The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
S2 makan bersama



Jika kalian bertanya, mengapa aku makan bersama dengan Direktur. Karena ia mengatakan terbiasa selalu bersama- sama ketika makan. Itu sangat berbeda denganku yang selalu makan di kamar- sendiri. Di saat ibuku ada, ia memang selalu ingin anak- anaknya makan bersama- sama dalam satu meja makan.


Ibuku tiada dan peraturan itu seketika hilang. Aku ingin mempertahankan makan di meja makan.


Namun bahkan mejaku di bereskan dengan alasan kotor- maksudku benar- benar di bereskan. Meja ku dari kayu, sehingga ayahku memisahkan perbautnya dan menyimpan kakinya.


Alhasil, saat direktur ingin makan bersama, aku hanya memiliki meja panjang untuk tamu. Beruntung tidak sedang ada tamu saat itu.


Direktur berkata jika ia terbiasa hidup sederhana, dan ia memang membuktikannya, selain tidur di kamar sederhana, ia bahkan tidak masalah dengan kamar mandi sederhana ku yang hanya memiliki bak mandi dengan gayung dan tak memiliki penghangat air.


Pintu kamar mandi ku bahkan hanya kain karena pintu itu rusak akibat aku berpegangan di pintu kala aku terpleset di kamar mandi. Ini memalukan, aku dapat melihat silluet tubuh direktur. Bahkan hanya dari bayangan nya saja aku tahu tubuh direkur bagus.


Sial! Aku dan pikiran kotorku.


Direktur sedikit terkejut kala melihat aku di depan kamar mandi- seolah aku sedang menunggu direktur keluar.


“ direktur sudah mandi? Maaf, aku baru saja ingin mandi.” ucapku sebagai alasan. Aku tahu jika aku tak bisa memaka alasan ingin ketoilet. Toilet dan kamar mandi di rumahku terpisah.


“ erm.., ya. Aku lupa membawa baju gantiku.” ucapnya yang menjelaskan mengapa ia hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.


“ oo.” ucapku dengan polosnya.


“ Tak masalah, aku memiliki kakak laki- laki dan adik laki- laki, aku terbiasa tinggal dengan para laki- laki, dan mereka juga terbiasa hanya menggenakan handuk saja setelah mandi, kau tidak perlu mempermasalahkannya.” ucapku berlalu kekamar mandi.


‘ meski aku harus mengakui tidak ada pria dari keluargaku yang memiliki otot di perutnya, yang ada mah lemak.’ Batinku.


*** 🌸🌸🌸***


Sarapan pagi, sesuai janji aku memasak untuk direktur.


Masakan yang umum di pagi hari di Indonesia tentu saja;


3 porsi nasi goreng buatan sendiri. Di tambah telur mata sapi setengah matang dan irisan timun. Satu untukku, satu untuk direktur, satu untuk ayahku pastinya. Aku sudah belanja di pagi hari tadi di pasar traditional dekat rumahku.


Aku juga membeli susu hangat untuk direktur.


Sementara aku meminum susu di campur coffee.


“ kau sangat suka coffee?” tanya direktur meminum susu nya.


“ ya, saya dan ayah saya memang pecinta coffee, kemanapun kami pergi satu yang kami cari untuk di beli adalah coffee. Sementara untuk makanan tentu saja telur.” ucapku memakan nasi goreng dengan telurku yang aku buat matang.


“ aku bisa melihatnya. Namun mengapa kau membuat matang- kuning telurmu?” heran direktur. Karena kebiasaan orang luar adalah makan telur mata sapi setengah matang.


“ kalau aku membuat setengah matang akan mempengaruhi nasi gorengku. Aku hanya akan memakan telur setengah matang pada nasi biasa, roti atau mie.” ucapku semangat.


“ ya, sekarang aku tahu mengapa.” ucap direktur memakan masakanku.


“ kenapa?” heranku.


“ ini enak.” jawab direkur gampang.


“ kau bisa saja.” jawabku malu- malu.


“ ya.., semenjak ibuku tiada, akulah yang secara sadar memasak untuk keluargaku. Aku berlatih memasak dari aplikasi YT atau bertanya pada ibu- ibu di sekitar sini.” ucapku menghabiskan nasi gorengku.


“ erm.., kak? Atau mister Ray? Bagaimana aku harus memanggilmu?” tanyaku.


“ panggil nama saja.” ucap direktur.


“ ayahku hanya tahu jika kau adalah atasanku. Meski kau memintaku tidak menggunakan bahasa formal, ayahku tetap saja akan bertanya mengapa aku dengan tidak sopan memanggil nama pada atasanku.” ucapku panjang lebar.


“ kau benar, ya sudah panggil aku mister saja.” ucapnya mengalah.


‘Ini perasaanku saja atau ia memang ingin aku memanggilnya hanya dengan sebutan nama?’ batinku.


“ okey, mister. Aku akan membersihkan piring ini lalu berdandan, jika kau sudah selesai minum taruh di dapur saja aku yang akan mencucinya setelah pulang dari mengunjungi temanku.” ucapku bergegas ke dapur.


Oke, piring sudah di cuci. Sekarang.., ayo ke kamar dan berdandan. Aku melihat jika direktur sedang membaca berita melalui tab nya sambil meminum susu hangat yang tadi aku buatkan.


Siapa yang menyangka jika direktur yang terkenal dingin dan arogant- bisa semanis ini?


Okey, jangan buat direktur menunggu. Bersihkan muka, beri pelembab, bubuhkan foundation. Tap tap. Rapikan alis.


Hehe, aku bukan type yang bisa membuat alis simetris jadi Alis adalah hal yang pertama aku lakukan, jika tidak rapi bereskan dengan foundation lagi, jika sudah rapi baru aplikasikan countour lalu tutupi dengan bedak.


Mata yang utama. Sesuaikan warna mata dengan baju yang akan kugunakan, warnai tulang pipi, aplikasikan pelembab bibir dan pewarna bibir.


Setelah itu rambut.


Gulung, gulung dan gulung rambut panjangku lalu sembunyikan.


Okey aku siap.


Eit! Lupa pengharum badan. Teteskan pada lingkar tangan lalu belakang telinga.


“Aku siap sekarang.” ucapku keluar ke hadapan direktur.


Aku melihat jika direktur hanya menatapku. Apakah ada yang salah dengan penampilanku?aku memang hanya menggenakan kaos. Karena aku tidak sedang pergi bekerja dan aku merasa apa yang aku gunakan masihlah pantas.


Aku menepuk wajahku.


“Apakah riasanku aneh? Terlalu tebal?” tanyaku.


Seingatku aku hanya meng- aplikasi kan cosmetikku tipis saja dan tidak berlapis- lapis.


“ ti.., tidak. Kau sudah siap? Kalau begitu ayo berangkat.” ucap direktur dengan canggung. Aku menatap ke arah direktur. Pakaian semi formal di padukan dengan jass.


Ia memang menawan, memakai baju apapun tetap keren. Bahkan tak memakai apapun lebih keren lagi.


He he.


Aku dan pikiranku. Bayangkan saja saat tadi ia hanya menggenakan handuk di setengah badannya. Rambut pirangnya yang masih setengah basah, lehernya yang panjang, dadanya yang tebal akan otot, keenam otot yang mengiasi perutnya.


Au..., aku merasa air liur ku akan menetes.