
πΈπΈSenin pagi.πΈπΈ
Jika kalian bertanya mengapa aku bisa bersenandung riang dan tak mempedulikan tatapan sinis para senior dan rekan sejawat ku- tentu itu karena aku dalam keadaan senang hari ini.
Bukan karena bisa naik jabatan yang membuatku merasa senang menghadapi senin pagi- yang biasanya hari yang menyebalkan bagi sebagian pegawai, namun karena akhir pekan yang di lalui nya dengan keluarga Emily yang terlihat ramai dan menyenangkan seolah aku merasakan suasana keluarga sesungguhnya di dalam keluarga Ashton. Di tambah berbincang dengan Alea benar- benar menambah mood boster ku menjadi lebih baik, aku seolah siap menghadapi hari, entah se bagaimana menyebalkannya hari ini. Meski aku tak berharap hai ini akan menjadi hari yang menyebalkan.
β pagi.β
β aa? Aku bertemu lagi dengan pria itu.β batinku melihat siapa yang menyapaku.
β pagi, Rick.β balasku.
β kau terlihat senang, apa yang membuatmu senang hari ini?β tanya Rick.
β kurasa wajahku benar- benar menggambar kan hatiku. Orang yang baru saja bertemu denganku sampai bisa tahu jika aku dalam keadaan senang.β batinku.
β tidak, kemarin aku bersama dengan temanku.β
ucapku jujur. Aku tak perlu menyebutkan siapa saja temanku kan? kurasa ia takkan mengenal mereka.
β lalu? Apa yang membuatmu senang- hingga kau terus bersenandung?β ucap Rick. Kenapa ia tampak penasaran dengan ku sie? Bukankah kita juga baru bertemu sekali? Batinku.
β sebenarnya waktu bersama temanku aku tanpa sengaja bertemu dengan keluarganya. Dan di sana entah mengapa aku merasakan suasana keluarga yang menyenangkan dari mereka.β ucapku jujur.
β apa kau tak pernah memiliki keluarga?β tanya Rick. Ia berpikir aku yatim piatu?
β tentu saja punya, tapi keluargaku tak seperti mereka. Bukannya aku menjelek- jelakkan keluargaku, namun hanya karena uang panas- keluargaku sudah seperti musuh dalam selimut yang dari depan mendukung namun dari belakang menusuk dan setiap bertemu- para orang tua itu yang di bicarakan hanyalah menyombongkan apa yang di miliki anak- anaknya. Dan aku paling tidak tertarik dengan pembicaraan itu dan lebih suka asyik dengan dunia ku sehingga aku seperti merasa asing dengan keluargaku sendiri. Kau tahu? Aku bahkan tak tahu dengan pasti nama lengkap para saudara jauhku dan hanya tahu nama panggilan mereka saja.β Astaga, kenapa aku jadi membicarakan keluargaku sendiri? Mengingat keluarga besarku membuat mood ku kembali turun.
β syukurlah, pintu Lift segera terbuka. Jika tidak aku akan merasa sangat tidak enak mencurahkan hatiku kepada orang yang baru saja aku temui, apa lagi, ia seorang pria.β
β ah.., maaf aku malah mencurahkan isi hatiku padamu, padahal aku baru mengenalmu.β ungkapku merasa tak enak.
β tak apa, anggap saja kau curhat dengan teman mu.β ucap pria itu sambil tersenyum.
Melihat senyumannya aku merasa seperti bertemu dengan pria yang berbeda, apakah ia pria yang sama dengan yang aku temui? Seingatku awal aku bertemu, ia adalah pria yang dingin yang bahkan hanya acuh ketika aku ajak berbicara. Atau jangan- jangan karena pembicaraan soal Alien itu? Batinku malu.
β ngomong- ngomong kau mau kemana?β tanyaku. Kenapa sedari ia keluar dari Lift ia mengikutiku?
β ruang Direktur.β jawabnya.
β wah, aku juga akan kesana, apa kau ada perlu dengan direktur utama?β tanya ku. Ini perasaanku saja atau para pegawai disini sedang menatap ke arahku? Ini bukan tatapan iri karena aku yang tiba- tiba naik pangkat ke kursi seketaris pribadi direktur- kan? Tidak! tatapan mereka lebih ke arah tatapan penasaran. Apakah karena baju yang di belikan Emily? Sudah kuduga baju ini terlalu mencolok.
β tidak.β ucap Rick membuka pintu direktur.
β akulah direkturnya.β ucap Rick setelah kita berdua sampai di ruangan Direktur.
β Apa?β batinku memilih terdiam sejenak sebelum tertawa kecil mendengar ucapan pria di depanku.
β oh, ayolah, bercandamu sangat lucu. Aku memang tak tahu wajah direktur kita, tapi setahuku nama direktur sekaligus pewaris utama itu bernama Raymond Ashton sementara kau..β ucap ku menggantung karena sebuah suara memanggil nama Ray.
β Ray.β panggil wakil direktur membuka pintu ruangan direktur.
β direktur? Dia ada tepat didepanmu.β ucap Andre menunjuk Rick.
β dia benar- benar Raymond Ashton? sang pewaris sekaligus direktur utama saat ini? Tunggu! Setelah ku lihat- lihat lagi ia memang mirip dengan Emily. Ia adik yang Emily maksud?
β kau?β ucap ku tak percaya. Tampak jika pria itu hanya tersenyum.
Bukankah seharusnya aku menunduk hormat? Pria yang sedang berbicara padaku ini adalah seorang direktur! Tapi dari pada takut aku lebih merasa marah. Entah karena apa aku hanya ingin marah. Mungkin karena sebentar lagi aku akan mengalami bloody moon? Atau karena aku merasa di bohongi? A..h sedari dulu aku paling benci di bohongi! Apa lagi di beri janji- janji manis! Ini mengingatkan aku akan kelakuan Daniel dan ini membuatku kesal.
Entah dari mana datangnya keberanianku hingga aku menunjuk pria yang ternyata adalah direktur sekaligus pewaris ASH group itu dan meneriakinya.
β kau!β tunjukku.
β kau membohongiku!" ucapku tak terima.
β aku ini bodoh ya? Aku baru saja akan menduduki kursi seketaris dan aku malah meneriaki direktur! Seorang Direktur utama! Apa aku mau di pecat begitu saja? Aku ini memang bodoh! Tapi apa yang sudah kuucapkan tak bisa di tarik kembali.β batinku antara menyesal dan masih menahan amarah karena sudah di bohongi.
β aku tidak membohongimu, aku kan tidak mengatakan jika aku bukan direktur dan bertanya apa pendapatmu soal direktur utama.β ucap Rick tertawa dan ini membuat rasa menyesalku hilang dan menambah rasa kesalku.
β tapi kau mengaku jika namamu Rick.βucap ku tak terima.
β kurasa aku memang bodoh! Namun melihat ia tertawa membuatku tambah kesal. Ia sedang mempermainkanku, ya?β kesalku.
β itu juga bukan bohong, Rick adalah nama pen name -ku ketika membantu daddy ku saat beliau masih memegang perusahaan ini- secara online, iya kan. Andre.β ucap Rick menahan tawa.
β anda juga ikut bekerja sama?β ucap ku tak terima.
β woo o, aku hanya di mintai tolong, nona.β ucap wakil direktur terkejut bahkan hingga melambaikan kedua tangannya.
β lihat! Aku bahkan dengan berani menunjuk wakil direktur. Selamat tinggal kursi seketarisku, setelah ini hanya ada tatapan tawa yang meremehkan dari senior sekaligus rekan sejawatku. Dan yang paling menyebalkan adalah tawa remeh adikku saat mengetahui aku benar-benar tak bertahan lama di ASH group.β
Itulah yang aku bayangkan, namun siapa yang menyangka jika aku bukan saja masih bekerja di ASH group bahkan aku benar- benar mulai bekerja sebagai seketaris pribadi direktur , bahkan ia sendiri yang mengajariku saat aku pertama duduk di kursi seketaris direktur ini. Dan yang membuatku terkejut adalah pria yang aku kenal sebagai Rick ini- yang ternyata adalah seorang direktur utama ini malah mengatakan kata; maaf dengan jelas.
β kurasa apa yang harus di ajarkan sudah aku ajarkan semua. setelah ini, aku harap kau dapat bekerja dengan profesional sebagai seketaris pribadiku dan...β ucap pria yang ternyata seorang direktur itu mengantung.
β maafkan karena aku sudah menyinggung mu. Aku tak bermaksud membohongimu.β ucap pria itu sambil menggaruk tengkuknya.
Aku hanya menatap direktur utama itu. Ini kali pertama aku mendapatkan permintaan maaf.
Selama ini, meski aku tak salah akulah yang di haruskan meminta maaf atau saat orang lain salah, akulah yang harus lebih dulu memaafkan orang itu. Seandainya ia adalah Daniel, apakah pria itu juga akan meminta maaf saat aku marah karena pria itu membohongi ku? Kurasa jawabannya adalah aku yang harus mengerti alasan ia membohongiku.
β tak apa, sayalah yang harus meminta maaf karena sudah membentak anda.β ucapku tersenyum. Melihat pribadi seseorang sepertinya membuat moodku yang sempat turun kembali naik.
πΈπΈπΈ
koq sepi?
karena author jrg up yaπ’