray bukan Ray yang memeluk Berta. Selama ini ia memang tidak pernah menonton horror namun ia tidak menyangka jika film yang akan ia tonton akan semenakutkan itu.
“ hiks, wibawa yang kubangun susah payah hancur karena salah memprediksi film.” kesal Ray.
Sementara itu, Berta hanya bisa tertawa melihat kelakuan Ray.