The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
S2 pov Berta



“ apa kau tahu alasan mengapa direktur dan keluarganya tiba- tiba tidak ada di kursi mereka?” tanya Alea saat bermain kerumahku.


“ entahlah, aku hanya mendengar jika ada masalah dengan wakil direktur.” ungkapku.


“ wow! Aku pernah berharp jalan wakil di persulit dan itu benar- benar terjadi? Seharusnya aku meminta menjadi kaya saat itu, siapa tahu aku benar- benar kejatuhan rejeki.” ungkap Alea tak percaya.


“ jangan senang seperti itu, aku dengar jika tn. Andre tertusuk diperutnya yang membuat para keluarga Ashton buru- buru menyusul wakil direktur.” ucapku.


“ aku tak menyangka akan ada kejadian seperti itu.” ucap Alea merasa tak enak.


“ maafkan aku.” ucap Alea kepadaku.


“ kenapa memint maaf padaku? Aku bukan wakil direktur, seharusnya kau meminta maaf pada tn. Andre karena telah mengatai nya.” ungapku.


“ aku meminta maaf pada istri direktur agar kau mau mewakilkanku mengatakannya kepada wakil direktur.” ucap Alea terkekeh.


“ Alea!” geramku karena ia menggodaku.


“ aku hanya bercanda. By the way, Semoga tn Andre tidak apa- apa.” jawab Alea.


“ ya, kita hanya bisa berdoa untuk tn. Andre. Meski ia sebenarnya Casanova, pekerjaannya bagus dan berkat beliau juga perusahaan ini jadi lebih berkembang.” ucap Berta.


“ apakah para karyawan kantor tahu akan hal ini?” tanya Alea.


“ aku yakin tidak, jika sampai ada yang mengetahuinya, aku yakin akan ada yang memanfaatkan kursi kekosongan direktur sekaligus waki drektur bukan?” tanyaku.


‘ karena itu juga alasan mengapa keberangatan proyek selalu tertunda.’ batinku.


Saat itu- aku berpikir, peralanan proyek ini akan tertunda cukup lama, siapa yang menyangka jika Direktur langsung pulang dan mengajakku untuk melanjutkan proyek di Indonesia.


Tidak sampai 3 hari perjalanan mereka ke Swiss.


Bahkan esoknya, aku melihat direktur sudah melenggang masuk untuk duduk di kursi kebesarannya.


Padahal aku pikir, akan ada haru baru seperti;


Wakil direktur yang coma sampai berbulan- bulan dan terbangun dalam keadaan lupa ingatan dan sebagainya dan sebagainya- seperti yang sering aku baca di novel online kesukaanku.


“ anda sudah kembali?” tanyaku.


“ ya, Andre sudah sadar dan masalahnya dengan Tama sudah di selesaikan. Aku tak bisa terlalu lama menelantarkan proyek di Indonesia karena kita sudah menundanya cukup lama. Siang ini kita bisa melanjutkan proyek ke indonesia- siapkan apa yang perlu di bawa.” ucap direktur melihat document yang belum sempat ia selesaikan kemarin.


“ apa aku terlihat lelah?” tanya Direktur.


“ eh?” aku menatap ke arah direktur, wajahnya tak terlihat lelah sama sekali.


“ tidak, anda sama sekali tidak terlihat lelah.” ucapku.


“ proyek di Indonesia telah tertunda cukup lama, aku tak mungkin menundanya lagi. Dan..” ucap direktur mengantung.


“ jika aku lelah, kau bisa memijitku nanti.” ucap direktur.


“ EH?” kagetku.


‘ perasaanku saja? Atau ia emang menggodaku?’


Aku mengesampingkan soal itu dan bergegas mengurus proyek sekaligus kepulanganku ke Indonesia. Beruntung aku tak membongkar isi koper ku- kemarin.


Aku masih memiliki pakaian di rumahku dan yang harus kubawa pulang hanya pakaian kotor. Kurasa aku hanya akan menambahkan membawa oleh- oleh berupa makanan. Meski ini perjalanan bisnis-biar bagaimana pun ini adalah perjalanan pulang kerumahku.


Sisanya hanya laporan dan berkas, kalaupun ada yang tertinggal, aku sudah memback- up nya di email ku sehingga tersambung ke manapun dimanapun aku menghubungkannya, aku bahkan bisa menghubungkannya, melalui handphone ku.


Akhirnya, ini menjadi kali ke dua aku naik pesawat pribadi keluarga Ashton.


Aku sedikit berbasa- basi bertanya soal wakil direktur dan aku melihat jika direktur yang sibuk dengan layar laptopnya. Ia benar- benar berdedikasi tinggi.


Aku terlalu fokus menatap ke arah direktur hingga ia sadar jika aku terus menatapnya.


Ini


memalukan.


Aku mengalihkan dan berkata jujur soal kekaguman ku padanya. Bahkan aku tahu, meski raganya tak berada di kursi kebesarannya, ia selalu mengerjakan pekerjaannya. Aku bahkan tak pernah mendapati jika ada pekerjaan yang menumpuk. Bahkan masalah berkas tanda tangan, ia akan memintaku mengirimkannya melalui faks dan mengirimkannyakembali- setelah di tanda tangani dan di baca ulang oleh nya.


Selama di perjalanan ia bercerita soal perusahaan. aku tak menyangka jika persahaan ini di dirikan oleh mendiang kakek direktur.


Aku memang tak begitu tertarik masalah entertaiment yang lebih mirip panggung sandiwara di dunia nyata- itu sebabnya aku sendiri baru tahu kenyataan itu.


Aku bertanya soal kekasih karena penasaran- apakah Direktur benar- benar tak memiliki kekasih, dan dia malah bertanya soal wajahnya.


Sejujurnya aku bukan orang yang menilai dari wajah, aku bahkan bukan type orang yang menghapal wajah terlebih dahulu. Mungkin, karena keluarga ku lah, aku memiliki kebiasaan selalu menunduk. Aku di harusan selalu mengalah meski aku tak salah bahkan aku selalu di kalahkan oleh saudaraku yang lebih muda. Mungkin karena itulah adikku bahkan selalu semena- mena padaku.