
“ jadi..., katakan padaku sudah berapa bulan?” tanya Emily penasaran.
“ baru 2 minggu, Nona.” ucap Tama sedikit malu- malu.
“ jangan memanggilku, Nona lagi, kau akan menikahi saudara jauh kami, itu berarti kau juga akan menjadi saudara kami.” ucap Emily menangkup tangan Tama.
“ jangan mengganggunya, Em, ia pasti masih terkejut, sampai tadi wajahnya masih memucat.” ucap Rena.
“ Tama, kau istirahatlah dengan kami, kami sudah memesan hotel dekat dari rumah sakit ini.” ungkap Allan.
“ tapi..., “ ucap Tama menggantung.
“ kau tak usah khawatirkan Andre, ia sudah siuman. Ia hanya perlu istirahat, biar kami para pria yang gantian menjaga Andre.” ungkap Ray.
“ ya, lagi pula kau sedang hamil, Tama. Tak baik bagi ibu hamil untuk kelelahan.” ucap Patricia.
“ tapi Aunt, Tama tadi sempat mengalami syok kan? Ada baiknya memeriksa kandungannya di bagian Obygn.” ucap Erick keluar dari ruang periksa Andre.
“ kau benar!” ucap Patricia dan Rena bersamaan.
“ aku menunggu Andre saja.” ucap Tama.
“ kenapa?” tanya Rena.
“ biar bagaimana pun ia adalah ayah dari anak ini, aku ingin melihat perkembangan anak ini dengannya.” ungkap Tama.
“ aku juga ingin melihat sendiri perkembangan anak kandungku, mom.” ucap Andre tiba- tiba.
“ Andre?” ucap semua orang yang melihat Andre yang tampak tertatih menyusul Tama.
“ kau ingin luka operasi mu terbuka lagi? Kau tak sabar menunggu kursi roda ini ya?” ucap Erick datang membawa kursi Roda untuk Andre.
” itu karena aku mendengar Mommy juga Aunt Rena ingin memeriksa kandungan Tama. Aku juga ingin melihat perkembangan calon anakku.” ucap Andre terkekeh.
“ sudahlah! kau! Segera duduk! aku sendiri yang akan mengantar kalian ke dokter obygn.” geram Erick.
**
“ calon bayi kalian sangat sehat dan sesuai perhiungan nona Tama, bayi kalian telah memasuki umur 14 hari.” ucap dokter wanita tersebut.
“ aku benar- benar tak menyangka jika aku akan akan menjadi seorang ayah.” ucap Andre menatap ke layar USG yang menampilkan janin Tama yang memasuki usia 14 hari.
“ apa kau memiliki keluhan nona Tama? Seperti mual atau ngidam di pagi hari?” tanya dokter wanita tersebut.
“ apa jenis kelamin anak saya dok?” tanya Andre masih menatap ke layar.
“ untuk mengetahui jenis kelaminnya anda harus menunggu janin berusia 18-20 minggu dulu.” ucap dokter wanita itu.
” selama itu?” ucap Andre tak terima.
“ tentu saja, kau tak lihat jika ia masih berupa titik kecil.” ucap Tama kesal. Andre tak menjawab, namun wajahnya terlihat sendu. Tama yang melihatnya hanya menarik nafas.
“ kita masih punya waktu, Andre. Lagi pula kau masih harus memulihkan diri dulu.” ucap Tama mengelus rambut ikal Andre.
Andre tak menjawabnya dan hanya mengarahkan tangan Tama untuk di ciuminya.
“ kenapa kau menciumi tanganku?” tanya Tama.
“ apa kau tahu jika aku sangat merindukanmu? Tapi aku tak ingin kau kembali marah kepadaku sehingga ciuman di tangan ini cukup untukku.” ucapan Andre membuat Tama tertawa kecil. Tama lalu menangkup wajah Andre dan mengecupnya.
“ apa ini cukup?” ucap Tama pada Andre yang terdiam karena terkejut.
“ kenapa kau terdiam?” tanya Tama.
“ ak..., aku pikir kau masih marah padaku.” ucap Andre bingung.
“ aku sudah bilang jika aku memaafkanmu, Andre. Apa yang kau lakukan sudah membuktikan jika kau sudah berubah. Lagi pula..” ucap Tama menggantung.
“ lagi pula?” tanya Andre.
“ lagi pula anak ini tetaplah anakmu.” ucap Tama mengelus perutnya.
“ itu jika kau mau bertanggung jawab.” ucap Tama seolah berpikir.
“ tentu saja, tentu saja aku.., terima kasih Tama, terima kasih Tama.” ucap Andre menangkup tangan Tama, reaksi Andre sungguh tak terpikirkan oleh Tama, wanita itu bahkan merasakan jika tangannya terasa basah, melihat punggung Andre yang bergetar, Tama yakin jika pria itu tengah menangis sekarang.
Tama hanya mengelus Andre sambil tersenyum sementara para keluarga yang lainnya hanya menunggu di luar ruangan membiarkan pasangan ini menghabiskan waktu berdua.
0o0