The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
S2 mengawasi dari jauh



Andre membuka matanya, di sampingnya ada Tama yang sedang menangis sambil berusaha menghentikan pendarahan di perut Andre. Andre menatap langit biru, sambil mengingat bagaimana ini bisa terjadi.


Benar, setelah kejadian Tama menolaknya, pria itu mulai menjauh dari Tama meski Andre tetap berusaha mengawasi wanita itu dari jauh. Sebenarnya bisa saja ia meminta anak buahnya mengawasi Tama dari jauh, namun Andre tak melakukannya. Ia ingin menunjukkan jika ia sungguh- sungguh akan perasaannya pada Tama.


“!” terkejutnya Andre ketika melihat ruang praktek Dr Anna yang secara tiba- tiba pasiennya memberontak dan memaki Dr Anna. Tama yang kala itu ada di sana untuk membantu Dr Anna pun menjadi sasaran kebrutalan pasien yang datang untuk konsultasi di rumah Praktek Dr Anna.


Andre yang kala itu hanya mengawasi dari Apartement di sebelah ruang praktek Dr Anna hendak bergegas membantu kekasih hatinya, sampai ia melihat jika Tama memegang tangan sang pasien yang menarik ramut ikal Tama dan memelintir badan pasien hingga pasien pri itu terjatuh.


‘ sampai kapanpun ia memang luar biasa.’ batin Andre tertawa. Setelah kerusuhan yang terjadi Dr Anna memutuskan untuk menutup tempat praktek nya sementara. Melihatnya Andre mengambil handphone nya dan memnekan dial yang baru saja di beri Dr Andre.


‘ Tuuth.’ suara sambungan telephone.


‘ hallo?’ sapa sebuah suara di ujung telephone.


“ anda tidak apa- apa?” tanya Andre to the point.


‘ kau benar- benar mengawasi dari jauh, ya? Aku tidak apa- apa, beruntung kekasihmu itu pandai beladiri.’ ucap Anna dari seberang telephone.


“ aku melihatnya, ia memang luar biasa.” puji Andre.


‘ kau mengawasi dari mana? Bagaimana bisa kau mengetahui sedetail itu?” tanya Anna.


“ apartement tepat di samping ruang praktek anda.” ucap Andre jujur.


‘ Apartement itu? Itu apartement yang sangat sederhana.’ ucap Anna.


“ itu tak masalah, ini satu- satunya Apartement yang menghadap langsung menuju ruang Praktek anda.” ungkap Andre.


‘ perjuangan mu sungguh luar biasa, huh?’ ucap Anna. Sampai sebuah suara memanggil Anna dari balik ruangan Anna.


‘ Tama mencariku, kurasa telephone ini kita akhiri dulu.’ ucap Anna mematikan telephone.


“ ya, terimakasih sebelumnya untuk saran anda.” ucap Andre.


‘ you are welcome.’  ucap Anna.


***


“ dengan siapa anda menelephone?” tanya Tama.


“ bukan siapa- siapa.” ucap Anna.


“ apakah kekasih anda?” tanya Tama.


“ aku tidak apa, Dr. Apa anda biasa mengalami hal ini?” heran Tama.


“ ya, itu hal biasa ketika kau ingin mengobat kejiwaan Pasien, terkadang tak sedikit yang memberontak dan mengamuk seperti tadi.” ungkap Anna.


“ saya masih heran kenapa anda mau memilih menjadi Dr Psychology? Apa karena biaya yang di terima cukup besar?” tanya Tama.


“ tentu saja tidak. Jika aku balik, misalnya begini- mengapa kau mau menjadi seorang dokter? Padahal resikonya juga besar, kau harus berhadapan langsung dengan darah dan mungkin amarah dari keluarga pasien ketika pasien tak terselamatkan?” tanya Anna.


“ karena saya mencintai pekerjaan saya, meski saya juga merasa ngeri berhadapan langsung dengan darah namun itu semua terobati melihat Pasien yang sembuh dan berangsur membaik.” ungkap Tama.


“ begitupun denganku, meski resiko terkena kemarahan pasien, melihat pasien yang berangsur sembuh membuat semua yang saya lakukan terbayar.” ungkap Anna.


“ lagi pula.” ucap Anna lagi.


“ lagi pula?” heran Tama.


“ jika tak ada seseorang sepertiku, orang- orang yang memiliki Trauma akan selamanya memiliki Trauma dan ketakutan seumur hidupnya. Itulah guna kita, Tama.” ucap Anna mengelus pipi Tama.


“ terima kasih.” ucap tama malu- malu.


“ sebenarnya membuat Trauma mu menghilang itu cukup mudah.” ungkap Anna.


“ benarkah?” tanya Tama.


“ belajarlah memaafkan Tama, maka dengan begitu pun beban di hatimu pun menghilang.” ungkap Anna meninggalkan Tama. Tama berdiam beberapa saat sebelum akhirnya menuju Jendela dan menatap ke arah Apartement di mana Andre mengintai.


Di satu sisi Andre yang mengira jika Tama menatapnya, terjatuh karena terkejut, saat melihat melalui teropong jarak jauh- jika Tama menatap ke arahnya.


‘ a.... apa ia menyadari aku mengintainya dari jauh?’ batin Andre.


0o0


 hai! hai! hai


penulis amatir di sini.


maaf ya para reader sekalian kalo author jarang up, soalnya lagi fokus ke karya yang author masukkan ke lomba menulis novel.


jangan lupa dukung selalu author ya ^_^


like, coment dan follo jangan lupa ^_^