
‘ apa aku benar- benar menyukai Rena?’
‘ tidak, ini pasti hasrat pria dewasa.’ batin Alan bagai terbagi menjadi dua kubu.
‘ lalu mengapa aku merasakan ini hanya pada Rena?’ Allan menarik nafas kasar, melempar nicotine- nya yang telah habis dan mengacak rambut hitamnya, memilih beranjak dari atap tempatnya berdiri.
Allan memilih kembali keruangannya namun di perjalanan Allan melihat Rena yang sedang memfoto copy- berkas di temani oleh karyawan pria. Melihatnya tertawa dengan riang seperti itu membuat hati Allan menjadi panas.
‘ padahal, jelas- jelas sebelumnya di hadapanku ia sangat terlihat murung, kenapa di hadapan laki- laki itu ia bisa tertawa lepas seperti itu?’ batin Allan geram. Tampak tangannya mengepal dan mulai menggertakkan gigi. Baru mau menghampiri tampak pria yang bersama Rena telah pergi meninggalkan Rena sendiri. Melihat Rena sendiri muncul kehampaan lagi di hati Allan. Ia mulai ragu untuk melangkah, ia tak tahu harus mengatakan apa ketika berhadapan dengan Rena.
‘ aku harus mengatakan apa?’
‘ maaf? Maaf untuk apa? Karena telah melakukannya dengannya? Karena memberinya cek? Tidak menghargainya?’ batin Allan bingung. Ia memilih meninggalkan Rena yang sibuk memfotocopy berkas.
---
Suara dering ponsel mengagetkan Allan.
“ ada apa? Bukankah kau baru saja memutuskan untuk pulang?” ucap Allan melihat Alan menelponnya.
‘ Alan, buka website segera!’ ucap Alan dari seberang telephone panik.
“ ada apa? Kenapa suaramu panik sekali?” ucap Allan menenangkan sahabatnya.
‘ ini soal kau Allan, namamu tercetak di halaman utama, soal masa lalumu sebagai pembuat onar!’ ucap Alan di belakangnya terdapat suara banting setir, sepertinya Alan baru saja setengah perjalanan dan hendak kembali ke tempat Allan.
Allan lalu mematikan ponselnya dan melihat halaman utama website dan benar saja ada beberapa berita soalnya.
‘ presiden utama Ash Group adalah pembuat onar.’
‘ president direct Ash Group pernah membuat guru pengajar hampir lumpuh dan kini guru tersebut mengalami lumpuh permanent.’ dan masih ada beberapa berita lain.
Tangan Allan mengepal, ini kali pertama berita soal dirinya di masa lalu bocor, selama ini ia selalu mengancam teman- temannya agar tak membocorkan dirinya di masa lalu, kecuali…
‘ Rena!’ hanya satu nama itu saja yang ada dipikiran Allan.
Hanya dirinya yang belum ia ancam.
Tapi selama ini ia terlihat tak mengenal Allan, bagaimana bisa?
Apa itu hanya sandiwara? Setelah tempo hari ia merasa tidak terima? Ingin membalas dirinya?
Tanpa di sadari Allan menggertakkan giginya, dadanya bergemuruh amarah dan dendam menggelapkan diri Allan. Dan saat Rena kembali ke ruangan Allan, pria itu segera menyerbu Rena.
“ Tu.., Tuan? Apa yang anda lakukan? Lepas! Uhuk!” ucap Rena menderita karena Allan mencekiknya.
“ apa maksud tuan?” ucap Rena tak mengerti.
“ kau yang membocorkan ke media?” ucap Allan masih meninggikan suaranya.
“ apa maksudnya? Saya tidak mengerti?” Rena mulai menangis.
“ jangan pura- pura BODOH!” bentak Allan tidak sabaran.
“ pasti kau yang membocorkan soal masa lalu- ku!” ucap Allan memperlihatkan ponselnya dan menampilkan berita soal dirinya.
“ saya tidak mengerti maksud tuan, saya tidak memiliki alasan apapun untuk melakukan ini.” ucap Rena air mata mulai mengalir dari mata indahnya.
“ TENTU SAJA KAU MEMILIKI ALASAN!” bentak Allan membuat tangis Rena semakin kencang.
“ aku dulu orang yang membullymu saat kau masih di SD swasta!” ucap Allan membuat Rena tak percaya.
“ dan sekarang kau membocorkannya karena kemarin? Hah! Kau tidak terima?” bentak Allan mencekik Rena semakin kencang.
“ ti.., tidak! Bukan saya.” ucap Rena mulai susah bersuara.
“ lalu kenapa kau menangis waktu itu? Hah! Kenapa kau tidak mau menerima cek yang ku berikan?” ucap Allan menuntut.
“ sa.., saya.” ucap Rena mulai kesusahan bicara.
“ KATAKAN!” tuntut Allan.
“ Karena saya menyukai Tuan!” teriak Rena membuat Allan tak percaya, dia memundurkan dirinya dari Rena dan menatap Rena yang terbatuk karena paru- paru- nya akhirnya bisa mengambil udara kembali.
“PERGI!” Bentak Allan. Rena hanya menatap Allan tak percaya ia bisa mengatakan seperti itu.
“ jangan sampai aku melihat wajahmu lagi.” ucap Allan membalikkan badannya membelakangi Rena.
Rena hanya menangis, merapikan barangnya dan meninggalkan Allan tanpa mengatak sepatah katapun, karyawan yang melihatnya hanya bisa diam tidak tahu harus melakukan apa, karena mereka tahu apa yang akan terjadi jika mereka membantu Rena.
Tangis selalu menemani Rena, di pertengahan jalan Alan melihat Rena yang menangis.
“ kau kenapa?” ucap Alan khawatir apa lagi begitu melihat tanda cekikan di leher Rena. Rena hanya menangis.
“ saya hanya mau pulang tuan.” ucap Rena meninggalkan Alan.
“ biar aku antar.” ucap Alan menawarkan.
Rena menggeleng lemah, air mata masih belum berhenti mengalir dari mata indah Rena. Alan hanya menatap punggung Rena yang mulai meninggalkan perusahaan Allan. Ia lalu bergegas menuju ruangan Allan. Menenangkan sahabatnya itu.