
Namun ternyata apa yang aku pikirkan tidak terjadi. Aku sendiri baru tahu jika Ash Group adalah perusahaan yang benar- benar memikirkan para karyawannya. Selain tak memberi perbedaan antara atasan atau bawahan- perusahaan mereka sama sekali tak mentolerir adanya pembullyan sesama pegawainya. Yang aku dengar dari Alea hal itu karena sang pendiri sekaligus pemilik dari Ash-group memiliki riwayat sang pembully dan pembuat onar.
Siapa yang menyangka jika istri dari sang direktur tersebut adalah korban dari pembullian sang direktur di masa lalu. Belajar dari masa lalu, sang direktur utama tersebut tak ingin apa yang di lakukannya sampai terulang dan membawa trauma pada korban pembullyan juga ketakutan pada sang pelaku pembully. Hal itulah yang membuat direktur utama yang sudah pensiun itu melarang keras adanya pembullyan di perusahaannya.
Meski tak ada pembullyan aku tetap merasa tak nyaman pada tatapan iri senior dan teman sekantor ku tersebut.
Sejujurnya ini bagai buah simalakama bagiku, tentu saja ini akan menjadi kabar baik untuk di katakan kepada ayah, sekaligus meruntuhkan kesombongan adikku yang mengatakan jika otakku takkan mampu bertahan di perusahaan besar sekelas Ash- group, namun disisi lain aku tak tahu akan tahan dengan tatapan iri senior sekaligus pegawai yang lain. Apa lagi aku tidak langsung menduduki kursi seketaris dan masih ada 3 jam lagi sampai waktu pulang kantor.
“ Hai, kenapa melamun?” suara ini..
“ Emily!” ucapku senang.
‘ oh, jadi ia mengenal saudari Direktur tak heran jika ia dapat dengan segera naik tingkat, wanita yang licik.’ ucap sebuah suara samar- samar.
Hei! Kalian ini berbisik menggunakan pengeras suara? Mengapa kalian berbicara sejelas ini di saat orang yang kalian bicarakan masih di hadapan kalian?
“ apa kalian tahu jika mengatai orang di belakang itu tanda tak mampu?” ucap Emily sarkas. Seketika pegawai yang lain diam bergidik tak berani membalas, siapa saja yang membuat saudari direktur utama- marah tentu saja semua tahu konsekuensi nya. Antara di turunkan pangkatnya atau di pecat.
Aku sendiri tak menyangka jika saudari dari direktur ini benar- benar membela ku. Apakah ia benar- benar mau berteman denganku? Bukan untuk membully ku?
“ sudahlah, bagaimana kau tahu jika aku berada di Divisi perancangan?” ucapku mengalihkan.
“ kau lupa jika adik kembarku itu adalah direktur di perusahaan ini, aku juga memiliki saudara jauh yang bersedia mencarikan aku informasi pegawai disini.” ungkap Emily.
‘ dia benar juga. dan siapa yang di maksud saudara jauh olehnya?
“ ngomong- ngomong apa yang kudengar benar? Kau akan bekerja dengan adikku?” tanya Emily.
“ em.., ya.” ucapku ragu. Apakah ia kemari karena tak setuju aku akan dekat dengan saudaranya?
“ aku mendukungmu!” ucap Emily lantang.
“ ha?” heranku.
‘ apa maksudnya menaklukkan adiknya? Apakah adik kembarnya itu menakutkan? Dingin, keras kepala dan perfeksionis?’ Batinku bertanya- tanya.
🌹🌹🌹
suka ga?
harus suka donk😊
yuk dukung terus author biar author semangat upnya😊😊
jangan lupa ninggalin jejak jika kalian pernah mampir
berupa like juga love
sekedar coment dan saran juga ga papa
kritik juga gapapa
berikan dukungan selalu untuk author berkembang yu😇😇😇
salam sayang dari
penulis amatir
see you next time
bye bye
arigatou gonsamasta
xie xie