
“ kau akan menyesal, Allan.” ucap Alan yang mendengar apa yang terjadi dari Allan.
“ huh! Menyesal? Apa yang harus kusesali dari melepas pengkhianat?” ucap Allan, tampak mejanya berantakan karena barang- barangnya telah di lempar Allan kesegala penjuru untuk bentuk kekesalan.
Alan menarik nafas berat.
“ bukan dia pelakunya, Allan.” ucap Alan, ia telah menyuruh anak buahnya menyelidiki dalang dari penyebaran berita tentang masa lalu Allan.
“ ha?” ucap Allan menatap Alan.
“ bukan Rena pelakunya. Kau memang mengancam teman- teman kita, tapi kau lupa jika guru- guru juga mengetahui masa lalu- mu.” ucap Alan menyerahkan berkas penyelidikan yang di dapat dari anak buahnya.
“ aku merancu pada berita kedua soal guru yang yang mengalami kelumpuhan permanent.” ucap Alan lagi.
“ jangan bertele- tele, Alan. Sebutkan saja siapa pelakunya.” ucap Allan tak sabaran.
“ kau ingat, Miss Vanessa? Guru muda yang pernah kau silet nadi- nya hanya gara- gara menegur- mu saat kau berbuat onar dulu.” dahi Allan mengernyit berusaha mengingat berusaha mengingat kejadian yang sudah sangat lama itu.
“ setelah kita lulus aku mengetahui jika ia mengalami lumpuh perlahan, karena dampak dari nadi yang kau silet itu, dan sekarang dia benar- benar mengalami lumpuh permanen yang menyebabkan ia kehilangan karir- nya sebagai pengajar.”
“ jadi wanita itu? Tapi bukankah kau mengatakan jika ia lumpuh permanent? Bagaimana wanita itu bisa membuat berita seheboh ini.” ucap Allan mengambil berkas di tangan Alan dan membaca dengan seksama.
“ kau ingat Nina? Teman Rena yang kau ceritakan tempo hari lalu? Ia juga seorang guru, antara ia adalah saudaranya atau memang Nina kenal Miss Vanessa sebagai sesama pengajar. Ia pasti membayar wartawan untuk membuat berita tentangmu menjadi heboh dan membuatmu menyalahkan Rena. Aku mengumpulkan beberapa saksi mata yang mengatakan ada seorang wanita muda yang membawa wartawan ke rumah Miss Vanessa, dan aku menyelidikinya dengan menyocokkan data base muka dan ternyata itu Nina.” ucap Alan membuat rasa penyesalan dalam diri Allan. Setelah kemarin ia tak menyangka akan semakin melukai Rena dan yang lebih parahnya lagi, ia sendiri yang membocorkan soal dirinya.
“ kau harus minta maaf pada Rena, Allan.” ucap Alan mengingatkan. Ia melihat betapa terlukanya Rena saat melewati dirinya di loby.
“ huh! aku harus mengurus para guru itu baru Rena, memangnya bisa kemana dia? Setelah keluar dari perusahaan Ash Group dia tidak akan bisa kerja dimanapun.” Ego menguasai Allan.
‘ kau benar- benar akan menyesalinya Allan.’ batin Alan merasakan apa yang akan terjadi di depannya.
***
Tak butuh waktu lama bagi Allan menemukan keberadaan Nina dan Miss Vanessa.
Berbeda dengan Nina yang sempat melarikan diri Miss Vanessa tidak bisa kemana- mana, selain mengalami lumpuh permanent, miss Vanessa tinggal sebatang kara. Semenjak ia di nyatakan lumpuh perlahan, pria yang harusnya menikahinya meninggalkannya karena tidak ingin memiliki istri yang cacat. Orang tuanya telah meninggal dan ia tak memiliki saudara.
Dari sanalah ia tahu jika dulunya atasan Rena- Allan, dulunya pembuat onar. Merasa bisa menggunakannya untuk balas dendam Nina memanggil wartawan untuk meliput, tentu saja Miss Vanessa awalnya tidak mau ikut andil dalam peliputan berita namun Nina terus mendesaknya. Dan akhirnya berita menjadi heboh seperti sekarang.
Di saat Miss Vanessa di temui di rumahnya, ia takkan mungkin melarikan diri karena ia memang sudah tak bisa melakukan apapun kecuali tidur. Allan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kondisi miss Vanessa yang bahkan di hari persidangan tidak bisa bangun dari tempat tidur.
Akhirnya Allan hanya berbicara dengan Miss Vanessa.
“ Miss Vanessa?” ucap Allan tak percaya jika yang sedang tidur tak berdaya itu adalah guru SD- nya dulu, yang dulu ada di ingatan Allan, Miss Vanessa adalah guru muda yang baru saja di angkat menjadi guru waktu Allan menempuh kelas 2 bangku SD. Guru muda yang cantik, berambut panjang, sedikit pemalu, namun yang dilihatnya kini hanyalah wanita yang tidak bisa melakukan apapun.
“ Allan?” ucap Miss Vanessa lemah.
“ Allan, maafkan Miss, ini bukan keinginan Miss, wanita muda itu yang memaksa, Miss. Miss sudah tidak memiliki apa- apa, Allan, aku mohon ampuni Miss.” ucap Miss Vanessa hanya bisa menangis.
“ Miss tidak salah, Allan yang salah, Miss. Maafkan Allan yang dulu.” Entah apa yang merasuki- nya, ia malah minta maaf pada Miss Vanessa.
“ jangan menangis, Allan. Kau sekarang sudah menjadi seorang yang hebat, hem?” ucap Miss Vanessa tangannya dengan lemah menghapus air mata Allan yang menangis.
“ iya, Miss. Ini berkat anda dan para guru yang mengajar Allan dulu.” ucap Allan.
Setelah berbincang- bincang soal masa lalu dan apa yang dilalui Allan hingga sampai di titik sekarang. Allan memutuskan melepaskan Miss Vanessa, membiayai pengobatan miss Vanessa dan kebutuhan hidup Miss Vanessa. Allan juga berjanji sesekali mengunjungi Miss Vanessa dan mencarika pengobatan untuk mengembalikan syaraf miss Vanessa seperti semula.
Namun ia tetap menuntut Nina karena telah membocorkan masa lalunya. Nina yang tahu jika Miss Vanessa di tangkap ketakutan dan gemetaran, tak butuh waktu lama, jika Miss Vanessa tertangkap ada kemungkinan Nina juga akan tertangkap. Saat di temui di tempatnya mengajar, ia sempat melarikan diri menggunakan Motor- nya. Namun bukan hanya yang dari kepolisian namun juga para pengawal dari pihak Alan pun berusaha menangkap Nina.
Nina yang seorang guru biasa dan tak memiliki relasi apapun tak bertahan lama dalam pengejaran, ia tak berkutik saat ban motornya di tembak yang menyebabkan ia jatuh dan terjungkal dari motornya.
“ ma…, maaf.” ucap Nina terbata di hadapan Allan yang hanya memandang Nina dengan dingin. Namun air mata Nina sepertinya tak mempan untuk Allan.
Nina di tahan sampai Allan memutuskan hukuman apa yang berhak di putuskan untuk Nina, ia akhirnya di tahan di sel pengasingan.
Sel berukuran 1Mx1M tanpa pencahayaan. Tak ada apapun kecuali udara.
Allan masih harus membersihkan namanya dari media dan membayar hacker profesional untuk memusnahkan semuanya dari media internet. 2 bulan lamanya Allan tidak mengunjungi Rena. Allan juga tidak pernah mengucapkan satu- pun kata maaf, meski lewat pesan sekalipun. Alan terus membujuk Allan agar menghubungi Rena, namun Allan selalu berdalih jika ia harus fokus membersihkan namanya, meski dalam hati kecilnya ia begitu merasa bersalah pada Rena. Namun lagi- lagi ego menguasai- nya.