The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
S2 Tama wijaya



 


 


BRUK!! tepat di hari ke sepuluh Andre jatuh pingsan karena kelelahan. Tubuhnya tak terurus dan lingkaran hitam mulai menghias wajah tampannya. Ia bahkan tak lagi memikirkan penampilannya karena ingin mencari Tama. ia bahkan melupakan sarapannya dan hanya makan sebungkus roti agar gampang di makan sambil berjalan nanti.


***


Beberapa saat kemudian perlahan Andre mulai membuka matanya. Dan yang pertama pria itu lihat adalah ruangan yang serba putih.


‘ apa ini surga? Aku bahkan belum sempat meminta maaf pada Tama dan Tuhan telah menjemputku.’ batin Andre menangis.


Andre menatap kesekeliling dan matanya membulat tatkala melihat wanita yang di carinya memakai jas dokter sedang meracik obat- mungkin untuk dirinya.


“ Tama Wijaya!” ucap Andre spontan.


“ ha?” heran Tama.


“ apakah ini hadiahku dari Tuhan?” ucap Andre merancu.


“ apa kepalamu terbentur?” heran Tama akan rancuan Andre.


“ kurasa iya, jika tidak- aku takkan mati.” ucap Andre yang masih mengira jika ia sudah di surga.


“ mati?” Tama bertambah bingung.


“ ya, jika tidak, Tuhan takkan mempetemukan aku padamu.” ucap Andre melantur.


“ kau mengharapkan aku mati?” geram Tama.


“ tentu saja aku tahu ini bukan dirimu, aku tahu Tuhan hanya menggambarkan dirimu untukku.” ucap Andre merancu.


“ kau pasti sudah gila.” ucap Tama jengah.


“ ya, aku gila karenamu, kau tahu itu.” ucap Andre masih menatap lekat pada Tama.


“ kenapa gara- gara aku? Kau gila karena kelakuanmu sendiri.” ucap Tama geram.


“ kau benar, aku tahu aku laki- laki yang kurang ajar mengingat kelakuanku padamu. Aku menyesalinya dan aku ingin meminta maaf padamu, namun kau malah menghilang tanpa mengatakan apapun padaku. Aku hampir saja menjadi gila saat aku tahu kau memutuskan pergi dariku.” ucap Andre menatap langit- langit.


“ kau pasti berbohong.” ucap Tama jengah.


“ aku tidak berbohong.” ucap Andre yakin. Tama menatap mata Andre dan wanita itu tak menemukan adanya kebohongan dari mata Andre.


“ kau tahu? Aku bahkan telah mencarimu hampir di setiap universitas di Swiss yang memiliki jurusan kedokteran dan Psychology hanya utuk mencarimu dan berakhir disini karena kelelahan mencarimu.” ucap Andre menatap Tama.


 Untuk kau permalukan lagi? Untuk kau sakiti lagi?’ namun hatinya bertanya akan hal lain.


“ entahlah, kurasa aku mulai menyukaimu.” ucap Andre menatap kembali langit- langit. Tama yang terkejut mendengarnya menatap Andre- tak percaya apa yang di dengarnya.


“ kau bohong.” sanggah Tama tak percaya.


“ kau takkan pecaya, aku sendiri tak percaya. Kau tahu? Setelah kepergianmu aku tak lagi berminat pada wanita, namun hanya mengingatmu membuat tubuh bagian bawah ku seketika langsung terbangun.” ucap Andre jujur karena masih mengira jika ia telah mati.


“ sayang sekali aku baru menyadarinya ketika aku sudah ma....” ucap Andre menggantung karena tiba- tiba ada seorang dokter masuk keruangan dimana tempat Andre di rawat.


“ Tama, bagaimana dengan pria yang pingsan di jalan itu, apa ia sudah sadar.” ucap Dr Anna- teman Patricia.


“ Dr, ini Andre. Anak dari Mrs Patricia.” ucap Tama tak mempedulikan wajah terkejut Andre.


“ oh, jadi kau anak, Patricia? Pantas saja ketika melihatmu- aku merasa kau mirip dengan seseorang.” ucap Dr Anna menepuk bahu Andre.


“ tu..., tunggu! Aku belum mati?” ucap Andre tak percaya.


“ sayang sekali belum.” ucap Dr Anna.


Seketika Andre menatap Tama yang memalingkan mukanya dari Andre.


‘ Sial!’ ucap Andre terkejut. Wajahnya memerah semerah tomat yang telah matang. Bagaimana tidak? Ia baru saja membocorkan perasaannya sendiri pada wanita yang ia cari selama ini.


*


Sementara itu di belahan dunia lain.


“ Berta, tolong undur perjalanan kita ke Indonesia untuk proyek ke beberapa hari ke depan.”


“ kalau saya boleh tahu- kenapa, Tuan?” heran Berta.


“ Andre- wakil direktur sedang menangani beberapa masalah di Swiss, jika aku juga pergi meski untuk urusan inspeksi proyek kursi direktur akan kosong, aku tak bisa membiarkan kursi jabatan direktur kosong untuk beberapa waktu.” ungkap Berta.


“ apa ada perusahaan cabang di Swiss, Tuan? Setahu saya, Ash group belum memiliki cabang perusahaan di sana.” heran Berta.


“ bukan masalah itu- tapi masalah yang lain. Sudahlah, undur saja dulu untuk beberapa hari ke depan.” ucap Ray.


“ baiklah.” ucap Berta, meski bingung ia tetap melaksanakan perintah atasannya tersebut.


‘ kau harus berterimakasih padaku jika kau bisa mendapatkan kekasih hatimu.’ batin Ray.


0o