
“ sudahlah, Berta, ayo kita makan bersama.” ucap ibu dari Emily mengajakku untuk makan bersama.
Aku sedikit terkejut melihat ibu dari Emily memesan makanan yang sama denganku. Apa ia memiliki selera yang sama denganku? Tapi siapa yang dapat menolak godaan sossis dengan telur? Nyam, aku tak sabar mencicipi sossis itu. Itu terlihat enak di menu yang aku lihat.
Tunggu! dari gambarnya sossis- sossis itu terliht besar dan menggiurkan, kenapa yang datang tak sebesar yang ada di gambar? Batinku saat aku melihat pesanan ku di antar.
‘ kenapa ayah dari Emily kembali melihatku? Tadi menatap dari ujung rambutku hingga ujung kaki ku, sekarang menatap kemakanan ku. Apa ia mengalami ngidam simpatik? Apa istrinya sedang hamil?’ heranku.
Tidak mungkin! Istrinya bahkan memesan makanan yang sama denganku. Dan dari yang aku lihat ibu dari Emily itu tak terlihat sedang mengandung. Batinku menatap ibu dari Emily tersebut.
Ngomong- ngomong, siapa yang mereka bicarakan sedari tadi? Erick?
“ apakah ia adik yang kau ceritakan Em?” tanyaku.
“ yap.” ucap Emily mencomol karage ayamnya dengan saus keju.
“ anak- anak kami sangat jenius dan berbakat.”
“ di usianya Erick yang baru 14 tahun sudah lulus S1, kami ingin meneruskan pendidikan kedokteran nya di Perancis sebenarnya, namun ia mendapatkan beasiswa dari Negara untuk melanjutkan di Swiss, jadi kami harus merelakan anak kecil kami.” ungkap Ayah dari Emily mengupas Jeruk sebagai penutup dan memakannya.
Aaa, hal yang biasa di lakukan orang tua. Membanggakan anaknya. Tapi benarkah yang mereka katakan? Lulus pendidikan kedokteran di umur 14 tahun? Saudara jauhku bahkan membutuhkan waktu 10 tahun menyelesaikan pendidikan kedokterannya. Jika saudara jauhku mendengarnya pasti ia akan langsung menciut seketika melihat adik dari Emily.
“ what are you say’ little son’?” tanya sebuah suara.
“ Erick?” tanya ayah dan ibu dari Emily serempak. Mendengarnya akupun menatap ke arah pria yang mereka panggil Erick.
“ kau sudah kembali? Little brother?” Ucap Emily menepuk pundak adik laki- lakinya.
“ sudah, aku memang pulang hari ini, aku sudah mengatakan pada mom dan dad untuk menjemputku di bandara tapi ternyata kalian malah asik disini.” ungkap Erick kesal dan langsung duduk di sisiku.
“ aaa, maaf, Mommy lupa, mommy ingin menjemputmu setelah berbelanja makanan untuk pesta penyambutan kepulanganmu, tapi di tengah perjalanan kami bertemu dengan sister mu dan temannya.” ucap ibu dari Emily mengatup kedua tangannya. Seketika itu juga aku melihat jika Erick mengalihkan tatapannya padaku.
“ nama ku Berta.” ucapku berusaha sopan.
“ kau cantik.” ucap adik dari Emily itu secara tiba- tiba.
“ Eh?” apa?
Dan tiba- tiba, aku begitu terkejut melihat ayah dari Emily menghajar adik laki- laki Emily, tunggu! Apa aku melewatkan sesuatu? Kenapa ia tiba- tiba memukul anak laki- lakinya ini?
“ auw! Pak tua kenapa kau memukul kepalaku?”
‘ dia memanggil ayahnya sendiri dengan istilah; pak tua? Ia emang pantas di pukul! Tapi aku tak mendengar ia menyebut kata itu tadi.
“ anak muda! Pertama, panggil aku Daddy, dad, father, Papa atau apalah terserah padamu. Kedua, dia ini hampir seumur kakak- kakakmu!”
tunggu! Kenapa aku di libatkan? Aku memang seumur dengan Emily, tapi apa hubungannya?
“ Eh? Berapa umurmu?” tanyaku memastikan.
“ 17, kau?” Tunggu! Benarkah ia berumur 17 tahun? Umurnya berbeda 8 tahun dariku? Kenapa ia terlihat lebih tua dari aku? wajahku yang baby face atau kehidupan kedokteran membuat wajahnya tampak lebih tua dari umurnya?
Tunggu! Kenapa ia langsung terlihat lesu setelah aku mengatakan umurku?
“ dia kenapa?”
“ biarkan saja, ia baru saja memasuki masa puber.” jawaban dari ayah Emily membuatku tambah binggung.
Tunggu! Bukankah itu berarti jarak antara Emily dan adiknya itu adalah 10 tahun?
“ ya, sebenarnya, saat aku mengandung Emily dan Raymond di karenakan sebuah kecelakaan. ada sebuah kejadian dimana Allan tidak mengetahui jika aku mengandung anaknya sehingga aku harus membesarkan anak- anak yang kala itu masih di dalam kandungan- sendirian hingga usia kemamilan hampir memasuki 6 bulan.” ucap ibu dari Emily mengenang.
‘ kecelakaan? Hamil sebelum nikah? Tn Allan memperkosa Mrs Rena? dan..
Tidak bisakah kalian tidak mengumbar kemesraan kalian? Kenapa aku yang menjadi malu melihat kalian kermesraan di depan umum? batin ku melihat ayah dari Emily yang tanpa malu memeluk istrinya.
“ jadi karena itu Aunt, Trauma?” tanyaku mengalihkan.
Apa hanya aku di sini yang merasa malu melihat kemesraan mereka? Atau jangan- jangan mereka sudah sering mengumbar kemesraan di mana saja dankapan saja hingga anak- anak mereka biasa saja melihat apa yang di lakukan kedua orang tuanya. Erick bahkan tampak biasa saja dan memilih memesan makanan untuknya.
“ ya, bisa di bilang begitu, padahal anak- anak yang kala itu masih sangat kecil, menginginkan seorang adik, sebenarnya aku selalu meyakinkan jika anak- anak dari saudara jauhku juga merupakan adik mereka, tapi mereka bersikeras menginginkan adik sendiri, akhirnya aku memberanikan diri untuk hamil lagi kedua kalinya.” ucap ibu dari Emily.
Ya, aku mengerti, ibu hamil memiliki banyak resiko. Antara kesehatan ataupun psychology nya. Apa yang di lakukan tn Allan pasti membuat trauma tersendiri bagi Mrs Rena.
“ dan akhirnya berhasil melahirkan Erick tanpa kendala?” tanyaku penasaran
“ jika di bilang tanpa kendala sie.., tidak juga. Ibu Hamil memiliki psychology yang lebih rentan dari pada yang lain. Dan kau tahu? Suami ku ini pernah memberiku kejutan Anniversary dengan berpura- pura selingkuh.” ucap ibu Emily menatap suaminya yang menciut karena rasa bersalah.
‘APA?’
“ pasti sangat sakit.” ucapku tanpa sengaja.
‘ astaga! Ada apa dengan mulutku hari ini? Mengapa apa yang aku pikirkan semuanya terucap?’ batinku kesal sambil menutup mulutku.
“ tentu saja sakit, di kehamilan pertama aku sudah mengalami ujian dengan membesarkan sendirian juga di cemooh warga karena hamil tanpa suami dan di kehamilan kedua aku mendapatkan kabar jika suamiku bersama wanita lain.” ucap ibu Emily menyesap kopi nya.
‘ bisa ya beliau sesantai itu?’ batinku takjub pada Mrs Rena.
“ lalu?”
“ aku meyakinkan diriku jika setiap keluarga memiliki ujiannya sendiri, tak ada yang sempurna. Tapi dalam hatiku jika Allan benar- benar mendua aku akan membawa anak- anak dan pergi jauh darinya- itulah janjiku dulu dengannya sebelum menikahi nya.”
Aku begitu terkejut melihat suaminya yang sekali lagi memeluk Mrs Rena, bahan tampak jika Tn Allan meminta maaf sambil merajuk.
“ panas- panas- panas.” ucap Emily dengan suara ala pengantar barang sambil mengibaskan kerah bajunya.
“ kurasa pendingin disini rusak, aku merasa gerah.” timpal Erick mengibaskan tangannya.
Ternyata bukan hanya aku yng merasa panas? Seandainya aku juga bagian dari keluarga mereka aku pasti akan mengatakan hal yang sama seperti yang di ucapkan Emily. Sementara yang bisa aku lakukan hanya diam sambil mengalihkan perhatianku.
😂😂😂😂