The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
S2 shy



Karena malu, Ray memutuskan menenangkan diri setelah sebelumnya memulangkan Berta kerumahnya.


Kemana? Karena di Indonesia tidak bebas dalam memiliki Alcohol- Ray memilih untuk datang ke sebuah Bar yang ada di kota Solo.


Bar yang menurut Ray hanya bintang tiga.


Suasana yang sederhana dan pemilihan dalam menu alcohol pun tidak banyak. Kebanyakan hanya Alcohol kelas rendah yang harganya cuma ratusan ribu. Bar ini bahkan tidak memiliki kelas private. Karena Ray tahu satu- satunya yang sama dari Bar ini dengan bar lain adalah; tempat ini menyediakan teman minum.


Jika pengunjung yang meminta teman minum sie, Ray masih bisa terima- karena bagaimana pun, Ray takkan mungkin meminta teman minum untuk menemani pria itu.


Namun di Indonesia- kebanyakan orang yang tak di undang akan dengan tidak tahu malunya mendekati Ray dan yang paling menyebalkan adalah;


Mereka sok kenal dan sok dekat dengan Ray- padahal, belum pernah bertemu sebelumnya.


“ Mister, apa kau mau aku temani minum?” tanya wanita yang tak Ray kenal- menggunakan bahasa Ingrish.


“ nona, penempatan spelling mu salah.” jawab Ray.


” ha?” heran wanita tersebut.


“ kau bisa menyebutku mister jika kau menyertakan namaku di belakang kata ‘mister’, namun jika kau tidak tahu namaku- namun masih ingin memanggilku- ada baiknya jika kau memanggilku Sir.” ucapan Ray membuat teman- teman wanita tersebut menahan tawanya.


“ saya tidak menyangka jika bahasa Indonesia anda sangat pintar.” jawab wanita tersebut menahan malu.


“ dan aku tak menyangka jika kau belum begitu pandai bahasa Ingrish namun berani menyapaku.” jawab Ray dengan senyum meremehkan.


“ kau..” wanita itu bergetar menahan marah.


“ apa?” jawab Ray ringan.


Satu hal yang tidak terduga adalah..., wanita itu berlari sambil menangis.


‘ aku pikir ia akan memaki ku. Bukankah wanita di Indonesia itu sangar- sangar? Dia yang salah- dia yang menangis- dia yang marah, namun menyalahkan pria?’ batin Ray.


Saat sedang asik minum, saudari kembarnya menelphone.


“ hallo?” sapa Ray.


“ bagaimana?”


“ apanya yang bagaimana?” tanya Ray menjawab telephone dari saudarinya yang tidak ada basa- basi sama sekali.


“ apa lagi? Tentu saja hubunganmu dengan Berta.”


“ baiklah.”


“ kau menelphone ku hanya untuk bertanya itu saja?” heran Ray.


“ Ray. Kita ini saudara kembar. Aku ingin menikah bersama- sama denganmu.” ucap Emily.


“ menikah? Apa kau sudah memiliki pasangan?” heran Ray.


“ sudah! Apa kau ingat soal anak gendut yang sering di bully di sekolahku saat aku masih sekolah dasar?” tanya Emily.


“ oo? Kau berjumpa lagi dengannya? Apa ia menyatakan perasaannya lagi padamu?” tanya Ray yang sudah tahu soal Destara kecil.


“ bukan hanya menyatakan perasaan, ternyata ayahku juga sudah menjodohkan aku dengannya.” pekik Emily dengan girang.


“ kau terlihat sangat senang. Apakah pria chubby mu menjadi tampan?” goda Ray. Sesungguhnya ia tahu jika saudari kembarnya menyukai Destara- pria itu memiliki sifat seperti Rena- ibu mereka yang polos dan pandai.


Namun setelah dari sekolah dasar, Emily tak tahu lagi kabar pria itu.


“ ia bukan hanya tampan. Kau tahu? Sekarang ia membuktikan kata- katanya jika ingin meruntuhkan kesombongan teman- teman kita bukan dengan kekerasan.” ucap Emily dengan semangat.


“ hem? Lalu?” heran Ray.


“ bocah chubby itu sekarang menjadi direktur! He he.” ucap Emily semangat.


“ apa kau senang hanya karena ia menjadi direktur?” tanya Ray.


“ yang membuatku senang adalah karena- meski ia sudah menjadi direktur- ia masih menyukaiku, bahkan sifat polosnya masih ada.” Emily menjelaskan dengan malu- malu.


“ oke. Oke. Aku tahu kau sedang kasmaran. Doakan aku agar aku segera dapat melamar Berta.” jawab Ray yang tertawa mendengar suara saudari kembarnya yang tampak ceria.


“ aminnn.” jawab Emily semangat.


Ray hanya menggeleng mendengar sifat saudarinya yang semangat.


‘ tapi..’ tiba- tiba Ray merasa lesu.


‘ bagaimana mau mendekati Berta lagi? Aku bahkan telah kehilangan muka karena aksi memalukanku- tadi.’ batin Ray.


Akhirnya setelah merasa bosan, Ray memutuskan untuk keliling ruangan di bar tersebut.


“ hai!” sargah sebuah suara. Merasa yang dipanggil adalah dirinya- lantas Ray mencari sumber suara.