
Aku tidak sabar melihat seperti apa rupa wakil direktur saat beliau melihat perubahan Tama. Wanita itu saja sampai pangling melihat seperi apa rupanya sekarang setelah aku dandani.
Kurasa sebenarnya aku ini multi talent hanya keterbatasan dana saja. Tak heran, mendiang ibu ku selalu berpendapat jika aku menginginkan sesuatu harus menabungnya terlebih dahulu.
Sebenarnya itu bagus karena ia mengajari ku pentingnya berusaha keras saat menginginkan sesuatu yang kita ingini. Namun yang membuat ku kesal adalah; karena hal itu hanya berlaku untukku. Setiap adikku menginginkan sesuatu, dengan mudahnya ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan saat meminta.
Sedangkan aku? Aku masih ingat jika uang saku ku saja kadang pernah tak terbayarkan selama sebulan lamanya. Aku harus menahan lapar karena aku tak terbiasa sarapan di bawah jam 10, sementara aku tak memiliki uang saku untuk jajan di sekolah. Aku sendiri bukan tipe yang terbiasa membawa bekal, itu sebabnya aku terbiasa tidak makan dan hanya bisa makan saat pulang sekolah, belum jika aku di haruskan pulang lebih sore karena ada pelajaran tambahan atau extra kulikuler. Dulu, aku pikir aku dapat meraih mimpi ku saat bersama Daniel yang bebas.
Namun saat aku semakin aku bersama nya, semakin aku sadar jika aku semakin jauh dari mimpiku. Tak heran, uang yang aku tabung kebanyakan aku pakai untuk membantunya. Sekarang, aku bahkan tak bisa lagi menabung. Jangankan menabung, membeli apa yang kuingini saja tak bisa.
Pernah sekali aku membeli cosmetic dan ia mengatai ku dengan kata ; boros!
Kepalaku ingin pecah saja rasanya. Hatiku meledak akan rasa marah. Bagaimana tidak? Aku bahkan tak pernah bisa membeli apa yang ku mau hanya untuk membantu nya, dan saat aku untuk pertama kali nya membeli apa yang ku mau dengan uang yang ku miliki- ia malah mengatai ku boros?
Aku ingin menunjuk wajahnya, mengatai kekesalanku padanya.
Aku bukannya tak pernah mengatai kekesalanku, pernah sekali aku mengatakan kekesalanku dan semua itu berakhir dengan ia yang tak terima aku mengatai nya.
Astaga! Aku seperti berhadapan dengan seorang wanita bertubuh pria! Tak heran! Apapun yang ia mau harus di turuti dan di mengerti! Bahkan saat ia salah pun akulah yang harus mengaku salah.
Jika kalian berhadapan dengan orang seperti itu, apakah kalian akan kuat? Apakah dengan perilaku nya sepert itu dia masih berharap hati seorang wanita akan tetap sama seperti sebelumnya?
Hati wanita itu ibarat gelas kaca.
Yang jika terjatuh akan pecah dan tak bisa di satukan.
Kalaupun bisa, serpihan kecil yang ikut jatuh takkan bisa ikut di satukan dan hanya menjadi sebuah luka.
Dan kaca yang sudah di satukan pun pasti akan berbekas, sama seperti sebuah hati yang terluka. Bisa di satukan, namun itu masih menyipan sebuah bekas yang tak bisa pasti akan terlihat bedanya. Dan serpihan kaca itu ibarat rasa suka yang tak bisa ikut bisa ikut di satukan.
Alasan mengapa aku masih bersam seperti orang itu. Karena aku sendiri tahu, waktu yang telah terlewati selama ini tak bisa di bilang sebentar. 7tahun.
Aku sudah mengenal keluarganya, sudah melewati masa kecil semua keponakannya. Kurasa jika au benar- benar pberpisah darina satu- satunya yang akan kuindukan adalah kepnakannya yang masih kecil.
Aku menatap layar handphone ku. Sejujurnya, aku berharap direktur akan menelpone ku- sekedar menagatakan hasil malam ini, atau mungkin menertawakan reaksi wakil direktur atas Tama.
Mengingat direktur membuatku tersenyum. Bolehkah aku membandingkan pria lain dengan kekasihku?
Bolehkah di saat aku terluka pada kekasihku aku merasa senang pada kehangatan pria lain?
Bagaimana tidak merasakan hangat- jika di saat kekasihku sendiri menuntut permintaan maaf dariku dan tak merasa bersalah akan kesalahannya- pria lain malah meminta maaf duluan bahkan atas kesalahan yang tidak ia lakukan?
Di saat kekasih ku hanya bisa menyalahkanku- pria lain bahkan bisa mengertiku dan menenangkanku saat aku berbuat salah- bahkan meneima kesalahanku?
Sejujurnya aku tak ingin berharap. Aku memang tak berharap. Aku tahu Direktur berbuat baik kepada siapa saja. Namun mengingat direkur tetap membuat senyumku tak berhenti berkembang.
Biarlah aku menyimpan perasaan ini sendiri. Apalah aku jika sampai menyampaikan perasaanku sendiri pada seorang direktur sepertinya. Ah..., aku ingin bercerita pada Alea.
Dan kurasa sahabatku itu dapat merasakan kegundahan yang kurasakan sehingga secara tiba- tiba ia menelphone ku dan menanyakan apa yang terjadi hari ini.
Karena memang, saat direktur memintaku mendadani Tama direktur sekalian mengantarku pulang karena memang aku mendadani bodyguard dari wakil direktur itu di rumahku.
‘ kurasa kalau aku menikah aku akan memakai jasa mu sebagai MUA ku.’ goda Alea.
“ memang kau sudah ada calon yang akan di nikahi?” balasku.
‘ belum.’ jawabannya yag santai dan penuh kepedean membuatku tertawa akan sifat sahabat ku yang satu ini.