The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
S2 pov Berta End



Aku bergegas mengambil tab ku dan pergi menuju mobil direktur di parkirkan. Rumahku berada di tengah kampung dengan akses jalan yang sempit. Roda dua saja kesusahan melintas bersamaan, apa lagi jika roda empat?


Supir sudah menunggu di dalam mobilnya. Setelah menyapa dan berbasa- basi, kami menuju tempat yang kami tuju.


Dari tempatku menuju perusahaan temanku perlu jalan memutar, sebenarnya sie cukup satu jalur lurus, namun banyak tempatku yang hanya menggunakan satu arah sehingga perlu jalan berkelok- kelok menuju perusahaannya. Aku merasa ini hanya strategi marketing. Tak heran, sewaktu pembangunan jalan- perusahaan bahan bakarlah salah satu yang mensponsori pembangunan jalan.


Tanpa terasa, kami sudah tiba di perusahaan temanku. Ralat, bukan perusahaan. Kantor tempat mereka berdiri hanya meminjam tempat dari gedung di pusat pembelanjaan.


Sudahlah yang terpenting adalah; aku harus mengubungi temanku. Menggatakan jika; kami sudah sampai di perusahaan tempat temanku bekerja.


“ wah Etta sekarang sudah sukses, kesini saja sekarang naik mobil.” begitu ucap temanku berbasa- basi setelah melihatku. Bagaimanapun, dengan adanya klien yang kubawa untuknya- makanya aku akan mendapat bayaran dengan perjanjian komisi 10% dari yang di saham yang nanti di beli. Bukankah itu berarti aku akan mendapatkan 20 juta?


Jika temanku setuju..., bukankah itu berarti gaji yang akan di terima temanku bisa lebih dari itu?


Jujur aku tidak tahu- karena aku hanya bekerja 1 bulan dan belum pernah mendapat gaji dari bisnis jual beli saham ini.


“ ah, tidak, itu adalah mobil atasanku dan bukan mobilku.” ucapku mengalihkan. Ya, meski aku juga tidak mengatakan jika atasan yang kumaksud adalah direktur perusahaanku. Lagi pula sekararang ini ia hanya memakai baju sederhana, takkan ada yang menyangka jika ia seorang direktur kan?


“ mana atasanmu, Ta?” tanya temanku akhirnya.


“ aku akan mengantarmu kepadanya.” ucapku.


Aku akhirnya memperkenalkan Direktur pada temanku yang bernama Arie. Jika kalian bertanya bagaimana aku bisa bertemu dengannya dan di ajak kerja di sini adalah;


Karena kami satu sekolah dulu waktu aku menempuh sekolah menengah atas juga teman satu extra-curricular.


Setelah berbincang sebentar, Arie membimbing kami menuju ruang untuk menerima tamu.


Bla! Bla! Bla!


Jika ini soal pekerjaan mungkin aku akan fokus dan mempelajarinya. Namun ini soal yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan. Mungkin, hanya orang kaya saja yang paham dengan pemikiran ini. Sesungguhnya ini cukup menarik. Kurasa nanti aku akan belajar soal saham ini dari direktur jika direktur kurang kerjaan nanti.


Hehe.


Aku memilih keluar dengan alasan kekamar kecil- bukan alasan, sesungguhnya, aku bukan orang dengan type yang suka memakai pendingin ruangan bernama AC. Aku akan gampang merasa ingin buang air kecil.


Namun saat keluar dari ruang tamu aku melihat beberapa temanku yang kukenal saat bekerja di perusahaan ini.


Hehe, main sebentar mungkin tidak apa kali, ya.


Yang niatnya sebentar jadi keterusan.


Hingga tanpa sadar direktur menyapaku.


Senyum kikuk. Yang penting minta maaf dulu.


He he.


Dan direktur tak memarahiku. Apakah senyum kikkuk- maksudku senyum tulusku berhasil membuat Direktur luluh?


Uh.., tiba- tiba aku merasa hampir mengompol- aku harus cepat- cepat menuntaskan panggilan alamku.


“ kau mau kemana?” tanya direktur.


“ ke Toilet.” ucapku jujur.


“ bukankah kau tadi sudah pamit ingin ke toilet?” ucap direktur dengan smirk smile nya.


‘ astaga, ia tidak benar- benar luluh rupanya.’ takutku.


Yang penting aku harus ke toilet dulu. Yang membuatku terkejut adalah tanganku yang di cekalnya.


Lebih terkejut lagi karena aku duduk di pangkuan seorang direktur dari Ash- Group.


Tidak! Batinku gelisah.


Namun sayangnya direktur malah semakin menahan aku. Beruntung berkas yang harus di tanda tangani direktur telah selesai.


Akhirnya bisa mengunakan kesempatan itu untuk lolos dan segera menuntaskan panggilan alamku.


*** 🌸🌸***


Lega!


Segera bersihkan tangan dan kembali ke tempat direkur- berada.


“ ...” aku terdiam saat mencuci tanganku.


Sejujurnya, aku sedikit heran pada direktur tadi.


Mengapa ia sampai memangku ku tadi dan menahanku hanya karena aku bermain dengan teman- temanku di perusahaan dimana aku pernah bekerja.


Ia tidak terlihat seperti orang yang marah tadi. Lebih terlihat seperti seorang pria yang usil karena...., tunggu!


Direktur tidak cemburukan?


Seingatku..., seingatku memang yang bermain bersamaku tadi memang lebih banyak teman pria.


Ayolah! Jika ia cemburu aku akan semakin merasa jika ia menyukaiku.


Lupakan.


Tangan sudah bersih, rambut sudah rapi. Posisi rok tidak pindah. Okey, aku siap kembali.


Niatnya begitu.., tapi bagaimana aku bisa kembali saat drektur membicarakanku.


“ dengar! Berta adalah temanku!” ucapan itu membuatku terdiam.


‘ begitu? Jadi direktur hanya menganggap aku temannya.’ batinku kecewa. Ternyata memang apa yang di ucapkan Alea salah. Aku selalu meyakinkan hatiku untuk tak berharap- agar aku tak merakan sakit. Namun hatiku tetap saja...


“ sekaligus wanita yang aku sukai!” ucapan direktur itu membuatku terdiam- bukan lagi karena kecewa namun karena terkejut.


‘ ap..., apa aku tidak salah dengarkan? Direktur? Direktur menyukaiku...? Ray menyukaiku? Ia juga menyukaiku?’


Terharu? pasti. Apalah aku hingga seorang direktur sepertinya bisa menyukai orang yang bahkan diremehkan keluarganya sendiri.


Senang? Tentu saja senang. Sejujurnya dalam hatiku terdalam akupun menyukai sosok Ray Ashton. Bukan karena ia direktur. Bukan karena ia tampan. Sejujurnya aku tidak bisa menilai penampilan seseorang, aku bahkan bukan type yang gampang menghapalkan wajah seseorang. Namun karena aku menyukai sosoknya lah yang membuatku bisa mengatakan Ray tampan.


Terlepas dari dia yang seorang direktur- sosoknya yang sederhana lah yang membuatku terpesona. Sosoknya yang memahamiku. Yang lembut. Yang supel.


Aku hanya berharap..., ia membuatku terlepas dari kekangan kelargaku. Membuatku mengerti arti kebebasan dan tak lagi membuatku merasa di setiri kehidupanku.


” tapi Berta tak tahu aku menyukainya.” lanjut Ray.


“ karena aku memang tak pernah menyatakannya. Jadi..., jika Berta


mengetahui aku menyukai itu berarti salah satu dari kalianlah yang memberi tahunya.” ucap Ray.


Mengapa Ray tak segera menyatakan perasaannya?


Karena..., karena aku masih memiliki kekasih? Apa ia menunggu kata putus keluar dari mulut Daniel yang membuatku tak memiliki status apapun lagi?


‘ kurasa aku harus keluar terlebih dahulu, tak sopan rasa nya merusak kejutan yang akan di siapkan Ray.’ batinku Berta menuruni tangga.


Setelah ini aku harus menyususn strategi agar kata putus ini keluar dari kekasihku.


Daniel adalah type pria konyol bersumbu pendek. Jika hanya karena kuota internet membuatnya ingin putus dariku, aku rasa hal sepele lain akan membuatnya mengeluarkan kata- kata keramat itu lagi. Batinku tidak sabar.