The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
pov Berta, awal bertemunya Berta dengan Emily



Hal yang ku sukai dari LN adalah; kurangnya polusi udara akibat kendaraan bermotor. Kebanyakan orang pasti lebih memilih menggunakan sepeda atau berjalan kaki ketimbang menggunakan kendaraan pribadi.


Sangat jarang ada kendaraan yang melintas, kalaupun ada itu adalah kendaraan umum. Sayangnya, aku tak bisa bersepeda, untuk menggunakan kendaraan umum pun aku belum memiliki uang karena aku belum genap sebulan bekerja.


Ayahku memang memberiku uang saku, namun tak mungkin aku berboros ria di negeri orang sementara aku sendiri tak tahu apakah bisa bertahan disini atau tidak. Jadilah aku memilih berjalan kaki menuju tugas lapanganku dan kembali ke kantor.


Tak apa, udara cukup sejuk dan banyak yang berjalan kaki juga, lagi pula aku bisa sekalian mengecilkan perutku.


‘Oh? Ada taman di dekat lokasi proyek?’ Batinku melihat ada taman di dekat lokasi tugas lapanganku.


‘ kebetulan masih ada waktu dan kurasa aku harus mengistirahatkan kaki ku sebentar.’ batinku berniat istirahat barang sejenak.


Namun niat ingin istirahat berubah kala melihat ada seorang wanita yang sedang melukis di taman. Karena penasaran, aku memilih melihat apa yang di gambarnya.


Lukisan nya istimewa, begitulah menurutku. Ia memiliki gaya melukisnya tersendiri dan aku seolah tersihir akan cara melukisnya.


‘ kurasa aku harus mencoba gaya melukisnya.’ batinku.


“ kenapa kau menatapku seperti itu” ucap wanita itu tia- tiba.


‘ astaga? Apakah ia memiliki mata di punggungnya? Aku bahkan berdiri cukup jauh darinya.’ batinku, atau lebih tepatnya; ucapku. Karena terkejut, apa yang aku pikirkan jadi keluar secara nyata dari mulutku. Ada apa dengan mulutku hari ini? Biasanya aku ini jarang berbicara, kenapa seharian ini mulutku seolah tak memiliki rem?


“ bayanganmu menghalangi Matahari.” apa? Benarkah? Batinku melihat ke arah bayanganku yang ternyata memang melewati gadis itu.


“ maaf, aku hanya tertarik dengan gambarmu.” ucap ku berusaha sesopan mungkin.


“ tak ada yang istimewa dengan gambarku.” ucap wanita itu.


“ memang, tapi tak ada yang lebih berharga dari bisa melakukan apa yang diinginkan.” benar, tak ada yang lebih berharga daripada melakukan apa yang ingin kita lakukan tanpa di setiri orang lain.


“ apa kau tidak bisa melakukan apa yang kau inginkan?” tanya wanita itu.


“ dari dulu, peraturan keluarga ku sangat keras, apa yang kuingini dan kulakukan semuanya di atur, aku sangat suka seni namun ibuku tidak memperbolehkanku masuk ke sekolah seni dan mengharuskanku sekolah di sekolah Negeri.” astaga setelah di ingat lagi kenapa aku malah jadi sedih. Atau mungkin karena hidupku ini memang menyedihkan.


“ namaku, Emily, kau bisa memanggilku; Em.” ucap wanita itu.


“ aku Roberta, wanita keturunan Indonesia, kau bisa memanggilku; Berta.” satu lagi teman yang mau berteman denganku. batinku senang.


“ Indonesia? Mommy ku juga berasal dari Indonesia.” ucap wanita itu.


“ wah? Apa ku bisa berbahasa Indonesia?” tanyaku menggunakan bahasa Indonesia.


“ sedikit.” ucap Em dengan malu. Ia bahkan langsung menggunakan bahasa Indonesia, meski lafalnya sedikit lucu.


“ ngomong- ngomong sedang apa kau disini?” lanjut Em.


“ aku sedang tugas luar. Untuk inspeksi lapangan.” ucapku jujur.


“ oh? Kau bekerja dimana?” tanya Em.


“ Ash- group.” .


“ Ash- Group? Itu perusahaan daddy- ku.” apa? Aku sedang berbicara bahkan berteman dengan putri pemilik sekaligus pendiri direktur utama? Apakah aku harus menunduk? Atau bersikap lebih sopan? Aku takkan di pecat karena bersikap kurang sopankan?


“ benarkah? Kau anak dari pemilik Ash- Group?” tanyaku tak percaya.


“ ya tapi sekarang, adik kembarku yang meneruskannya.” ucap Em.


“ ya, hanya beda 10 menit, tapi aku lebih memilih meneruskan bakatku dari pada meneruskan perusahaan daddy, itu merepotkan.” ucap Em.


“ tak ada yang merepotkan jika kau berusaha. Dan yang pasti Daddy mu pasti senang jika anaknya meneruskan perusahaannya.” membicarakan masalah ayah aku jadi merindukan ayahku.


“ kau benar, tapi daddy memang tak pernah memaksaku untuk meneruskan perusahaannya, ia ingin yang terbaik untuk anak- anaknya dan satu- satunya yang memiliki bakat bisnis sepertinya hanya lah adik kembarku, meski terkadang aku suka membantu adik kembar ku itu.” ucap Em tersenyum. Pasti ayahnya sangat menyayanginya dan semua anak- anaknya, kapan ayahku juga tak membedakanku dengan para saudara laki- lakiku?


“ kau beruntung memiliki orang tua dan keluarga yang menyayangimu.” ucapku sendu.


“ apa orang tuamu tak menyayangimu?” heran Em.


“ ibuku telah tiada, dan aku memang masih memiliki keluarga, namun hubunganku dengan adikku tak begitu baik dan ayahku sekarang memilih untuk menghabiskan masa tua nya di kampung halamannya.” ucapku mengenang.


‘ dan aku lebih banyak tinggal sendiri bahkan sebelum aku berada di LN.’


“ kau hanya memiliki adik?” tanya Emily.


“ aku memiliki kakak laki- laki, namun dia telah menikah dan memiliki keluarganya sendiri, tak mungkin aku merepotkannya dan keluarga kecilnya.” ungkapku.


“ kenapa kau tidak dekat dengan adikmu?” heran Em.


“ entah? Bagaimana pun ia anak bungsu jadi tak heran ia menjadi sedikit egois, terkadang dia memang suka iri ketika aku dekat dengan ayah atau mendiang ibuku.” hanya alasan, aku sendiri tak tahu mengapa adikku seolah menjaga jarak denganku dan meremehkanku.


“ itu tak ada hubungannya, aku juga memiliki adik lainnya selain adik kembarku dan dia tak pernah berbuat semenyebalkan itu padaku.” ungkap Emily tak terima. Ya, mungkin karena adiku itu memang spesies yang istimewa.


“ atau mungkin juga karena kesalahanku di masa lalu?” ungkapku mengingat- ingat.


“ apa itu?” heran Emily.


“ dulu, aku pernah menemukan beberapa berkas dan ratusan Video men to men milik Adikku, karena aku merasa geli aku menghapus semua berkas adikku yang isinya ratusan itu.” ucapku.


Benar, setelah mengingat- ingat lagi, sejujurnya di masa lalu, hubungan ku dan adikku memang merenggang semenjak aku menghapus semua berkas juga ratusan video itu. Apakah itu memang milik adikku? Tak mungkin juga itu milik kakak ku atau ayahku. Ayahku bahkan telah memiliki 3 orang anak dan kakak ku baru saja menjadi seorang ayah. Dan adikku adalah satu- satunya pria di dalam keluargaku yang belum menikah bahkan berkencan.


“ uwah, adikmu menggelikan.” ungkap Emily merinding mendengar kata- kata video men to men yang aku katakan. ia baru mendengar belum melihat langsung berkas- berkasnya, bagaimana dengan aku? Aku saja merasa hal yang lebih dari geli melihat semua video yang isinya hingga ratusan itu.


“ ya, mungkin juga karena itu, ibarat buah simalakama, jika mengadu ia malu, namun jika tak mengadu tentu ia akan kesal setengah mati, folder yang aku hapus hampir ribuan belum video dan sebagainya.” ungkapku duduk di samping Emily.


“ ok, sekarang aku tahu kenapa adikmu membencimu.” ucap Emily masih merasa geli.


“ ngomong- ngomong kau lucu, kau mau berteman denganku?” ungkap Emily. Aku harap ia benar- benar mau berteman denganku dan tidak membully ku.


“ tentu, sayangnya aku harus kembali kekantor, jadi aku akan meninggalkanmu sendiri disini.” ucapku mengalihkan, aku sendiri cukup terkejut melihat jam di tanganku. Aku hanya berniat beristirahat sebentar, bagaimana bisa aku jadi melupakan waktu istirahat ku? Setelah sampai ke kantor aku tidak akan bisa beristirahat karena masih harus membuat laporan.


“ oke, nanti aku akan kekantor dan menyapamu.” ucap Emily melambai pada ku sebelum menuju angkutan umum. aku takkan kuat lagi berjalan di tambah lagi waktu ku sangat mepet jika harus kembali dengan berjalan kaki.


Aku hanya berharap jika aku tak di berhentikan sehingga aku tak perlu lagi berpikir dua kali untuk menggunakan uangku untukmenggunakan angkutan umum. Namun siapa yang menyangka jika aku bukan saja tak di pecat, aku bahkan mendapat kenaikan tingkat? Bahkan ke posisi yang tak pernah terpikir sebelumnya olehku.


😊😊😊😊


suka ga?


kalau suka jangan lupa like dan beri love yang banyak bt author yuk


berikan coment kalian sebagai bentuk dukungan untuk author😀😀😀