The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
S2 seorang Berta



‘ suara ringtone pesan.’


“ kenapa kau tak membuka isi pesan itu? Siapa tahu isinya penting." ucap Ray yang melihat Berta tampak mengabaikan pesan tersebut dan memilih melanjutkan makannya.


"Tidak masalah, hanya dari temanku, ia tahu jika aku bekerja di ash- group dan meminta nomor salah satu pejabat penting di Ash- group." ucap Berta memilih mengabaikan pesan dari temannya tersebut.


"Untuk?" tanya Ray


"Temanku ini bekerja di bagian saham." ucap Berta.


"Oo." Ucap Ray yang langsung mengerti.


"Tapi teman ku bekerja di perusahaan yang menggaji karyawan jika berhasil mendapatkan konsumen, atau orang yang mau di ajak untuk menaruh saham. Jika tidak mereka tak kan di bayar."


"Bagaimana kau bisa tahu?" heran Ray.


"Aku pernah bekerja di sana, namun target yang mereka miliki sangat tinggi, dan aku bukan orang yang pandai meyakin  orang lain."


‘ tentu saja, kau ini tipe yang lebih banyak diam namun lebih banyak bekerja.’ batin Ray yang tahu akan kinerja Berta, wanita itu bahkan lebih banyak lembur ketika Ray pergi ke rumah sakit di mana Andre di rawat- di Swiss. berbeda dengan karyawan lain yang lebih memilih menunda karena tahu Ray sedang tidak ada di tempat.


"Bagaimana jika kau mengajak ku kesana." ucap ray


"Untuk?" heran Berta.


"Tentu saja menaruh saham di perusahaan teman mu. Kasihan jika ia tak menerima bayaran hanya karena tak mendapatkan klien."


"Tapi saham target perusahaan mereka cukup tinggi! Bahkan sangat besar!" ungkap Berta.


"Berapa?"


"200 juta."


"Hanya 200 juta?"


‘ hanya?’ batin Berta terkejut.


"Itu tak masalah, kebetulan limit di kartu ku telah melewati batas dan kurasa aku bisa berinvestasi beberapa ratus juta di perusahaan teman mu." Ucapan Ray membuat Berta mengusap kepalanya.


"Kenapa?" heran Ray melihat Berta mengusap kepalanya seolah sakit kepala.


"Mendengar anda mengatakan 200 juta itu sebagai hanya, membuat kepala saya pusing."


"Kau tak perah memegang uang sebanyak itu?"


"Apa kau tak pernah melihat seberapa besar gaji mu setiap bulannya- sebagai seketaris priabdiku?" ungkap Ray tak percaya.


"Aku tak pernah mempedulikannya, aku hanya mengambil yang aku butuhkan, membaginya- sebagian kepada keluargaku- sebagian kepada orang yang membutuhkan. Sejujurnya aku tak mempedulikan seberapa banyak gaji saya, yang terpenting di tabungan saya masih memiliki uang." ungka Berta.


"Jadi itu sebabnya kau tak pernah terlihat err.., membeli sesuatu berupa cosmetic, tas mewah dan lain- lain." ungkap Ray yang melihat jika semua yang di kenakan Berta sangat sederhana, bahkan ia hanya mengaplikasikan, beberapa cosmetic ringan di wajahnya- berbeda dengan kebanyakan karyawan wanita yang berdandan bagaikan menggempur tembok karena saking tebal dan banyaknya cosmetic yang mereka pakai.


"Cosmetic? Saudara kembar anda bahkan telah membelikan saya sesuatu yang lebih dari cukup. Dan tas? Hiss.., hal itu hanya akan membuatku tampak aneh, aku lebih suka berpakaian bebas sesuai fashion ku. Lagi pula jika aku terlalu pamer itu akan membuatku jadi sasaran kejahatan." Ucap Berta. Memang selama ini Ray bahkan tak pernah melihat barang bermerk melekat di tubuh Berta, sesuai kata- katanya, segala fashion yang di kenakan Berta terlihat bebas dan santai, wanita itu bahkan lebih terlihat sering memakai kalung kain yang menurut Ray pasti sangat murah.


"Dan apa maksudmu membagi dengan yang lebih membutuhkan." heran Ray.


"Eits..., itu rahasia antara aku dan yang di Atas." Ucap Berta memberi telunjuknya ke atas.


"Ayolah! Anggap kau sedang bercerita dengan teman mu." Ucap Ray mengiba.


"No no no. Jika aku menceritakannya namanya pamrih." Ucap Berta, mulai terbiasa berbicara santai pada Ray.


"Bukankah kita teman? Aku bahkan sudah menceritakan soal keluargaku. Aku berjanji meminta pada Tuhan agar tak memarahi mu karena menceritakannya padaku." canda Ray.


"Seenaknya!" Kesal Berta.


"Apa kau pernah dengar Tuhan itu murah hati?" Canda Ray lagi.


“ hais.” ucap Berta kesal.


"Aku menunggu."


"Aku membagikan berkat kepada orang- orang." ucap Berta kalah.


"Berkat?" heran Ray.


"Ya, berupa buku dan alat tulis buat anak- anak yatim, membagikan beberapa makanan untuk orang- orang tunawisma. Aku juga menyumbang di beberapa gereja secara acak."


"Kau? Benarkah?" ucap Ray tak percaya.


"Ya, kau tahu? Kita bekerja untuk mencari makan dan memenuhi kebahagiaan kita. Jika sudah memiliki semua nya namun uang yang kita miliki masih berlimpah, bukankah ada baiknya kita membagi sebagian dari rejeki kita? Dengan begitu kita juga akan menyebarkan kebahagiaan itu dan membuat kebahagiaan semakin besar. " ucap Berta dengan tertawa. tawa yang sungguh lepas tanpa di tutup- tutupi. Sungguh ucapan dan tawa Berta lagi dan lagi membuat Ray semakin terpesona.


Ia jadi penasaran mengapa wanita itu bisa begitu berbeda dengan keluarganya, meski ia hanya mendengar dari sisi seorang Berta, dari apa yang di lihatnya dari kelakuan ayah kandung Berta yang lebih memberi kasihnya kepada adiknya sudah menunjukkan jika sebagian dari cerita Berta adalah kebenaran.


0o