
“ baiklah kalau begitu, jika anda butuh sesuatu, kamar saya haya ada di depan anda, jika anda ingin makan malam,kita bisa keluar untuk membelinya.” ucap Berta meninggalkan kamar Ray setelah memberi Sprei dan bantal untuk Ray.
“ bukankah aku sudah bilang untuk tak lagi menggunakan bahasa formal?” tanya Ray.
“ eh? erm.., ya.” ucap Beta mau mengulang kata- katanya.
“ baiklah sebagai hukuman, aku ingin kau yang memasak untukku.” ucap Ray.
“ apa? Aku?” tanya Berta.
“ iya, siapa lagi? Masa aku meyuruh ayahmu.” ucap Ray.
“ tapi kelihatannya isi kulkas kosong, bagaimana jika aku membelikanmu masakan tetangga ku, baru besok aku memasak untuk mu.” ungkap Berta menggaruk tengkuknya, memilih menggunakan bahasa non formal.
“ baik, kalau begitu aku ikut denganmu.” ucap Ray.
“ ha?” ucap Berta Heran.
” kenapa? Tidak boleh?” tanya Ray.
“ maksudku, kau mau pergi ke daerah kampung ku hanya untuk membeli makanan dengan baju serapi itu?” tanya Berta menunjuk pada pakaian Ray yang masih memakai baju setelan kantor lengkap.
“ kau benar, tunggu, aku akan mengganti baju, di mana kamar mandinya?” tanya Ray.
“ dari sini lurus, belok kiri, ada pintu masuk lalu kiri sampai kamar makan ada pintu lagi masuk. Kiri kamar mandi, kanan toilet.” ucap Berta.
“ oke, 10 minute.” ucap Ray mengambil bajunya dari koper.
**
Jika Ray yang memakai baju setelan lengkap sungguh memperlihatkan seorang perfeksionis- CEO sejati, namun Ray dengan baju yang santai terlihat lebih segar dan juga trendi.
“ kenapa kau masih menertawakanku? Aku sudah memakai baju santai.” heran Ray yang melihat Berta tertawa saat melihat rupa Ray.
“ kau memang tengah memakai baju santai, tapi aksesoris yang kau pakai terlalu lengkap jka hanya untuk berbelanja di rumah tetanggaku.” ucap Berta tertawa.
“ kau mirip ayah ku, yang hanya untuk pergi ke hal sepele perlu memakai baju rapi.” ucap Berta mengenang.
“ benarkah?” tanya Ray.
“ ya, ayahku berbeda dengan ibuku, ibuku bahkan- pernah hanya memakai baju daster rumahan untuk menjemputku ke sekolah.” ucap Berta memakai sandal dan hendak keluar dari rumahnya.
**
“ siapa ini, Ta?” tanya salah seorang tetangga melihat Berta bersama Ray.
“ atasanku, Mba.” ucap Berta.* Mbak adalah sebutan bahasa jawa untuk kakak perempuan.
“ tapi kau cocok dengannya, Ta.” ucap tetangga Berta.
“ kau bisa bahasa Indonesia?” tanya Berta.
“ kau tidak lupakan? Mommy ku juga orang Indonesia.” ucap Ray.
“ dari pada dengan kekasihmu itu kau lebih cocok dengannya, Ta. Lagi pula aku lihat jarak umurmu dengan atasanmu tak terlalu banyak.” ucap tetangga Berta yang tahu perbedaan Berta dengan kekasihnya berjarak 10 tahun lebih tua dai Berta.
“ benarkah, Mba? Apa aku pantas dengannya?” tanya Ray merangkul pundak Berta.
“ kau mau aku jadi bahan gosip di sini, ya? Sudah! Jika kau sudah membeli makananmu, ayo kita pulang!” geram Berta meninggalkan Ray.
“ orangnya malu- malu, Mba.” ucap Ray masih menggoda tetangga Berta baru kemudian menyusul Berta.
“ kenapa kau marah?” tanya Ray melihat Berta terlihat kesal.
“ kau membuat gosip di tetangga ku.” kesal Berta.
“ memangnya kenapa?”
"Bagaimana jika kekasihku tahu? Ia bisa marah kepadaku!" geram Berta menunjuk dada Ray.
"Kenapa? Bukankah kau memang sudah tak mempedulikan kekasihmu? Aku pikir kau ingin putus dengan kekasihmu." heran Ray.
"Memang! Tapi jika marah pria itu sungguh menyebalkan, ia selalu melempar barang- barang ku!" ucap Berta seolah mengenang kelakuan kekasih nya.
"Tenang! Bukankah aku bisa melindungi mu? Kita hanya di sini selama proyek dan setelahnya kita akan kembali ke LN." Ungkap Ray. namun sesungguhnya kata- kata Ray sungguh membuat Berta tenang.
"Jika kau melakukan ini aku benar- benar akan merasa jika kau melakukan ini karena menyukai ku." Ucap Berta tertawa.
‘ memang.’ batin Ray memilih mengikuti Berta.
0o0
hai hai hai
maaf author jarang up
soalnya lagifokus ke karya yang sedang author ikutin lomba sie
dukung terus ajh
biar author semangat up ya ^_^
see you next time